Triwulan 3 Pelajaran 2, 2026.
Dalam 1 Korintus 1: 19, 20, 30, dan 31, Paulus berbicara tentang bagaimana hikmat Allah dan hikmat manusia sangat berbeda dan, oleh karena itu, saling bertentangan. Perhatikan bahwa Paulus tidak menolak hikmat itu sendiri, tetapi ia menolak jenis hikmat manusia yang mencoba bersaing dengan Allah. Hikmat manusia tidak mampu membebaskan kita dari hikmat manusia. Hanya Kristus, hikmat Allah, yang dapat melakukan pekerjaan ini. Lihat tabel di bawah ini.
| tetapi bagi kita yang diselamatkan | [pekabaran salib] adalah kekuatan Allah |
| tetapi bagi mereka yang dipanggil | Kristus [adalah] kekuatan Allah |
| 1 Kor. 1: 18 (NKJV) | 1 Kor. 1: 24 (NKJV) |
Baik 1 Korintus 1: 18 maupun 1 Korintus 1: 24 menunjukkan bahwa Kristus adalah kekuatan Allah, dalam arti bahwa Ia memiliki kuasa untuk menyelamatkan orang dari dosa-dosa mereka. Memang, "oleh kebodohan pemberitaan Injil, [Allah] berkenan menyelamatkan mereka yang percaya" (1 Kor. 1: 21). Frasa "kita yang diselamatkan" (1 Kor. 1: 18), "mereka yang percaya" (1 Kor. 1: 21), dan "mereka yang dipanggil" (1 Kor. 1: 24) merujuk pada kelompok yang sama, yaitu orang-orang yang menjalani pengalaman keselamatan melalui iman. "Injil Kristus ... adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya" (Rm. 1: 16).
Kristus bukan hanya kekuatan tetapi juga hikmat Allah. Ini berarti bahwa melalui Dia, Allah menghadapi dan memecahkan masalah dosa, sebuah masalah yang tidak dapat dipecahkan oleh hikmat manusia. Hikmat dunia ini tidak mampu membuat orang mengenal Allah (1 Kor. 1: 21). Sebaliknya, melalui Kristus kita menjadi berhikmat untuk beroleh selamat (2 Tim. 3: 15).
Bacalah 1 Korintus 1: 24–29. Perhatikan kata-kata di sana, seperti "kebodohan", "lemah", "kuasa", dan "bijak". Poin apakah yang sedang ia sampaikan?
Dalam membaca 1 Korintus 1: 24–29, kita juga harus memperhatikan istilah bodoh (atau kebodohan) dan lemah (atau kelemahan). Intinya adalah bahwa hikmat manusia mungkin menganggap pekabaran Salib sebagai kebodohan dan kelemahan. Namun, "yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia" (1 Kor. 1: 25). Ini tidak berarti bahwa Allah itu lemah atau bodoh, tetapi ini hanyalah sebuah ungkapan yang menunjukkan bagaimana kuasa dan hikmat Allah jauh melebihi apa pun yang berasal dari manusia.
Renungkanlah kata-kata "bahwa tidak banyak orang yang bijak menurut ukuran manusia, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang, yang dipanggil" (1 Kor. 1: 26). Pesan apakah yang ada di sana untuk kita?
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat