Triwulan 2 Pelajaran 4, 2026. 


Download Powerpoint



PENUNTUN GURU


Bagian I: Tinjauan Umum

Ayat Inti: Ibrani 4: 12.

Fokus Pelajaran: 2 Tim. 3: 15-17; Yoh. 17: 17; Ef. 1: 13; Mzm. 119: 11; 1 Kor. 2: 14.

Peran utama Firman Tuhan adalah memberi kita makanan rohani agar kita tetap hidup. Bangsa Israel mempelajari pelajaran rohani yang penting ini ketika mereka mengalamı kelaparan fisik di padang gurun. Penafsiran Musa tentang mukjizat manna dari Allah mencerminkan gagasan ini: "Untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan" (Ul. 8: 3). Yesus sangat lapar di padang gurun ketika la menyampaikan prinsip ini kepada Iblis (Mat. 4: 4). Kita mendengar ide yang sama dalam surat Petrus, yang membandingkan Firman Allah dengan susu yang memberi makan dan memelihara bayi baru lahir yang lapar: "Supaya olehnya kamu bertumbuh" (1 Ptr. 2: 2, TB, bandingkan dengan Ibr. 5: 13). Contoh-contoh alkitabiah ini menyadarkan kita akan syarat penting yang harus kita miliki agar dapat menerima makanan rohani dari Firman Allah. Kita harus datang kepada Firman dengan kesadaran akan kebutuhan kita. Kita harus datang dalam keadaan lapar dan haus; jika tidak, kita tidak akan menghargai kebutuhan vital akan makanan rohani. Kita juga tidak akan menikmatinya atau memperoleh manfaat darinya.

Dalam pembelajaran ini, kita akan mencoba memahami dua kebenaran penting tentang makanan rohani: (1) mengapa dan (2) bagaimana proses memakan Firman Allah menopang kita. Dasar pelajaran kita adalah 2 Timotius 3: 14-17, bagian dasar dari Paulus dalam suratnya yang kedua kepada Timotius. Pertanyaan pertama "Mengapa?"-akan memungkinkan kita untuk mene-laah, dari perspektif Kitab Suci, kualitas dan pengaruh unik yang menjadikan 2 Timotius begitu berdampak dan mengubah hidup. Pertanyaan kedua-"Ba-gaimana?"-akan mengusulkan metode-metode untuk membaca Kitab Suci. Metode-metode tersebut akan memungkinkan mukjizat memakan Firman Tuhan terjadi dalam hidup kita sendiri.

Bagian II: Komentar

"Mengapa" Kitab Suci. Mengapa Kitab Suci memiliki kuasa untuk menopang kehidupan? Paulus mengajukan dua jawaban untuk pertanyaan ini. Jawaban pertama berkaitan dengan pandangan Paulus yang tinggi terhadap Kitab Suci, serta hakikat, atau kualitas sakralnya Kitab Suci. Jawaban kedua berkaitan dengan pengaruh Kitab Suci, yaitu, kuasa transformatif dari tulisan-tulisan suci dalam kehidupan pembaca Paulus yaitu Timotius (- lim. 3: 15), yang juga disebut Paulus sebagai "hamba Allah" (1 Tim. 6: 11, TL).

1. Kualitas Kitab Suci. Kitab Suci yang membentuk Kitab Suci pertama kali umumnya diidentifikasi sebagai "kudus". Frasa "Kitab Suci" (Yunani: hiera grammata), yang digunakan Paulus, hanya muncul di sini dalam Perjanjian Baru. Frasa ini mencerminkan judul teknis Torah sebbiktav, "hukum tertulis" yang dalam Yudaisme kuno merujuk pada tulisan-tulisan yang dianggap teril-ham, berbeda dengan Torah sebbe'al pe, "Hukum lisan", yang tidak dianggap terilham. Dengan istilah ini, Paulus di sini merujuk pada Perjanjian Lama, sebuah kata yang akan digunakan beberapa orang Kristen jauh di kemudian hari sebagai istilah yang merendahkan untuk menunjukkan inspirasi yang lebih rendah (atau bahkan tidak valid).

Bagi Paulus, apa yang disebut Perjanjian Lama adalah satu-satunya Kitab Suci. Pada saat itu, Perjanjian Baru belum ada dan belum menjadi bagian dari pengajaran yang akan diterima Timotius. Alasan tulisan-tulisan ini disebut "kudus" berasal dari fakta bahwa tulisan-tulisan ini dianggap theopneutos, "diil-hami"-harfiahnya, "Allah menghembuskan" dalam bentuk pasif, menyiratkan Allah sebagai subjeknya. Kata kerja yang sama ini digunakan untuk menggambarkan proses penciptaan manusia oleh Allah, di mana Allah "menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya" (Kej. 2: 7). Dari sudut pandang Kitab Suci yang agung ini, Paulus tidak hanya mengambil pelajaran tentang dampak Kitab Suci terhadap kita, tetapi juga pelajaran tentang cara kita seharusnya menyikapi Firman Tuhan.

2. Pengaruh Kitab Suci. Kesamaan antara inspirasi Kitab Suci dan proses penciptaan manusia bukanlah suatu kebetulan. Kesamaan ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Firman Allah adalah hidup. Dengan demikian, Firman Allah memberikan hidup kepada penerimanya, sama seperti Adam menerima hidup dari Penciptanya. Paulus menjelaskan bahwa Kitab Suci "memberikan hikmat kepadamu" (2 Tim. 3: 15). Paulus tidak bermaksud bahwa pengaruh ini bersifat mekanis, bahwa mereka yang menerima Kitab Suci akan langsung dan secara ajaib dikaruniai hikmat. Paulus mengingatkan kita bahwa hikmat yang ia bicarakan datang melalui iman kepada Yesus Kristus. Kemudian, dalam ayat berikutnya, Paulus menjelaskan bahwa hikmat ini berfungsi dalam empat cara berbeda dalam kehidupan orang percaya:

*Fungsi pertama Kitab Suci adalah "doktrinal". Kitab Suci membimbing kita dalam menemukan dan memahami kebenaran.
*Fungsi kedua Kitab Suci adalah "teguran"; yaitu, Kitab Suci menyadarkan kita akan kesalahan yang telah kita perbuat, tidak hanya dalam doktrin tetapi juga dalam cara kita berperilaku dalam kehidupan pribadi kita.
*Fungsi ketiga Kitab Suci adalah "koreksi". Menyadari kesalahan kita saja tidak cukup; kita juga harus memahami cara mengoreksi jalan hidup kita dan menentukan arah yang benar.
*Fungsi keempat dan terakhir Kitab Suci adalah untuk "kebenaran". Kitab Suci pada akhirnya menuntun kita kepada pertobatan dan ketaatan melalui Roh Kudus. Paulus kemudıan menyimpulkan bahwa tujuan Kitab Suci adalah pembentukan pribadi yang utuh. Paulus mengakhiri pelajarannya secara praktis dengan arahan untuk bertindak. Dengan demikian, Kitab Suci juga memperlengkapi kita "untuk setiap perbuatan baik" (2 Tim. 3: 17).

Pendekatan terhadap Kitab Suci. Bagaimana Kitab Suci menghasilkan pengaruh yang luar biasa ini, membawa kita dari tempat kita berada menuju kehidupan yang benar dengan segala "perbuatan baik" yang tersirat di dalamnya? Untuk membantu kita menjawab pertanyaan ini, empat pelajaran, atau prin-sip, mengenai pendekatan kita terhadap Kitab Suci dapat diambil dari nasihat Paulus kepada Timotius:

1. Seluruh Kitab Suci. Prinsip pertama dan paling mendasar dalam pendekatan kita terhadap teks-teks Kitab Suci adalah kenyataan bahwa kualitas "kudus" dan terilhaminya menyangkut keseluruhan Kitab Suci. Paulus menegaskan bahwa seluruh Kitab Suci diilhami (2 Tim. 3: 16). Prinsip ini berarti bahwa seluruh isi Kitab Suci harus dipertimbangkan dalam studi kita dan dalam pencarian kita akan wahyu Allah. Pernyataan Paulus mendorong kita untuk membaca Kitab Suci, percaya bahwa tulisan-tulisan sucinya akan membimbing kita dalam pencarian kita akan kebenaran Ilahi dan nasihat praktis dalam hidup kita. Tidak ada satu kitab atau satu bagian pun dari Kitab Suci yang harus diistimewakan di atas kitab-kitab atau bagian-bagian lainnya. Seluruh Kitab Suci layak mendapatkan tingkat minat dan perhatian yang sama tingginya. Paulus mengusulkan pendekatan yang dalam kajian Kitab Suci yang lebih baru disebut "pendekatan kanonik". . Dengan demikian, suatu teks tertentu harus dianalisis berdasarkan bagian-bagian Kitab Suci lain yang mungkin merujuk atau menyinggungnya (juga disebut prinsip intertekstual).

2. Belajar dan Mengetahui. Paulus menghargai upaya belajar dan mengetahui (2 Tim. 3: 14, 15). Karena alasan ini, ketidaktahuan akan Kitab Suci, atau pembacaan Kitab Suci yang dangkal, dapat berdampak serius, tidak hanya pada keberadaan kita saat ini tetapi juga pada keselamatan kekal kita. Dalam konteks ini, panggilan Paulus untuk belajar dan mengetahui menyiratkan bahwa kita harus memberikan perhatian khusus pada teks Kitab Suci yang menjadi objek studi kita. Sebagaimana Ellen G. White mengingatkan kita: "Pentingnya [men-cari pengetahuan mendalam tentang Kitab Suci] hampir tidak dapat diremehkan. 'Diberikan melalui ilham Allah,' 'mampu menjadikan kita bijaksana untuk keselamatan, , menjadikan 'manusia Allah utuh, diperlengkapi sepenuhnya untuk setiap perbuatan baik,' Kitab segala kitab memiliki pengakuan tertinggi untuk mendapatkan perhatian kita yang penuh hormat. Kita tidak boleh puas dengan pengetahuan yang dangkal, tetapi harus berusaha untuk mempelajari makna penuh dari firman kebenaran, dan untuk menyerap sepenuhnya roh dari firman kudus"-Advent Review and Sabbath Herald, 9 Oktober 1883.

3. Kesetiaan. Nasihat Paulus kepada Timotius untuk "berpegang" dalam hal-hal yang telah dipelajarinya (2 Tim. 3: 14) menggemakan seruan Yesus untuk "tetap" dalam" Firman-Nya (Yoh. 8: 31). Kata kerja Yunani yang sama, meno, "bertekun", muncul di kedua ayat tersebut. Mempelajari kebenaran Kitab Suci sekali saja tidaklah cukup; kita harus meninjaunya kembali. Ada peribahasa Ibrani yang mengatakan, "Orang yang belajar dan tidak meninjaunya kembali seperti petani yang menabur dan tidak menuai" . Bagi Timotius, dan bagi banyak orang Kristen, pembelajaran ini bukanlah peristiwa satu kali; pekerjaan itu dimulai "dari kecil" (2 Tim. 3: 15) dan berlanjut sepanjang hidup. Nasihat Paulus untuk bertekun dalam Firman bukan sekadar terlibat dalam ingatan intelektual akan kebenaran dan doktrin abstrak. Juga bukan sekadar ingatan perasaan sementara. Paulus memanggil Timotius untuk tinggal dalam Firman dan melakukannya setiap saat. Yakobus berpikir sejalan dengan hal ini ketika ia membahas hubungan antara iman dan perbuatan (Yak. 2: 14-26).

4. Dampak Guru. Kita tidak dapat mengakses kebenaran Ilahi sendiri. Karena kebenaran diberikan melalui wahyu, sebagaimana diajarkan Kitab Suci, kesaksian dari saksi manusia yang telah menerima wahyu itu sebagai kebenaran juga dibutuhkan. Karena alasan ini, kita membutuhkan guru. Sejak awal sejarah Israel, Allah telah mendesak umat-Nya untuk mengajar anak-anak mereka (UI. 6: 7). Paulus menyinggung prinsip itu ketika ia menulis kepada Timotius tentang orang-orang yang "telah mengajarkannya kepadamu" (2 Tim. 3: 14). Paulus secara khusus memikirkan ibu Timotius, Eunike, dan neneknya, Lois, tetapi juga dirinya sendiri di antara "banyak saksi" dari komunitas Kristen (2 Tim. 2: 2). Oleh karena itu, seruan Paulus tidak hanya menyangkut para murid atau anak-anak yang berutang budi kepada orang tua dan guru mereka, tetapi juga orang tua dan guru itu sendiri yang memiliki tanggung jawab untuk membagikan apa yang telah mereka pelajari.

Bagian III: Penerapan dalam Kehidupan

Kiat Guru: Bagaimana kita dapat berhasil menerapkan Kitab Suci dalam kehidupan kita? Kegiatan-kegiatan berikut ini dimaksudkan untuk membantu kita melakukannya. Mintalah seorang sukarelawan untuk membaca bagian di bawah ini yang berjudul "Untuk Direnungkan". Kemudian, doronglah anggota kelas untuk mempraktikkan satu atau lebih aktivitas berikut selama pekan tersebut, lalu bagikan pengalaman mereka di kelas pada Sabat ber-ikutnya. Mintalah mereka untuk menceritakan secara spesifik bagaimana aktivitas tersebut memperkuat pemahaman mereka tentang Kitab Suci dan bagaimana hal itu memperdalam hubungan mereka dengan Tuhan.

Untuk Direnungkan: Ada potensi kesalahpahaman tentang bagaimana menerapkan Kitab Suci dalam kehidupan kita sendiri. Penerapan Kitab Suci dalam kehidupan kita tidak berarti kita bebas memanipulasi Firman Tuhan untuk mengakomodasi kecenderungan kita. Sebaliknya, menerapkan Kitab Suci dalam kehidupan kita berarti kita harus menyesuaikan hidup kita dengan ajaran Kitab Suci.

Kegiatan 1: Meditasi Harian: Selama kurang lebih sepekan, gunakan teks pendek (satu ayat atau satu bagian Kitab Suci) setiap pagi untuk renungan Anda. Pelajari arti bagian ini berdasarkan konteksnya. Jadilah kreatif. Carilah wawasan dan pelajaran baru setiap kali membaca.

Aktivitas 2: Hafalkan satu ayat: Setiap bulan, pilihlah satu ayat Kitab Suci dari teks meditasi Anda dan ulangi setiap pagi hingga Anda hafal.

Aktivitas 3: Mengajar: Cara terbaik untuk belajar adalah berbagi dengan pasangan atau teman Anda apa yang telah Anda pelajari dan temukan dalam Kitab Suci. Temukan seseorang yang dapat Anda ajak berbagi dan diskusikan pengetahuan serta wawasan baru Anda tentang Kitab Suci.

Aktivitas 4: Taat: Tidaklah cukup hanya hafalkan satu ayat. Yang terpenting adalah menerapkannya dalam hidup Anda dan menaati nasihatnya. Seperti yang Yesus katakan: "Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya" (Yoh. 13: 17). Saat Anda membaca dan mempelajari Firman, mintalah Roh Kudus untuk memberi Anda hikmat agar Anda dapat menerapkan kebenarannya secara praktis dalam hidup Anda.



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp