Triwulan 3 Pelajaran 2, 2026.
Bacalah tulisan Ellen G. White, "Golgota", dalam buku Kerinduan Segala Zaman (1999), jld. 2, hlm. 391–409.
"Kepada pikiran orang-orang banyak yang hidup pada waktu sekarang, salib di Kalvari dikelilingi oleh pikiran-pikiran yang suci. Pergaulan yang disucikan dihubungkan dengan pemandangan penyaliban. Pada zaman Paulus salib itu dipandang dengan perasaan menjijikkan dan ketakutan. Untuk menjunjung tinggi Juruselamat manusia, seorang yang telah menemui kematian di kayu salib, akan dengan sendirinya menimbulkan tertawaan dan pertentangan.
"Paulus mengetahui bahwa pekabarannya akan dianggap oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani di Korintus. … Di antara pendengar-pendengarnya yang bukan Yahudi ada banyak yang akan menjadi marah oleh pekabaran yang hampir akan dimasyhurkannya. Dalam penilaian orang-orang Yunani perkataan akan dianggap bodoh semata-mata. Ia akan dianggap sebagai lemah pikirannya untuk mencoba menunjukkan bagaimana salib mempunyai sesuatu hubungan dengan yang ditinggikan bangsa itu atau demi keselamatan manusia.
"Tetapi kepada Paulus salib itu adalah tujuan utama. Sejak ia ditawan dalam pekerjaannya dalam menganiaya pengikut-pengikut orang Nazaret yang disalibkan ia tidak pernah berhenti untuk memuliakan salib. Pada waktu itu telah diberikan kepadanya suatu kenyataan tentang kasih Allah yang tak terbatas, sebagaimana dinyatakan dalam kematian Kristus; dan suatu perubahan hati mengherankan telah dikerjakan dalam hidupnya, membawa semua rencana dan maksudnya selaras dengan surga. Sejak itu ia adalah seorang yang baru dalam Kristus. Ia mengetahui oleh pengalaman pribadi bahwa bila orang berdosa sekali memandang kasih Allah, sebagaimana yang kelihatan dalam pengorbanan Anak-Nya, dan menyerahkan diri kepada pengaruh Ilahi, suatu perubahan hati terjadi, dan mulai saat itu Kristus menjadi segala perkara dan dalam segala perkara"—Ellen G. White, Kisah Para Rasul (1999), hlm. 207.
Pertanyaan-Pertanyaan untuk Diskusi:
1. Di Taman Getsemani, Yesus berkata, "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku" (Mat. 26: 39). Apakah yang dikatakan doa ini tentang harga yang sangat mahal yang dibayar Yesus di kayu salib?
2. Paulus berkata, "Yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia" (1 Kor. 1: 25). Dalam hal apa sajakah hikmat Allah begitu berbeda dari hikmat manusia?
3. Pekabaran tentang Kristus yang disalibkan adalah batu sandungan bagi orang Yahudi dan kebodohan bagi orang Yunani. Tema-tema Alkitabiah apa yang kita khotbahkan hari ini yang dapat menghasilkan efek yang sama pada audiens modern, dan mengapa?
4. Paulus berkata bahwa "manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah" (1 Kor. 2: 14). Jadi, bagaimanakah kita dapat berbicara tentang Yesus kepada orang-orang ini dengan cara yang dapat menyentuh hati mereka? Atau mungkinkah tindakan kita saja yang akan menjangkau mereka?
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat