Triwulan 3 Pelajaran 2, 2026. 


Download Powerpoint



PENUNTUN GURU


Bagian I: Tinjauan Umum

Ayat Inti: 1 Korintus 1: 18.

Fokus Pelajaran: 1 Kor. 1: 17-31.

Pendahuluan
Saat dihadapkan pada dinding api yang menjulang tinggi di tengah kebakaran hutan, pikiran pertama seseorang mungkin bukanlah untuk menambahkan lebih banyak api ke situasi yang sudah sangat berbahaya tersebut. Meskipun bodohnya tindakan ini kelihatannya, petugas pemadam kebakaran sering melakukan hal itu. Api membutuhkan oksigen dan bahan bakar, seperti vegetasi kering atau struktur yang mudah terbakar, agar tetap menyala. Jika seseorang dapat memutus pasokan oksigen atau pasokan bahan bakar, api dapat dikendalikan. Petugas pemadam kebakaran sering menggunakan teknik ini, yang dikenal sebagai "membakar balik" (backfiring), untuk menghentikan atau mengarahkan kembali api.

Melawan api dengan api tampaknya berlawanan dengan akal sehat, atau bahkan tampak bodoh, ketika dihadapkan pada dinding api yang bergerak cepat, mendorong dengan cepat menuju kota atau pemukiman. Namun, jika dilakukan dengan tepat dan hati-hati, strategi ini dapat membuat perbedaan antara bertahan hidup dan kehancuran oleh api.

Dengan cara yang sama, pengagungan Paulus atas pengorbanan Kristus di kayu salıb bertentangan dengan sentimen pada zamannya. Dalam pengantar surat pertamanya kepada jemaat Korintus, Paulus menyoroti sifat pesan Kristen tentang salib yang berlawanan dengan budaya (countercultural), yang merupakan sesuatu yang sebagian besar dari kita yang hidup dalam konteks Barat, atau Kristen, akan berjuang untuk memahaminya. Sebagian besar dari kita tumbuh di dunia di mana salib di gereja atau di ruang publik lainnya adalah singkatan untuk kekristenan dan pesan keselamatan.

Tetapi salib berarti kematian yang kejam, hukuman berat, dan rasa malu yang mutlak bagi kebanyakan orang yang hidup di dunia Yunani-Romawi abad pertama Masehi. Namun, bertentangan dengan pemikiran populer pada masa itu, Paulus mengajarkan bahwa Injil Yesus Kristus adalah kekuatan Allah bagi mereka yang menerimanya (1 Kor. 1: 18).

Tema Pelajaran
Pelajaran pekan ini menyoroti sejumlah tema penting, termasuk:
1. Pesan Salib. Salib adalah jawaban Allah yang mengejutkan dan mencakup segalanya atas masalah dosa. Ini adalah dasar dari pesan Injil yang diberitakan oleh Paulus dan para rasul lainnya kepada dunia yang memiliki pandangan dunia yang sangat berbeda.
2. Hikmat Sejati. Hikmat adalah elemen penting dari filsafat Yunani dan topik utama dalam aliran-aliran filosofis yang berbeda. Penggunaan istilah ini oleh Paulus sangat kontras dengan penggunaannya dalam filsafat Yunani dan terhubung lebih mudah dengan pemahaman tentang hikmat dalam Perjanjian Lama.
3. Salib: Kebodohan atau Jalan Pulang. Salib menjadi batu sandungan atau kebodohan bagi mereka yang mendengarnya tanpa memeluk Dia yang tergantung di sana. Yesus mati di kayu salib untuk menawarkan pengampunan, kasih karunia yang mengubahkan, dan jalan pulang kepada Allah yang menginvestasikan segalanya untuk menyelamatkan ciptaan-Nya yang jatuh.

Bagian II: Komentar

1. Latar Belakang: Konsep hikmat (sofia) Helenistik pada periode Perjanjian Baru menekankan kecerdasan dan pengetahuan teoretis di atas keterampilan praktis. Seorang filsuf adalah "pencinta kebijaksanaan/hikmat," seseorang yang memahami dan menyebarkan pengetahuan tentang dunia alam dan pengalaman manusia. Kebenaran dapat diurutkan ke dalam sistem umum yang dapat membantu menjelaskan dunia. Ada cukup banyak aliran filosofis Yunani yang ber-beda, dengan penekanan yang berbeda, ada selama waktu itu, tetapi semuanya berfokus pada pengamatan, akal, logika, dan argumen intelektual, meskipun mereka tidak luput dari keprihatinan etis.

Enam aliran filosofis Yunani-Romawi utama harus dibedakan, termasuk aliran Pythagoras; aliran Plato dan para penerusnya; aliran peripatetik Aristoteles; aliran Epikuros yang menekankan ketenangan (imperturbability) sebagai cita-cita; kaum Sinis (menekankan kesederhanaan dan kebebasan dari konvensi masyarakat); dan aliran kaum Stoa, yang selama masa peristiwa Perjanjian Baru, dikenal sebagai Stoisisme Romawi (atau Stoa Akhir) dan menjadi aliran filsafat yang paling berpengaruh selama waktu itu (lihat John T. Fitzgerald, "Greco-Roman Philosophical Schools," dalam The World of the New Testament, ed. Joel B. Green dan Lee Martin McDonald [Grand Rapids: Baker Academic, 2013], hlm. 135-148).

Dalam Perjanjian Lama, hikmat tidak terbatas pada pengetahuan, atau integrasi pengetahuan ke dalam sistem yang koheren, melainkan menggambarkan kemampuan seseorang untuk menggunakan pengetahuan secara benar yang berhubungan secara relasional dengan Allah. Pengetahuan ini, dengan demikian, diberikan oleh Allah dan menghasilkan pengambilan keputusan etis (yaitu, "baik," yang menggemakan bahasa Penciptaan). Keluaran 31: 1-5 menggunakan tiga istilah kunci bahasa hikmat (hokmah, "hikmat," binah, "kecerdasan/peng-ertian," dan da' at, "pengetahuan") untuk menggambarkan keterampilan yang diberikan secara Ilahi yang dibutuhkan seniman Bezaleel untuk membuat kemah suci dan perabotan-perabotannya. Penggunaan istilah-istilah ini dalam konteks khusus ini membantu kita untuk memahami bahwa hikmat dalam Perjanjian Lama adalah praktis dan melampaui sekadar upaya intelektual.

Para penulis Perjanjian Lama mengajukan pertanyaan besar tentang keadilan Allah dan bagaimana manusia dapat memperoleh hikmat sejati, meskipun mereka menyadari bahwa tidak semua pertanyaan kita, maupun pencarian kita akan hikmat, akan selalu mengarah pada jawaban yang jelas (misalnya, Ams. 20: 24; Ayb. 28: 20, 21). Sastra hikmat dalam Perjanjian Lama mencakup kitab Ayub, Amsal, Pengkhotbah, dan mazmur hikmat pilihan (misalnya, Mazmur 37, Mazmur 49, Mazmur 73).

Penemuan korpus sastra hikmat yang signifikan, yang menekankan pengetahuan di antara tulisan-tulisan dari komunitas Khirbet Qumran pada abad pertama SM (juga dikenal sebagai Gulungan Laut Mati), menyoroti fakta bahwa diskusi tentang hikmat merupakan elemen penting dari diskusi intelektual dan filosofis di antara komunitas Yahudi, sebelum kedatangan Mesias di Palestina (lihat J.I. Kampen, "Wisdom Literature at Qumran," dalam Dictionary of New Testament Background: A Compendium of Contemporary Biblical Scholarship, ed. C.A. Evans dan Stanley E. Porter [Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 2000], hlm. 1.263-1.268).

2. Kebodohan dan Hikmat: Menyusul salam pembuka, ucapan syukur, dan nasihatnya untuk persatuan, Paulus memulai pesannya kepada gereja muda di Korintus dengan berfokus pada kebodohan dan hikmat. 1 Korintus 1: 18-31 adalah titik puncak retoris Perjanjian Baru. Pernyataan tesis Paulus kepada jemaat Korintus menyarankan bahwa Injil adalah kebodohan bagi sebagian orang, sementara itu mewakili kekuatan Allah yang menyelamatkan bagi orang lain (1 Kor. 1: 18). Paradoks ini signifikan, karena menyarankan; dan sebagaimana ditunjukkan Paulus dalam pasal-pasal berikutnya, kelemahan manusia sebenarnya adalah kesempatan bagi Allah untuk menunjukkan kekuatan-Nya.

Sisa dari perikop ini menawarkan sejumlah kontras antara bijaksana dan bodoh, Allah dan dunia, kuat dan lemah. Salib, alat penyiksaan dan kematian Romawi yang kejam, telah menjadi sarana yang dengannya Allah menyelesaikan keselamatan. Argumen ini, yang mendasari semua khotbah Paulus dan gereja Kristen mula-mula, pasti terasa berlawanan dengan budaya dan paradoks bagi banyak orang percaya dari bangsa lain yang baru bertobat. "Pemberitaan tentang salib" (1 Kor. 1: 18) adalah singkatan untuk pesan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, yang menawarkan keselamatan bagi mereka yang telah mendengar dan percaya pada firman itu. Kita mendapatkan petunjuk tentang rasa kebodohan yang akan dirasakan oleh audiens Yunani-Romawi mana pun dalam pesan ini: bagaimana Tuhan dapat menyelamatkan orang (dan dunia) melalui kematian seorang penjahat terpidana yang disalibkan? Orang Yahudi, di sisi lain, akan menganggap pesan ini sebagai "batu sandungan" , atau bahasa Yunaninya skandalon, sebagaimana dicatat dalam 1 Korintus 1: 23. Batu sandungan ini, di satu sisi, atau kebodohan, di sisi lain, merujuk secara metaforis pada penghalang bagi iman seseorang.

3. Kabar Baik tentang Salib: Sejak awal, Paulus berargumen bahwa pesan salib adalah kekuatan Allah bagi mereka yang diselamatkan. Salib menawarkan kepada orang percaya kunci untuk memahami hikmat Allah dalam menawarkan keselamatan kepada mereka yang tidak layak menerima kebenaran dan juga tidak akan pernah bisa mencapainya. Salib juga lebih dari sekadar tanda atau simbol, meskipun orang Yahudi tidak mengakuinya demikian, walau mereka rindu melihat tanda-tanda ajaib (Mat. 12: 38, 39; Mrk. 8: 11, 12; juga 1 Kor. 1: 22). Keinginan untuk melihat tanda dan mukjizat mencerminkan kebutaan rohani dasar, dan mungkin bahkan kekerasan hati, oleh mereka yang "menuntut" (bukan "meminta") hal-hal tersebut. Injil Kristus yang disalibkan dan bangkit tidak memunculkan iman pada orang Yahudi atau orang Yunani tetapi, sebalik-nya, bagi mereka menjadi "batu sandungan" atau "kebodohan" . Paulus merang- kum kenyataan ini dalam 1 Korintus 1: 25: "Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia."

Pernyataan ini menuntun Paulus ke pernyataan penting berikutnya: Pemilihan Allah atas mereka yang membentuk jemaat di Korintus tidak didasarkan pada hikmat mereka atau kekuatan dan pengaruh mereka, tetapi semata-mata pada kedaulatan Allah (1 Kor. 1: 26-29). Pilihan Allah tidak pernah didasarkan pada pencapaian, kekuasaan, atau pengaruh manusia tetapi terjadi sebagai tanggapan atas kita yang memegang tangan Yesus dengan iman. Kadang-kadang kita dapat memegang seluruh tangan-Nya, sementara di lain waktu kita hampir tidak berhasil berpegang pada ujung jari kelingking tangan-Nya—namun, yakinlah, kita dapat percaya bahwa kita berada di pusat kasih karunia Allah. Pengetahuan ini, menurut Paulus, juga menyelamatkan kita dari memegahkan diri tentang "penca-paian iman" kita sendiri. Dan "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan" (1 Kor. 1: 31, merujuk pada Yer. 9: 23, 24). Secara menarik (dan mungkin sudah diantisipasi dalam personifikasi hikmat dalam Amsal 8 di Perjanjian Lama), Yesus Kristus adalah hikmat yang dipersonifikasikan dari Allah, kebenaran, pengudusan, dan penebusan-Nya (1 Kor. 1: 30).

Bagian III: Penerapan Hidup

Hikmat dan kebodohan ditemukan terkait erat dalam pasal pembuka Paulus kepada jemaat di Korintus. la membantu para pembacanya memahami bahwa "hikmat manusia tidak dapat menuntun pada pengetahuan yang menyelamatkan tentang Allah yang benar, yang hanya tersedia melalui kebodohan Injil (ay. 21)"-"1 Corinthians" dalam Andrews Bible Commentary, ed. Angel Manuel Rodriguez et al. (Berrien Springs, MI: Andrews University Press, 2022), hlm. 1.620. Diskusikan dengan kelompok Anda pertanyaan-pertanyaan berikut saat Anda mempertimbangkan 1 Korintus 1: 17-31:

1. Apakah yang bisa menjadi batu sandungan bagi iman kita, meskipun kita memiliki keuntungan karena dapat melihat kembali sejarah gereja selama hampir dua ribu tahun dan sejarah penafsiran Alkitab?
2. Apakah argumen terbaik untuk disampaikan kepada mereka yang menganggap pesan Injil itu bodoh atau hanya sebagai "obat penenang bagi orang bodoh"?
3. Aspek apakah, atau aspek-aspek apakah, dari Kabar Baik tentang salib yang akan menarik bagi orang-orang di komunitas Anda, di luar gereja?Apakah yang akan membuat menerima Injil lebih sulit bagi mereka?



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp