Triwulan 3 Pelajaran 2, 2026. 


Download Powerpoint




Minggu, 5 Juli 2026.

Injil Salib


Paulus berkata bahwa pekabaran Salib adalah kekuatan Allah bagi kita. Tidak mengherankan jika "Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan" adalah pusat dari khotbahnya (1 Kor. 2: 2).

Bacalah 1 Korintus 1: 17–31. Poin penting apakah yang disampaikan Paulus di sini?

Dalam 1 Korintus 1: 18–31, Paulus membahas pertentangan antara kebodohan manusia dan hikmat Ilahi. Salib memiliki kuasa untuk menunjukkan yang terburuk dari manusia dan yang terbaik dari Allah. Bagian dari 1 Korintus ini diperkenalkan oleh pernyataan dalam 1 Korintus 1: 17. Karena Salib Kristus tidak boleh dipisahkan dari kuasanya (1 Kor. 1: 17), pekabaran Salib harus menempati tempat sentral dalam khotbah kita (lihat juga 1 Kor. 2: 2).

Paulus berkata bahwa ia diutus bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil Salib. Pernyataan ini memerlukan dua pengamatan penting. Pertama, kata kerja Yunani yang diterjemahkan sebagai "mengutus" adalah apostellō, yang berasal dari akar kata yang sama dengan kata rasul. Jadi, tugas mendasar kerasulan Paulus adalah pemberitaan Injil. Kedua, perkataan Paulus tentang baptisan tidak berarti bahwa baptisan itu tidak penting, atau setidaknya tidak sepenting pemberitaan Injil. Sebaliknya, ia sedang menegur mereka yang mempermasalahkan siapa yang melakukan pembaptisan, bukannya berfokus pada Pribadi, yaitu Yesus, yang ke dalam nama-Nya mereka telah dibaptis.

Dengan "hikmat perkataan" (1 Kor. 1: 17), Paulus menyiratkan bahwa pidato yang fasih itu buruk dengan sendirinya. Intinya adalah bahwa hikmat manusia tidak dapat mengaburkan pekabaran Salib. Frasa ini mengacu pada retorika Yunani-Romawi. Di Atena, Paulus menggunakan logika, ilmu pengetahuan, dan filsafat, tetapi ini hanya menghasilkan sedikit buah. Jadi, "ia mengambil keputusan untuk mengikuti rencana pekerjaan yang lain di Korintus dalam usahanya untuk menarik perhatian orang-orang yang tidak memperhatikan dan bersikap acuh tak acuh. Ia mengambil keputusan untuk menghindarkan perbantahan dan perbincangan yang rumit dan 'tidak mengetahui apa-apa' di antara orang Korintus 'selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan'"—Ellen G. White, Kisah Para Rasul (1999), hlm. 244.

Dalam hal apa sajakah ceramah yang rumit dapat mengaburkan pekabaran Salib? Mengapa pemberitaan tentang Yesus Kristus dan Dia yang disalibkan menghasilkan lebih banyak buah di Korintus daripada logika, ilmu pengetahuan, dan filsafat di Atena? Namun, mungkinkah ada saat-saat di mana logika, filsafat, dan ilmu pengetahuan dapat membantu dalam memberitakan Injil?



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp