Triwulan 4 Pelajaran 2, 2026.
Untuk Pelajaran Pekan Ini Bacalah: Kej. 15: 6; Gal. 3: 6–9; 1 Raj. 18: 19–39; Yes. 53; Dan. 2: 46–48; Mrk. 1: 2–5; Mat. 11: 1–6.
AYAT HAFALAN: "Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: 'Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?' Maka sahutku: 'Ini aku, utuslah aku!" (Yesaya 6: 8).
Pada zaman Alkitab, para nabi sering memainkan peran kunci dalam sejarah umat Allah. Terkadang mereka berada di panggung utama, mengambil posisi yang sangat kuat, bahkan krusial, dalam kehidupan komunitas.
Akan tetapi, menjadi seorang nabi adalah panggilan yang sulit. Hidup mereka sering kali tidak mudah, malah penuh dengan kesedihan, penolakan, kesalahpahaman, dan frustrasi.
Sering kali nabi-nabi Allah tidak serta-merta menerima panggilan mereka untuk jabatan kenabian. Dan itu tidak mengherankan. Banyak nabi ditentang dengan keras oleh orang-orang yang seharusnya menyambut pekabaran mereka. Nabi-nabi Allah diabaikan, dicemooh, dipukuli, atau dipenjarakan. Yang lain dirajam atau diburu seperti binatang liar. Beberapa orang mati syahid.
Saat ini, di tengah generasi yang dibanjiri kekerasan, keserakahan, amoralitas, eksploitasi, dan segala macam pengaruh setan, suara kenabian sering kali ditolak atau diabaikan begitu saja. Kita dipanggil untuk memperhatikan suara nabi-nabi Allah dan menjadi pembawa pekabaran pengharapan yang diberikan kepada kita melalui para nabi.
Pekan lalu kita telah belajar bahwa setelah Kejatuhan di Eden, Allah bekerja untuk membangun kembali komunikasi dengan manusia. Pekan ini kita akan meneliti beberapa momen monumental dalam sejarah ketika Allah memanggil para nabi untuk meluruskan kembali umat-Nya dengan berbagai pekabaran-Nya bagi dunia yang telah jatuh ke dalam dosa.
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat