Triwulan 1 Pelajaran 4, 2026.
Muhammad Ali pada bulan Augustus 1963 pernah berkata, “Akulah yang terhebat", enam bulan sebelum memenangkan kejuaraan tinju dunia kelas berat, ia bahkan merilis album rekaman berjudul, “Akulah yang terhebat." Tidak diragukan lagi, Ali adalah seorang atlet hebat, tetapi ia bukanlah contoh yang harus diikuti jika seseorang ingin memiliki pikiran Kristus.
Sebaliknya, Yesus adalah pribadi yang sempurna tanpa dosa. Meskipun la telah dicobai "dalam segala hal ... sama seperti kita" (Ibr. 4: 15), Ia tidak pernah berbuat dosa, bahkan dalam pikiran-Nya sekalipun. Namun, Ibrani 5: 8 menyatakan, "Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya." Penyerahan Yesus kepada kehendak Bapa selalu sempurna. Tidak pernah sekalipun Ia menolak untuk patuh, meskipun tidak diragukan lagi, hal itu sering kali tidak mudah.
Bacalah Filipi 2: 5-8; Ayat-ayat ini oleh banyak orang dianggap sebagai salah satu teks paling kuat dan indah dalam Kitab Suci. Apakah yang Paulus sampaikan kepada kita di sini? Apakah implikasi dari katakata ini? Yang terpenting, bagaimanakah kita menerapkan prinsip yang dinyatakan di sini dalam kehidupan kita sendiri?
Yesus, yang setara dengan Allah, yang adalah Allah, bukan hanya mengambil rupa manusia, tetapi juga menjadi seorang “hamba” (doulos, seorang pelayan, seorang budak) dan kemudian menyerahkan diri-Nya sebagai korban bagi dosadosa kita! Di ayat lain, Paulus mengatakan bahwa Dia menjadi “kutuk karena kita" (Gal. 3: 13). Allah, Pencipta kita, mati di kayu salib agar dapat menjadi Penebus kita, dan hal itu menuntut Dia untuk menjadi kutuk bagi kita.
Bagaimana kita mulai menghayati apa yang dikatakan di sini? Bahkan lebih lagi, bagaimana kita melakukan apa yang dikatakan dalam ayat ini, yaitu memiliki kerelaan yang sama untuk merendahkan dan mengorbankan diri demi kebaikan orang lain?
Dalam ayat yang lain, Yesus berkata: "Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat. 23: 11, 12). Ini, dalam banyak hal, mencerminkan apa yang Paulus sampaikan dalam Filipi 2: 5-8, untuk kita lakukan.
Dalam cara yang lebih gamblang dan kuat, Paulus di sini mengatakan hal yang sama seperti yang ia katakan sebelumnya, yaitu agar kita "tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia" (Flp. 2: 3).
Bagaimanakah seharusnya kita menanggapi apa yang Kristus telah lakukan bagi kita, sebagaimana digambarkan dalam Filipi 2: 5-8? Tanggapan seperti apakah yang bisa dianggap "memenuhi syarat" atau layak atas apa yang telah Kristus lakukan bagi kita, mungkin tidak ada yang lebih pantas selain jatuh berlutut dan menyembah-Nya? Mengapa sangat keliru untuk berpikir bahwa perbuatan kita dapat menambah apa yang telah Kristus lakukan bagi kita?
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat