Triwulan 1 Pelajaran 4, 2026. 


Download Powerpoint




Kamis, 22 Januari 2026.

Rahasia Keallahan


Salah satu ayat populer dalam Alkitab adalah 1 Korintus 8: 2: "Jika ada seorang menyangka, bahwa ia mempunyai sesuatu pengetahuan', maka ia belum juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya." Tidak ada satu pun topik yang kita ketahui secara menyeluruh. Kita selalu bisa belajar lebih banyak lagi mengenai apa pun. Betapa jauh lebih benarnya hal ini dalam kaitannya dengan realitas kekal yang berhubungan dengan keallahan dan Penjelmaan! Paulus sering merujuk pada kerendahan hati Kristus yang luar biasa saat menjadi manusia. Ini adalah suatu misteri yang bahkan sepanjang kekekalan pun tidak akan bisa sepenuhnya dijelaskan.

Bacalah Roma 8: 3; Ibrani 2: 14-18, dan Ibrani 4: 15. Apakah yang menjadi ciri khas kerendahan Kristus dan pengambilan sifat manusiawi-Nya?

Bagaimana mungkin Anak Allah yang kekal, melalui pekerjaan Roh Kudus (lihat Lukas 1: 35), menjadi makhluk Ilahi-manusiawi di dalam rahim Maria? Sulit dipahami bagaimana yang tak terbatas dan kekal tiba-tiba menjadi manusia yang terbatas dan tunduk pada kematian. Inilah inti dari apa yang Paulus sebut sebagai "rahasia Keallahan" (1 Tim. 3: 16).

Dalam himne indah yang tedapat di Filipi 2; Paulus menguraikan kerendahan hati Kristus dengan cara yang lebih mendalam dibandingkan di bagian lain dalam Kitab Suci:

1. "Dalam rupa Allah" (Flp. 2: 6). Kata morphē (rupa) merujuk pada kodrat Ilahi-Nya, bahwa Yesus setara dengan Bapa (bandingkan Yoh. 1: 1).

2. "Mengosongkan diri-Nya” (Flp. 2: 7). Sifat misteri Yesus mengosongkan diri dari hak-hak keilahian-Nya-agar Ia benar-benar menjadi manusia dan mengalami pencobaan seperti kita-sungguh menakjubkan.

3. "Merendahkan diri-Nya" (Flp. 2: 8). Dengan mengambil kodrat manusia, Yesus turun dari kekuasaan tertinggi untuk menjadi seorang hamba yang hina, berlawanan dengan tujuan Lusifer.

4. "Taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Flp. 2: 8). Tidak ada cara yang lebih hina untuk mati selain cara yang Yesus pilih, suatu rencana yang telah dirancang-Nya bersama Bapa dalam “permufakatan tentang damai" (Za. 6: 13), digambarkan sebelumnya oleh Musa yang meninggikan ular tembaga (Bil. 21: 9; Yoh. 3: 14), sehingga “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (2 Kor. 5: 21).

Bagaimanakah kita seharusnya dapat berfokus pada apa yang Yesus lakukan bagi kita di kayu salib-memandang salib sebagai contoh penyerahan diri dan kerendahan hati-membuat kita lebih rendah hati, sekaligus lebih tunduk kepada Tuhan?



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp