Triwulan 2 Pelajaran 9, 2026.
Ayat Inti: Matius 5: 17, 18.
Fokus Pelajaran: Mzm. 119: 93, 94; Pkh. 7: 29; Mat. 7: 24-29; Rm.3: 20.
Dikisahkan tentang dua anak laki-laki kembar yang belajar sejak kecil bahwa semua kesenangan adalah dosa. Semua tindakan mereka dibatasi oleh aturan yang ketat: jangan baca kitab ini, karena itu dosa; jangan makan makanan itu, karena itu dosa; jangan tertawa, karena itu dosa; jangan pergi ke tempat itu, karena itu dosa.
Ketika kedua anak laki-laki ini beranjak dewasa, jalan hidup mereka berbeda. Salah satu saudara laki-laki itu memiliki rasa takut yang besar terhadap hal-hal yang terlarang dan hampir tidak berani keluar rumah, karena takut bersentuhan dengan pengaruh yang mencemari moral dan fisiknya. la bahkan takut membuka jendela kamarnya, dan tidak berani makan banyak-banyak hasil bumi yang dijual di pasar. Ia akhirnya meninggal muda karena terlalu berpantang.
Namun, saudara laki-lakinya yang lain menderita masalah yang berlawanan. la mengembangkan ketertarikan yang kuat pada hal-hal terlarang. la mencoba narkoba, minum alkohol secara berlebihan, dan sering mengunjungi berbagai kasino dan tempat hiburan malam yang kumuh. Ia menumbuhkan selera yang kuat terhadap makanan-makanan terlarang. Tak lama kemudian, pemuda itu jatuh sakit dan meninggal karena terlalu banyak minum.
Apakah pendidikan yang diterima anak-anak itu sangat salah? Lagi pula, bukankah kita seharusnya berusaha sebaik mungkin untuk menghindari dosa? Yang pada dasarnya salah dengan pendidikan mereka adalah mereka tidak pernah mempelajari apa sebenarnya dosa itu. Mereka juga tidak mengerti mengapa dosa itu jahat; oleh karena itu, mereka tidak diperlengkapi untuk melawannya. Dalam pelajaran ini, kita akan membahas apa itu dosa dan bagaimana cara mengatasinya.
Apa Itu Dosa, dan Mengapa Dosa Itu Jahat?
Gagal Mengidentifikasi Dosa. Ketika kita gagal menyebut dosa sesuai namanya, kita menambah masalah dosa itu sendiri. Misalnya, jika kita gagal menyebut perzinaan sebagai dosa, kita berisiko meremehkan ancamannya dan, lebih buruk lagi, menormalkannya.
Masalah kegagalan menyebut dosa dengan namanya sendiri sangat merajalela di banyak budaya saat ini. Dalam masyarakat sekuler, kita mungkin menghindari penggunaan istilah "dosa" karena sejumlah alasan. Pertama, masyarakat sekuler mungkin menghindari istilah "dosa" karena memiliki konotasi religius. Bagi kebanyakan orang, dosa tidak ada; dosa menyiratkan sesuatu yang dilarang oleh Tuhan atau agama. Bagi kebanyakan orang yang tidak percaya kepada Tuhan dan tidak mematuhi standar moral agama, dosa tidak ada. Mereka berbicara tentang kesalahan, kejahatan, perilaku etis atau sosial yang salah, tetapi bukan tentang "dosa" . Dari perspektif mereka, pembahasan tentang dosa, oleh karena itu, tidak relevan atau bahkan dianggap sebagai serangan terhadap kebebasan mereka. Namun, salah satu konsekuensi buruk dari penolakan kita untuk mengakui dosa adalah tetap mengabaikan kejahatan. Oleh karena itu, bagi orang seku-ler, motivasi untuk tidak melakukan "kesalahan" bukanlah karena kesalahan itu buruk atau jahat; melainkan, tindakan tersebut hanyalah masalah pertimbangan sosial, atau kewarganegaraan. Orang sekuler tidak tahu bahwa mereka berdosa, karena mereka tidak memiliki pengetahuan tentang apa yang Kitab Suci sebut "takut akan Tuhan"
Ketika Abraham pergi ke negeri asing, ia khawatir akan diperlakukan dengan buruk karena penduduk di sana tidak memiliki rasa takut akan Allah (Kej. 20: 11) yang menguasai hati mereka. Oleh karena itu, konsep "dosa" terasa asing bagi mereka. Namun, hanya karena konsep itu asing bagi mereka, bukan berarti mereka yang mengabaikan dosa tidak bertanggung jawab atas dosa-dosa mereka. Sekalipun mereka yang tidak menyadari dosa-dosa mereka tidak percaya kepada Allah Israel, Allah yang sama ini akan menghakimi mereka, sama pastinya seperti la akan menghakimi umat-Nya (Am. 1: 2). Bagi mereka yang tahu bahwa mereka "berdosa" namun menolak untuk mengakuinya, tetapi mengatakan bahwa mereka tidak berdosa, Allah berjanji bahwa la akan membela mereka (Yer. 2: 35).
Dosa sebagai Sebuah Penyimpangan. Kata Ibrani untuk dosa kht' secara harfiah berarti "meleset dari sasaran" . "Dosa" dipahami sebagai "penyim- pangan" atau "distorsi" dari jalan "lurus" yang semula. Pengkhotbah menggambarkan kondisi manusia sebagai "bengkok" yang tragis; tidak dapat diperbaiki: "Yang bongkok tak dapat diluruskan, dan yang tidak ada tak dapat dihitung" (Pkh. 1: 15). Karena alasan ini, tindakan melakukan "dosa" dikaitkan dengan masalah "melupakan", merujuk pada situasi masa lalu yang tak tergantıkan, yang telah hılang seırıng berjalannya waktu. Oleh karena itu, terdapat banyak ayat Kitab Suci di mana sang nabi mendesak umat Allah untuk tidak lupa, agar mereka tidak jatuh ke dalam dosa tanpa disadari (Ul. 6: 12; 32: 18; bandingkan dengan Yakobus 1: 24).
Dosa Melawan Allah. Di Israel kuno, dosa adalah tindakan keagamaan yang secara langsung berkaitan dengan Allah, misalnya penyembahan berhala (UI. 9: 16) atau ketidaktaatan kepada Allah (Ul. 1: 41). Ketidakadilan, atau perilaku etis yang salah terhadap manusia, juga dianggap dosa terhadap Allah.
Ketika Yusuf menolak rayuan nafsu istri Potifar, yang mencoba membujuknya untuk tidur dengannya, ia menganggap ajakan istri Potifar bukan hanya sebagai kejahatan terhadap suaminya, tetapi juga sebagai dosa terhadap Tuhan (Kej. 39: 9). Ketika Daud berzina terhadap Batsyeba dan membunuh suami Batsyeba, Uria orang Het, ia kemudian menyadari bahwa dengan berbuat demi-kian, ia telah berdosa terhadap Tuhan (2 Sam. 12: 13).
Kemudian dalam sejarah Perjanjian Lama, para nabi menegur bangsa-bangsa dan Israel karena melakukan kejahatan kekerasan dan tindakan tidak etis yang merugikan orang lain (Amos 1: 11; 2: 6-8). Mikha bahkan sampai menekankan keunggulan kewajiban etis atas ritual keagamaan (Mikha 6: 6-8).
Perjanjian Baru melanjutkan alur yang sama. Bagi Yesus, jika kita berdosa terhadap sesama atau tidak memperhatikan mereka, itu sama seperti kita berdosa terhadap atau mengabaikan Dia (Mat. 25: 45). Bagi Paulus, ketika Anda berdosa terhadap saudara-saudara Anda, "berdosa terhadap Kristus" (1 Kor. 8: 12). Bahkan ketika kita berdosa terhadap diri kita sendiri dalam tubuh kita sendiri, kita berdosa terhadap Allah. Kebalikannya juga benar: dosa pertama yang dilakukan Adam terhadap Allah berdampak pada kehidupannya dan lingkungannya (Kej. 3: 17-19). Dosa adalah penyebab kematian bagi semua manusia (Kej. 2: 17), sebuah prinsip yang akan diulang berkali-kali dalam Kitab Suci (Ams. 8:36, Yeh. 18: 4, Rm. 5: 12). Karena tubuh kita adalah bait Roh Kudus, berdosa terhadap tubuh kita berarti berdosa terhadap Allah (1 Kor. 6: 18, 19).
Bagaimana Kita Dapat Melawan Dosa?
Pengetahuan tentang Dosa. Kita tidak dapat berbuat apa pun melawan dosa dengan kekuatan kita sendiri. Oleh karena itu, solusi pertama untuk masalah ini hanyalah mengenali dosa dan mengakui bahwa hakikatnya adalah jahat. Untuk tujuan itu, kita membutuhkan hukum Allah. Karena hanya "oleh hukum Taurat orang mengenal dosa" (Rm. 3: 20). Dengan demikian, hukum Taurat diibaratkan sebagai seorang "penuntun" yang akan membawa kita kepada Kristus (Gal. 3: 24). Sebagaimana penuntun dalam masyarakat Yunani kuno harus menuntun anak kepada gurunya, hukum Allah akan menuntun kita kepada Kristus. Saat kita berjuang dalam pergumulan dengan hukum kebenaran itu, kita akan menyadari betapa sulitnya dan betapa putus asanya kita. Kita kemudian akan menyadari bahwa satu-satunya harapan kita adalah menerima kasih karunia Allah.
Jalan Adam dan Hawa. Mari kita renungkan pengakuan dosa Adam dan Hawa. Di satu sisi, kita dapat menyimpulkan bahwa mereka menyadari telah melanggar hukum Allah karena mereka menyembunyikan diri dari hadirat Allah yang adil (Kej. 3: 6-10). Di sisi lain, ketika Allah meminta mereka untuk menghadap dan kemudian mulai menyelidiki apa yang terjadi, mereka berdua menanggapi dengan menuduh Allah atas kesalahan mereka. Adam merujuk pada ketelanjangannya, yang merupakan keadaan awal ketika Allah menciptakannya (Kej. 2: 25), dan kemudian pada perempuan yang telah diberikan Allah kepadanya (Kej. 3: 12). Hawa menyalahkan ular yang telah diciptakan Allah (Kej. 3: 1,13).
Satu-satunya bagian yang menyingkapkan dampak dosa pada sifat Adam dan Hawa ditemukan dalam Kejadian 3: 22, 23, di mana Allah memperhatikan bahwa Adam dan Hawa pada mulanya seperti Allah. (Perhatikan bahwa kata kerja Ibrani hayah, yang diterjemahkan "telah menjadi" dalam Kejadian 3: 22 [TB], harus diterjemahkan sebagai "adalah" dalam bentuk lampau, sama seperti dalam Kejadian 3: 1). Terjemahan umum "telah menjadi" secara keliru menunjukkan bahwa dosa menandai peningkatan dalam kondisi dan status mereka.
Selain itu, terjemahan seperti itu memberi kesan bahwa ular itu benar ketika ia memperingatkan Hawa bahwa Allah tidak ingin dia dan Adam menjadi seperti Dia (Kej. 3: 5). Pada kenyataannya, Allah menyesalkan kenyataan tragis bahwa, setelah dosa, Adam dan Hawa telah kehilangan keserupaan mereka dengan-Nya. Hanya Allah yang mengakui, kemudian, dampak negatif nyata dari dosa pada mereka. Adam dan Hawa tidak mampu mengakui dosa karena mereka telah kehilangan hubungan dengan Allah. Selama Adam dan Hawa belum berdosa, hubungan mereka dengan Allah memungkinkan mereka untuk memahami realitas dosa. Begitu mereka meninggalkan hadirat Allah, mereka kehilangan kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat. Sebagaimana dikomentari Ellen G. White: "Akibat percampuran antara kejahatan dan keba-ikan, pikirannya [Adam] menjadi kacau, kekuatan mental dan rohaninya menjadi mati rasa. la tidak lagi dapat menghargai kebaikan yang telah dianugerahkan Allah dengan begitu limpahnya"-Education, hlm. 25.
Pelajaran dasar yang kita pelajari dari kejatuhan manusia hanyalah ini: karena manusia telah berdosa, mereka telah kehilangan kepekaan alami mereka, kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat. Jadi, tanpa Tuhan, kita tidak dapat menjalankan penghakiman itu dengan sukses. Karena alasan inilah, Tuhan memberi kita hukum Taurat dan Injil. Kita membutuhkan hukum Taurat untuk membimbing kita ke arah yang benar. Demikian pula, kita membutuhkan kasih karunia Kristus untuk membantu kita berjalan dengan harapan dan kasih ke arah itu.
Kiat Guru: Mintalah seorang sukarelawan untuk membacakan renungan tentang dosa di bawah ini. Luangkan waktu untuk membahas pertanyaan-pertanyaan terkait berikut atau untuk berbagi kesaksian seperti yang ditunjukkan di bawah ini.
Untuk Direnungkan: Apakah Dosa Pernah Bukan Dosa?
Seorang pria Kristen berzina. Ketika teman-temannya mengonfrontasi atas perselingkuhannya, ia bersikeras bahwa itu bukan dosa karena ia mencintai wanita itu. Karena Allah adalah kasih, pria itu berdalih bahwa apa yang ia lakukan telah disetujui oleh Allah. Kemudian, pria ini menjalin hubungan dengan wanita lain, dan kemudian dengan wanita-wanita berikutnya. Ketika teman-temannya mengonfrontasinya lagi tentang perkembangan terakhir ini dan bertanya apakah Allah masih menyetujuinya, pria itu menjawab bahwa ia tidak percaya kepada Allah lagi.
Untuk Diskusi:
1. Pikirkan kasus-kasus dalam hidup Anda, dan dalam kehidupan teman- teman atau di berita, di mana dosa dibenarkan dan bahkan digambarkan sebagai tindakan yang baik. Apa dampak dari sikap tersebut terhadap tatanan moral masyarakat? Mengapa pemikiran ini begitu berbahaya?
2. Pikirkan kasus-kasus dari Kitab Suci, sejarah, dan peristiwa terkini di mana penolakan atau dekriminalisasi dosa seseorang justru menyebabkan peningkatan penderitaannya.
3. Argumen apa yang akan Anda gunakan untuk membantu seseorang menghadapi kenyataan dosanya?
Untuk Direnungkan: Dosa dan Kebahagiaan. Berdasarkan karyanya tentang hubungan antara etika dan kebahagiaan, psikiater Henri Baruk menyimpulkan, "Seseorang menemukan kebahagiaan dengan berbuat baik kepada orang lain. Kita tidak bahagia ketika mencari kebahagiaan sendiri. Orang yang mencari kebahagiaan tidak akan pernah menemukannya" (Henri Baruk, dalam Shabbat Shalom, Desember 1996).
1. Mintalah anggota kelas untuk memberikan kesaksian tentang kebahagiaan yang mereka peroleh karena berbuat baik kepada orang lain.
2. Bertekadlah untuk membantu seseorang yang membutuhkan bantuan fisik, finansial, atau rohani pekan ini.
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat