Triwulan 2 Pelajaran 4, 2026. 


Download Powerpoint




Senin, 20 April 2026.

Kitab Suci, Otoritas


Otoritas dan fungsi Alkitab dinyatakan dengan jelas di dalam halamannya sendiri. Bacalah dan salinlah 2 Timotius 3: 15-17. Perhatikan apa yang ayat-ayat ini katakan tentang fungsi Alkitab.

Saat berbicara tentang studi Alkitab pribadi, kita harus berhati-hati agar tidak mengharapkan Alkitab melayani tujuan atau sudut pandang kita sendiri, yang tidak selalu sejalan dengan kehendak Allah. Misalnya, kita sebaiknya tidak menggunakan metode "tutup mata dan tunjuk ayat secara acak," karena itu bukanlah cara Allah ingin berbicara kepada kita melalui Firman-Nya. Allah bukan boneka tali yang bisa digerakkan sesuka hati untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan kita. Jalan dan pikiran-Nya jauh lebih tinggi daripada jalan dan pikiran kita (Yesaya 55:9), jadi kita tidak boleh mencoba mengendalikan Firman-Nya kepada kita. Kita juga tidak boleh memilih-milih bagian Alkitab yang hanya terasa nyaman bagi kita. Sebaliknya, kita harus melihat Alkitab sebagai satu kesatuan utuh— bukan hanya membaca bagian yang mudah dan sudah familiar, lalu menghindari bagian yang menantang atau mengoreksi kita. Jika kita sungguh ingin Allah berbicara dalam hidup kita, kita harus menerima seluruh Alkitab dan menggunakan metode studi yang sehat, sambil percaya bahwa Allah akan menyatakan apa yang perlu kita dengar pada waktu yang tepat.

Yesus sendiri berkata: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu" (Matius 22:37). Ini berarti bahwa Allah tidak ingin kita mengabaikan akal budi kita; sebaliknya, Ia ingin mengisinya dengan pengetahuan dan pengertian-Nya yang luas, yang sebagian besar dinyatakan melalui Firman-Nya. Kita bisa melihat banyak kisah dalam Alkitab di mana Allah berdiskusi dengan tokoh-tokoh seperti Henokh, Abraham, Musa, dan Ayub-juga banyak percakapan antara Yesus dan orang-orang. Allah tidak mengabaikan akal manusia, tetapi mengundang kita untuk menundukkan akal kita kepada Firman dan hikmat-Nya dalam proses "mengerjakan" keselamatan kita.

Namun demikian, akal manusia tetaplah manusiawi-rentan terhadap kesalahan dan penyesatan. Akal tidak pernah tak mungkin salah. Ada kalanya akal manusia berusaha menyingkirkan Allah dan mencoba menyelesaikan segala sesuatu sendiri. Hal ini menempatkan ego setara atau bahkan lebih tinggi dari Allah dalam hal pemikiran. Orang bisa mempelajari Alkitab dengan semangat yang sombong dan kritis, berpikir bahwa mereka sudah tahu semuanya dan tidak ada lagi yang baru. Justru ketika kita merasa penting, percaya diri, cukup mandiri, dan merasa tidak membutuhkan apa pun, kita mulai mengabaikan hubungan kita dengan Allah dan hanya mengandalkan pengetahuan kita yang terbatas serta akal kita yang sering keliru.



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp