Triwulan 3 Pelajaran 4, 2026.
Ayat Inti: 1 Korintus 6: 19, 20.
Fokus Pelajaran: 1 Kor. 5: 1-13, 1 Kor. 6: 1-13.
Pendahuluan
Saat menaiki kereta bawah tanah (tube/subway) di Inggris Raya, para pelancong terus-menerus diingatkan melalui pesan audio dan peringatan visual untuk
"Perhatikan celah" (Mind the gap). Tampaknya sangat jelas bahwa orang harus melihat ke mana mereka akan melangkah dan bahwa melangkah ke celah antara kereta dan peron akan menyebabkan cedera serius. Namun, orang-orang masih saja melangkah ke celah itu. Jadi, tampaknya ada kebutuhan untuk terus-menerus mengingatkan para penumpang akan hal yang sudah jelas. Kesenjangan antara Pengetahuan dan Perbuatan (The Knowing-Doing Gap) adalah konsep yang merujuk pada perbedaan antara apa yang kita tahu harus kita lakukan dan apa yang sebenarnya kita lakukan. Konsep ini dapat didefinisikan sebagai memiliki pengetahuan, keterampilan, atau kemampuan untuk mencapai sesuatu tetapi gagal melakukannya. Saat kita mempertimbangkan topik dosa di dalam gereja dan pilihan yang dibuat (atau tidak dibuat) oleh anggota yang memengaruhi tubuh Kristus yang lebih besar, konsep Kesenjangan antara Pengetahuan dan Perbuatan ini dapat menawarkan titik awal yang baik bagi kita untuk bergabung dalam percakapan alkitabiah.
Tema Pelajaran
Pelajaran pekan ini menyoroti tiga tema penting:
1. Bahaya Merasionalisasi Dosa. Kita sering memisahkan masalah etika dan moral dari praktik kita dan pilihan yang kita buat dengan mengabaikan yang sudah jelas atau mematikan keyakinan kita untuk merasionalisasi (mencari pembenaran atas) perilaku kita. Pesan Paulus kepada jemaat Korintus menawarkan contoh yang baik tentang perilaku seperti itu dan berisi indikasi yang jelas tentang cara menyelesaikan situasi ini.
2. Dasar Alkitabiah untuk Pernikahan. Konsep pernikahan menurut Alkitab didasarkan pada teologi Penciptaan dan harus menjadi dasar bagi refleksi kita tentang topik ini. Praktik inses yang dirujuk dalam 1 Korintus 5: 1 dan kurangnya refleksi kritis tentang masalah ini oleh komunitas gereja Korintus mengingatkan kita akan realitas Kesenjangan antara Pengetahuan dan Perbuatan di dalam gereja.
3. Penyelesaian Konflik. Penyelesaian konflik di antara anggota gereja harus dilakukan di dalam gereja dan bukan melalui pengadilan hukum sekuler. Menyelesaikan konflik di dalam gereja menawarkan kesempatan bagi keadilan yang menebus dan menggarisbawahi keyakinan bahwa gereja, tubuh Kristus, mampu menyelesaikan bahkan masalah-masalah yang menantang.
1. Latar Belakang: Pernikahan dan Praktik Seksual: Pernikahan dalam masyarakat Yunani-Romawi ditandai dengan otoritas kepala rumah tangga (biasanya suami) dalam hubungannya dengan istrinya. Rumah tangga besar, termasuk beberapa generasi anggota keluarga serta karyawan dan budak, adalah hal yang umum. Para istri biasanya mengelola urusan sehari-hari rumah tangga: mengendalikan para pelayan dan budak, membimbing pendidikan anak-anak, dan mengawasi pengisian kembali gudang penyimpanan.
Orang Romawi memiliki dua jenis pernikahan yang sah: dengan atau tanpa manus (Latın, secara harfiah "tangan"). Tanpa manus adalah otoritas hukum dan ekonomi yang dipertahankan seorang ayah atas putrinya setelah pernikahannya. "Pada zaman Romawi awal, pernikahan dengan manus sering terjadi. Tetapi pada periode PB, pernikahan tanpa manus, di mana seorang ayah mempertahankan otoritas hukum dan ekonomi (Lat. potestas) atas putrinya yang sudah menikah, jauh lebih umum. ... Langkah-langkah seperti itu [pernikahan dengan manus memperkuat hubungan anak perempuan dengan keluarga mereka dan dapat memberi anak perempuan sekutu yang kuat dalam perselisihan perni-kahan"-Margaret Y. MacDonald, "Marriage, NT" dalam The New Interpreter's Dictionary of the Bible, ed. K. Doob Sakenfeld, 5 vols. (Nashville: Abingdon Press, 2006), vol. 3, hlm. 812. Pernikahan yang sah hanya dapat dilakukan oleh warga negara bebas, meskipun prasasti pemakaman menunjukkan bahwa pasangan budak "sering memahami diri mereka sebagai menikah dan bertekad untuk menciptakan unit keluarga yang stabil" (hlm. 813), bahkan tanpa perjanjian pernikahan formal.
Pernikahan Yahudi memiliki banyak kesamaan dengan pernikahan di dunia Yunani-Romawi. Pembayaran maskawin itu penting; pernikahan biasanya diatur oleh keluarga dan menciptakan jaringan rumah tangga besar. Pandangan Paulus tentang pernikahan mencerminkan latar belakang Yahudinya, meskipun ia sendiri tidak menikah.
2. Kesenjangan antara Pengetahuan dan Perbuatan: Paulus berterus terang dalam komunikasinya kepada jemaat di Korintus tentang Kesenjangan antara Pengetahuan dan Perbuatan yang jelas dalam komunitas gereja mereka. Kesenjangan ini terkait dengan percabulan/asusila seksual (porneia), menurut 1 Korintus 5: 1, "yang begitu rupa, sehingga hal itu tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah." Kesenjangan antara Pengetahuan dan Perbuatan sering kalı merupakan cerminan dari kelemahan dan keberdosaan manusia. Paulus menggambarkan kondisi ini dengan baik dalam Roma 7: 19: "Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat." Sebagian besar dari kita akan setuju dengan pengamatan Paulus di beberapa titik dalam hidup kita. Entah bagaimana, hal baik yang kita yakini, atau bahkan telah kita komitmenkan untuk dilakukan, terkadang bukanlah apa yang kita pilih untuk dilakukan. Para sarjana Perjanjian Baru telah membahas identitas "aku" dalam perikop di Roma 7 dan telah menawarkan sejumlah saran. Tidak satu pun dari interpretasi ini akan mengurangi atau mengubah realitas dasar Kesenjangan antara Pengetahuan dan Perbuatan dalam kehidupan para pengikut Yesus. Hukum Allah, yang begitu lazim dalam Roma 7, tidak cukup untuk menyelamatkan kita dari diri kita sendiri dan dari dosa kita. Kita benar-benar membutuhkan Juruselamat!
Apa yang sebenarnya kita butuhkan adalah transformasi hati yang hanya dapat dilakukan oleh Roh Allah. Paulus menegaskan kenyataan ini dalam kata-kata yang penuh kuasa di Roma 8: 1: "Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus." Ketika kita berada "di dalam Kristus Yesus" , kita akan aman, dan transformasi dapat dimulai. Mengatasi Kesenjangan antara Pengetahuan dan Perbuatan ini memerlukan komitmen dan keterbukaan untuk berubah, karena perubahan-terutama perubahan mental dan perubahan perilaku kognitif-memerlukan pola-pola baru, dan banyak latihan. Dalam kata-kata James K.A. Smith: "Saya tidak bisa hanya berpikir untuk menjadi bajik. ... Hukum, aturan, dan perintah menentukan dan mengartikulasikan kebaikan; hal-hal itu memberi tahu saya tentang apa yang seharusnya saya lakukan. Tetapi kebajikan itu berbeda: kebajikan tidak diperoleh secara intelektual tetapi secara afektif. Pendidikan dalam kebajikan tidak seperti mempelajari Sepuluh Perintah Allah atau menghafal Kolose 3: 12-14. Pendidikan dalam kebajikan adalah semacam pembentukan, pelatihan ulang watak kita. "Mempelajari' kebajikan-menjadi bajik-lebih seperti melatih tangga nada pada piano daripada mempelajari teori musik: tujuannya adalah, dalam arti tertentu, agar jari-jari Anda mempelajari tangga nada sehingga kemudian dapat memainkannya secara 'alami,' seolah-olah demikian. Belajar di sini bukan hanya perolehan informasi; ini lebih seperti menorehkan sesuatu ke dalam serat keberadaan Anda"-James, K.A. Smith, You Are What You Love: The Spiritual Power of Habit (Grand Rapids, MI: Brazos Press, 2016), hlm. 18.
3. Percabulan (Asusila Seksual): Ada sedikit dosa yang memicu lebih banyak diskusi di antara umat beriman daripada dosa-dosa yang terkait dengan seksualitas. Porneia, "percabulan/asusila seksual," disebutkan untuk pertama kalinya dalam surat ini di 1 Korintus 5: 1 dan dibahas lebih lanjut dalam pasal 5-7. "Dalam bahasa Yunani Koine, kata tersebut dapat merujuk pada amoralitas umum, tetapı paling sering dıkaıtkan dengan pembayaran untuk pelacur atau kadang-kadang dengan perzinahan"-Paul Gardner, 1 Corinthians, Zondervan Exegetical Commentary on the New Testament (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2018), hlm. 224.
Etika seksual Yudaisme dan gereja mula-mula dıdasarkan pada Kitab Suci: hubungan heteroseksual dalam konteks pernikahan, itu sendiri, berakar pada teologi Penciptaan. Jelas, warga Korintus memiliki pemahaman yang jauh lebih longgar tentang etika seksual-tetapi bahkan mereka akan terkejut dengan hubungan seksual antara seorang pria dan istri ayahnya. Terminologi Yunani yang digunakan untuk menggambarkan istri tersebut menunjukkan bahwa dia bukan ibu kandung orang tersebut, melainkan ibu tirinya, yang masih merupakan pelanggaran moralitas yang serius.
Namun, keprihatinan Paulus adalah ketidakpedulian gereja Korintus terhadap situasi ini. Alih-alih meratapi kenyataan ini, Paulus menggambarkan gereja sebagai "sombong" (1 Kor. 5: 2) dan bersedia mengabaikan situasi ini. Beberapa sarjana menduga bahwa orang yang mempraktikkan jenis asusila seksual ini pasti sangat berpengaruh atau kaya. Situasi ini tidak menuntut toleransi tetapi tindakan tegas.
Dalam suratnya, Paulus memanggil gereja untuk mengambil tindakan cepat. Mereka harus "menyerahkan orang itu kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan" (1 Kor. 5: 5). Pernyataan metaforis ini merujuk pada pengusiran orang itu dari tubuh gereja. Gereja harus mengonı-firmasi pilihannya sendiri. Seperti dicatat oleh satu tafsiran, "Karena dengan tindakannya dia telah memilih untuk memasuki alam Iblis, keputusan gereja adalah untuk mengonfirmasi pilihannya. Dia akan dibiarkan menanggung konsekuensi dari tindakan jahatnya"—"1 Corinthians" dalam Andrews Bible Commentary, ed. Ángel Manuel Rodríguez et al. (Berrien Springs, MI: Andrews University Press, 2022), hlm. 1.624
Keputusan gerejawi ini harus dipahami dalam konteks penebusan, mirip dengan pernyataan Yesus dalam Matius 18: 17 ketika membahas konflik di gereja dan pemisahan antara gereja dan anggota yang bersalah yang bagı gereja harus dipandang "sama seperti seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai." Tindakan seperti itu harus diambil agar anggota yang bersalah itu dapat menjadi objek kasih sayang dan perhatian baik dari gereja. Kemudian gereja akan dapat menunjukkan kasih itu dengan mengundangnya untuk bertobat dan menjadi bagian dari kerajaan Allah lagi.
4. Penyelesaian Konflik Gereja: Keprihatinan Paulus terhadap jemaat Korintus juga melibatkan cara gereja menyelesaikan ketegangan dan konflik di antara mereka sendiri. Fakta bahwa anggota gereja membawa anggota lain ke pengadilan resmi benar-benar mustahil untuk dipahami Paulus (lihat 1 Kor. 6: 1-8). Masalah ini menyoroti banyaknya konflik internal dan perselisihan yang tampaknya dimiliki gereja dan kurangnya hikmat serta penilaian Ilahi mereka dalam menyelesaikan konflik dan perselisihan ini di dalam "tubuh." Gereja sebagai satu tubuh mengulangi dan menggemakan keprihatinan Paulus sebelumnya tentang faksi-faksı dan persatuan (1 Korintus 3 dan 4). Desakan Paulus untuk menyelesaikan ketegangan dan masalah secara internal tampaknya memiliki preseden dalam Perjanjian Lama dan dalam tradisi Yahudi. Preseden ini berakar pada keyakinan bahwa Allah sendiri adalah Hakim umat-Nya (bandingkan dengan 1 Sam. 24: 16, Mzm. 50: 6, Mzm. 75: 8, Yes. 33: 22, dll.) dan seluruh bumi (Kej. 18: 25).
Ketegangan dan konflik di dalam gereja bukanlah masalah yang mudah untuk diselesaikan. Teks-teks yang berhubungan dengan masalah asusila seksual dan bagaimana gereja harus menyelesaikan masalah ini menawarkan strategi penting bagi pembaca modern untuk menyelesaikan dosa, ketegangan, dan konflik dalam komunitas iman kita. Pertimbangkan pertanyaan-pertanyaan berikut bersama kelas Anda.
1. Apakah yang akan Anda katakan kepada seorang teman yang memberi tahu Anda bahwa dia berjuang untuk melakukan hal yang benar— meskipun dia tahu apa yang harus dia lakukan?
2. Apakah Kesenjangan antara Pengetahuan dan Perbuatan ada hubungannya dengan pembenaran oleh perbuatan? Jika ya, mengapa? Jika tidak, mengapa tidak?
3. Mengapa begitu sulit untuk menawarkan pengampunan kepada mereka yang bergumul dengan dosa seksual?
4. Apakah strategi terbaik untuk membantu mereka yang bergumul dengan dosa seksual?
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat