Triwulan 1 Pelajaran 4, 2026.
Semakin banyak perusahaan di seluruh dunia mengembangkan teknologi yang menggabungkan daya pemrosesan komputer dengan otak manusia. Singkatnya, dengan menghubungkan pikiran ke komputer, para ilmuwan berharap dapat memengaruhi pemikiran kita melalui komputer. Meskipun penggunaan implan pada otak manusia menjanjikan hasil positif, seperti membantu mengatasi epilepsi, depresi, dan penyakit Parkinson, potensi penggunaan yang lebih berbahaya tidak sulit untuk dibayangkan. Pengendalian pikiran mungkin sudah semakin dekat.
Dalam beberapa hal, itu bahkan sudah terjadi. Pikiran kita seperti komputer, tetapi jauh lebih unggul. Arus informasi yang terus-menerus kita terima setiap hari “membentuk" pikiran kita, mengondisikan pemikiran kita, dan menuntun tindakan kita. Ketika kita membenamkan diri dalam media, cara berpikir dunia mulai tercetak dalam pikiran kita, sehingga kita pun mulai berpikir dengan cara yang sama. Seolah-olah pikiran orang lain telah ditanamkan atau dilebur ke dalam pikiran kita.
Kita, seperti Yesus, harus menjadi pribadi yang “memikirkan hal-hal yang dari roh" (Rm. 8: 6). "tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah," yang oleh Paulus dikontraskan dengan "roh dunia" (1 Kor. 2: 11, 12). Siapakah guru kita? Dan apa yang sedang kita pelajari?
Bacalah Filipi 2: 5. Menurut Anda, apakah artinya memiliki "pikiran" Kristus?
Pada akhirnya, kita bisa mengubah pikiran kita, tetapi kita tidak bisa mengubah hati kita; hanya Allah yang dapat melakukannya. Roh Kudus harus melakukan bedah hati dalam diri kita dengan menggunakan "pedang Roh" (Ef. 6: 17), yaitu firman Allah yang "hidup dan kuat," yang "menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibr. 4: 12). Hanya melalui Roh Kudus kita benar-benar dapat mengenal diri sendiri, karena secara alami hati kita menipu kita (Yer. 17: 9). Kata Ibrani untuk "licik" ("aqov) mengacu pada tanah yang berbatu-batu dan membuat kita tersandung; dalam arti yang lebih luas, itu berarti pikiran yang berliku-liku, bengkok, dan tidak lurus. Kita harus berubah melalui "pembaharuan" pikiran, agar kita dapat “membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Rm. 12: 2).
Mengapa sangat penting bagi kita untuk mengikuti apa yang dikatakan Paulus ini: "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu" (Flp. 4: 8)?
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat