Triwulan 3 Pelajaran 2, 2026.
Paulus menulis bahwa "orang Yahudi menghendaki tanda dan orang Yunani mencari hikmat" (1 Kor. 1: 22). Salib—gagasan tentang Allah, Sang Mesias, yang disalibkan—bukanlah tanda yang diharapkan oleh orang Yahudi. Juga bukan jenis hikmat yang diinginkan oleh orang Yunani. Hal itu bertentangan dengan harapan semua orang.
Faktanya, yang perlu dilakukan hanyalah membaca bagaimana reaksi para murid terhadap gagasan Yesus disalibkan (lihat Mrk. 8: 31, 32; Mrk. 9: 30–32; dan Mrk. 10: 32–34) untuk mulai melihat betapa asing, dan menjijikkan, seluruh gagasan itu, terutama bagi orang Yahudi. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, orang Yahudi mengharapkan Mesias untuk menaklukkan orang Romawi; bukan itu yang terjadi, setidaknya tidak dalam arti militer duniawi dari kata "menaklukkan".
Selama berabad-abad, Salib telah menjadi simbol iman bagi orang Kristen. Sulit bagi orang Kristen abad ke-21 untuk memahami betapa gilanya gagasan tentang Allah yang disalibkan bagi pola pikir Korintus abad pertama.
Namun, justru karena ini adalah pekabaran yang sangat mengejutkan, hal itu menjadikannya layak untuk mendapatkan refleksi kita yang paling mendalam. Gambaran tentang Mesias yang disalibkan membuatnya menjadi sangat jelas bagi seluruh alam semesta sejauh mana Allah bersedia melangkah untuk menyelesaikan rencana penebusan. Gagasan tentang salib itu sendiri, dan tentang Tuhan yang mati di kayu salib, cukup mencengangkan bagi kita, orang-orang berdosa di bumi ini. (Namun, bayangkan apa artinya bagi makhluk-makhluk tak berdosa yang mengenal, dan menyembah, Tuhan Yesus di surga!)
Bacalah Kisah Para Rasul 13: 16–47 (khususnya ayat 26, 38, dan 47). Apakah yang diajarkan perikop ini kepada kita tentang makna Salib?
Paulus berkata bahwa Kristus mengutusnya untuk memberitakan Injil. Maka Paulus pun memberitakan pekabaran tentang Mesias yang disalibkan (1 Kor. 1: 23). Ia melanjutkan gagasan ini dalam 1 Korintus 2: 1–5. Sang rasul setia pada perintah Kristus. Dalam memberitakan Injil, ia tidak menggunakan "kata-kata yang indah atau hikmat" (1 Kor. 2: 1); sebaliknya, ia hanya berfokus pada "Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan" (1 Kor. 2: 2). Perkataan dan pesannya "bukan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh" (1 Kor. 2: 4) karena, pada kenyataannya, "hikmat manusia" berdiri dalam kontras yang nyata dengan "kekuatan Allah" (1 Kor. 2: 5).
Seorang Mesias yang disalibkan adalah sesuatu yang sama sekali tidak terduga oleh orang Yahudi dan Yunani. Apakah yang hal ini katakan kepada kita tentang fakta bahwa Allah tidak selalu bertindak sesuai dengan cara yang kita harapkan? Mengapa ini merupakan konsep penting untuk dipahami, terutama ketika segala sesuatu tidak berjalan seperti yang kita harapkan?
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat