Triwulan 3 Pelajaran 4, 2026. 


Download Powerpoint




Senin, 20 Juli 2026.

Menangani Masalah Skandal


Menangani masalah seksualitas selalu sulit. Itu sulit bagi Paulus, dan juga bagi kita. Dalam situasi seperti ini, kita harus setia pada Alkitab dan mengatasi masalah tersebut dengan doa dan kasih. Kita tidak boleh lupa bahwa tujuan kita adalah pemulihan.

Bacalah kembali 1 Korintus 5: 1–13. Bagaimanakah Paulus memberi tahu mereka untuk menangani situasi ini?

Paulus menjelaskan dalam 1 Korintus 5 bahwa skandal seksual memerlukan disiplin jemaat. Ia mengatakan bahwa pria yang melakukan inses itu harus disingkirkan (1 Kor. 5: 2), dihakimi (1 Kor. 5: 3), diserahkan kepada Iblis (1 Kor. 5: 5), dan "diusir" (1 Kor. 5: 13). Para anggota jemaat diperintahkan untuk "tidak bergaul dengan" dia (1 Kor. 5: 9, 11), bahkan "tidak makan bersama-sama dengan orang yang demikian" (1 Kor. 5: 11). Paulus menggunakan bahasa yang kuat yang mungkin terdengar menyinggung bagi telinga modern, tetapi kata-katanya harus dipahami dalam konteks situasi seriusnya. Juga, kita harus ingat bahwa ia sedang berhadapan dengan gaya hidup yang terang-terangan berdosa. Biasanya, dalam situasi ekstrem, bahasa yang kuat diperlukan. Bagaimanapun, penjelasan singkat tentang beberapa ungkapan akan sangat membantu.

"Hendaklah ia ... disingkirkan dari tengah-tengah kamu" (1 Kor. 5: 2; juga 1 Kor. 5: 13). Ini merujuk pada disiplin jemaat.

"Serahkan orang ini kepada Iblis" (1 Kor. 5: 5). Karena pria ini tidak memilih untuk berada di bawah perlindungan Tuhan dengan hidup dalam ketaatan kepada-Nya, ia akan rentan terhadap Iblis. Jadi, ungkapan ini bisa saja berarti sesuatu seperti "Biarkan dia menuai buah dari keputusannya."

"Tidak bergaul" (1 Kor. 5: 9, 11) "tidak makan bersama-sama dengan orang yang demikian" (1 Kor. 5: 11). Pergaulan yang erat dengan orang-orang yang amoral secara seksual dianggap berbahaya karena mereka dapat memengaruhi orang lain untuk meniru perilaku mereka. Pada zaman kuno, berbagi makanan dapat berarti berbagi nilai-nilai juga. Kita semua rentan terhadap pengaruh di sekitar kita, dan kita perlu melindungi diri kita sebaik mungkin, terutama dalam menangani hal seperti ini.

"Supaya rohnya diselamatkan" (1 Kor. 5: 5). Disiplin jemaat bersifat memulihkan. Tujuannya adalah untuk menyadarkan orang berdosa dan membuat mereka meninggalkan gaya hidup mereka yang berdosa. Inilah yang mungkin dimaksud Paulus dengan "pembinasaan daging" (1 Kor. 5: 5). Mungkin juga, pria yang melakukan inses dalam 1 Korintus 5 adalah pria yang bertobat yang dirujuk kemudian (lihat 2 Kor. 2: 5–10). Disiplin jemaat mencapai tujuannya ketika anggota yang bersalah diintegrasikan kembali ke dalam persekutuan jemaat.



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp