Triwulan 3 Pelajaran 2, 2026.
Dalam membandingkan kebodohan manusia dengan hikmat Ilahi, Paulus menyatakan bahwa "pemberitaan salib adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa" (1 Kor. 1: 18). Ini adalah yang pertama dari enam rujukan tentang kebodohan atau bodoh dalam 1 Korintus 1: 18–31.
Bacalah 1 Korintus 1: 20, 21, 23, 25, dan 27. Bagaimanakah rujukan-rujukan tentang kebodohan ini membantu kita memahami apa yang dimaksudkan Paulus ketika mengatakan bahwa pekabaran Salib adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa?
Kata Yunani untuk kebodohan dalam 1 Korintus 1: 18 adalah mōria. Kata ini hanya muncul lima kali dalam Perjanjian Baru, dan semuanya ada di 1 Korintus (1 Kor. 1: 18, 21, 23; 1 Kor. 2: 14; 1 Kor. 3: 19). Kata ini dan kata-kata lain dari rumpun yang sama muncul berkali-kali dalam Perjanjian Baru, dan setengahnya ada dalam surat-surat Paulus. Sebagian besar kemunculan rumpun kata ini di dalam Perjanjian Baru ditemukan di 1 Korintus.
Kebodohan yang dibicarakan Paulus dalam 1 Korintus 1: 18, 23 tidak terlalu berkaitan dengan kelangkaan intelektual, melainkan dengan perilaku dan pemikiran yang tidak bermoral, dengan kurangnya kearifan, dan bahkan dengan pemberontakan terhadap Allah. Inilah alasannya mengapa ia begitu banyak berbicara tentang topik ini di seluruh kitab 1 Korintus.
Pikirkan situasi Paulus di kota ini. Ia datang ke suatu tempat yang bangga dengan apa yang disebut pengetahuan dan hikmatnya sendiri serta kecanggihan budayanya. Dan, dalam konteks ini, ia berbicara tentang seorang Yahudi dari Galilea, Yesus dari Nazaret, yang telah disalibkan oleh orang Romawi, dan kemudian dibangkitkan dari antara orang mati—semuanya untuk membayar bukan hanya dosa-dosa mereka tetapi juga dosa-dosa seluruh dunia. Mungkinkah orang ini serius? Siapa yang sedang ia bohongi? Ini juga bukan konsep filosofis baru yang mendalam, yang dapat dianalisis dengan perangkat filosofis; ini tampak seperti kegilaan, omong kosong, sesuatu yang tidak mungkin dianggap serius oleh orang Korintus yang cerdas dan terpelajar.
Dan, sebodoh apa pun pekabaran Paulus terdengar bagi orang-orang kafir, bagi banyak orang Yahudi pekabaran Salib terdengar lebih buruk lagi. Orang Yahudi mana yang mengharapkan Mesias dieksekusi oleh Roma? Mesias seharusnya menggulingkan orang Romawi, bukan disalibkan oleh mereka.
Jadi, sejak awal, Paulus menghadapi banyak tantangan di Korintus. Namun, terlepas dari semua ini, jiwa-jiwa—baik Yahudi maupun non-Yahudi—dimenangkan bagi Injil.
Apa pesannya di sini? Apa pun pertentangan yang kita hadapi, Allah memiliki orang-orang yang terbuka untuk mendengar kebenaran. Kita harus siap untuk digunakan oleh-Nya untuk menjangkau orang-orang ini di mana pun mereka berada, bahkan di tempat-tempat yang saat ini sama buruknya, atau bahkan lebih buruk, daripada Korintus.
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat