Triwulan 2 Pelajaran 3, 2026. 


Download Powerpoint



PENUNTUN GURU


Bagian I: Tinjauan Umum

Ayat Inti: Lukas 14: 11.

Fokus Pelajaran: Kej. 11: 5, Yes. 14: 12-14, Bil. 12: 3, Luk. 18: 9-14, Mzm. 20: 7.

Pekan lalu, kita dipertemukan dengan diagnosa Tuhan tentang penyakit rohani Laodikia: "Engkau berkata: Aku kaya ... dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang" (Why. 3: 17). Yohanes, nabi akhir zaman, mencela masalah kesombongan rohani yang berakar pada fokus pada "aku", dengan penekanannya pada ego. Kenyataan yang menyadarkan adalah bahwa terlepas dari Tuhan, kita tidak dapat melakukan apa pun untuk mengatasi diri sendiri. Oleh karena itu, kita patut bersyukur bahwa pesan Kitab Suci adalah tentang menyelesaikan masalah diri ini, sebuah masalah yang menyangkut kita masing-masing.

Pekan ini kita akan menganalisis dosa kesombongan untuk memahamı mekanismenya dan memahami bahayanya. Untuk itu, kita akan melanjutkan dalam tiga langkah.

1. Pertama, kita akan menelusuri asal mula kesombongan di surga pada masa ketika Lucifer berencana merebut tempat Allah (Yes. 14: 13).
2. Kemudian kita akan melanjutkan ke bumi untuk memeriksa usaha para pembangun Babel pada saat mereka berencana untuk membuat nama bagi diri mereka sendiri dengan berusaha membangun sebuah menara yang akan mencapai langit (Kej. 11: 4).
3. Pada langkah ketiga, kita akan mempelajari sejumlah contoh kesombongan di samping model-model kerendahan hati yang berseberangan: Firaun dan Musa, Nebukadnezar dan Daniel, serta orang Farisi dan pemungut cukai dalam perumpamaan Yesus (Luk. 18: 9-14). Bagian ketiga ini akan memberikan refleksi perbandingan tentang kesombongan dan kerendahan hati berdasarkan ajaran hikmat Kitab Suci (Ams. 11: 2; 27: 1, 2).

Bagian II: Komentar

Kesombongan Lucifer. Kata kunci mengenai kesombongan Lucifer ditemukan dalam Yesaya 14: 12-15, yang dibingkai dalam konteks nubuatan Yesaya terhadap Babel (Yes. 14: 3-23). Menarik untuk dicatat bahwa bahasa nubuatan terhadap Babel/Lucifer dalam teks ini mengingatkan pada bahasa tuduhan apokaliptik terhadap jemaat Laodikia. Kedua tuduhan tersebut berkaitan dengan pengakuan tentang apa yang "Engkau [Lucifer/Laodikia] yang tadinya berkata" (Yes. 14: 13, TB, bandingkan dengan Why. 3: 17). Sebagaimana dalam surat kepada jemaat Laodikia, nubuatan Yesaya terhadap Lucifer menekankan sudut pandang orang pertama (dalam hal ini, Lucifer), yang diulang lima kali: "Aku hendak naik" naik" ; "Aku akan mendirikan", "Aku hendak duduk", dan "hendak menyamai Yang Maha Tinggi". Sebagaimana dalam surat kepada jemaat Laodikia, nubuatan Yesaya menandai titik balik yang tak terduga ketika menubuatkan: "Engkau diturunkan" (Yes. 14: 15). Dalam kedua nubuat tersebut, para penulis yang terilham menggambarkan skenario kesombongan (sebagaimana ditunjukkan oleh kata "aku" yang penuh kesombongan), yang dengan tegas dikutuk.

Dengan latar belakang ini, mari kita sekarang mengalihkan perhatian kita pada kisah kejatuhan Lucifer. Kisah ini penuh dengan pelajaran rohani. Kita akan mengulasnya poin demi poin:

Nama Lucifer: Permasalahan Lucifer tersirat dalam namanya. Lucifer, yang berasal dari bahasa Latin lux ferre, "pembawa cahaya" , merupakan terjemahan dari nama Ibrani heylal, "cahaya", yang menggemakan seruan pemujaan Ilahi, Haleluya. Dengan demikian, sebagaimana tersirat dari makna namanya, niat terdalam Lucifer (yaitu, apa yang ia cari dalam hatinya [Yes. 14: 13]) adalah untuk disembah.

Kenaikannya: Agar dapat disembah, Lucifer berusaha naik dari tempatnya berada ke tempat Allah, yang berada di atas. Gerakan ke atas ini diulang beberapa kali untuk penekanan. Pertama, kata kerja kunci, yang menggambarkan gerakan-nya, 'alah, "naik", digunakan dua kali, sebagai kata kerja pertama dan terakhir dari rangkaian tindakan dalam frasa "Aku hendak naik ke langit" (Yes. 14: 13) dan "Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan" (Yes. 14: 14). Gerakan ke atas ini kembali bergema dalam kata kerja 'arim, "Aku akan meninggikan", yang secara harfiah berarti "membawa ke atas", merujuk pada takhta Lucifer. Dengan demikian, Lucifer dengan berani bermaksud untuk mengangkat takhtanya "melebihi bintang-bintang Tuhan". , yang berarti bintang-bintang tertinggi.

Tempat tujuan yang ditujuan: Lucifer bertujuan mencapai "bukit pertemuan" Bagian paralelnya, dalam Yehezkiel 28, merujuk pada "gunung Allah" yang kudus (Yeh. 28: 16), yang menunjuk tempat bait Allah, tempat umat Allah berkumpul untuk menyembah Allah. Yesaya 14: 13 memang menetapkan bahwa tempat ini terletak "jauh di sebelah utara" (TB), sebuah superlatif untuk tempat tertinggi, tempat Allah sendiri, tempat Allah disembah di surga. Frasa yang sama digunakan dalam Mazmur 48 untuk menunjuk tempat Bait Suci (Mzm. 48: 2).

Maksud yang mendalam: Bagian ini diakhiri dengan pengungkapan maksud Lucifer yang sebenarnya: "Aku hendak menyamai Yang Mahatinggi" (Yes. 14: 14). Ini adalah kata-kata terakhir Lucifer yang tercatat dalam bagian ini (Yes. 14: 14). Kisah ini menyingkapkan penghujatan kesombongan yang berani dengan segala keangkuhannya: menjadi seperti Allah. Kesimpulannya memperingatkan kita akan akibatnya. Kesombongan yang bertujuan merebut tempat tertinggi di surga, tempat Allah sendiri, akan menyebabkan pemiliknya berakhir "melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang (Why. 3: 17), "ke tempat yang paling dalam di liang kubur" (Yes. 14: 15).

Kesombongan Babel. Bahasa yang digunakan untuk menggambarkan pekerjaan para pembangun Babel menggemakan kisah Penciptaan, dengan jelas menunjukkan niat para pembangun untuk menggantikan dan mengidentifikasi diri mereka sebagai Sang Pencipta. Niat ini telah diantisipasi dalam pasal sebelumnya dalam silsilah bangsa-bangsa, di mana fondasi kerajaan Babel oleh Nimrod diperkenalkan dengan kata teknis re'shit, "utama" (Kej. 10: 12) atau "pada mulanya". Ini adalah kata yang sama yang memperkenalkan karya Penciptaan Allah (Kej. 1: 1).

Demikian pula, para pembangun Menara Babel menunjukkan keinginan yang sama seperti Nimrod untuk menggantikan Allah. Firman Allah, wayyomer, 'Elohim, diterjemahkan sebagai "Allah berfirman" , yang menandai irama karya Penciptaan Allah, juga digunakan di sini dengan para pembangun sebagai sub-jeknya: wayy'omeru, "mereka berkata" (Kej. 11: 3, 4). Penggenapan Ilahi atas Penciptaan wayehi, "dan jadilah" (Kej. 1: 3), kini menggambarkan pencapaian Babel wattehi, "dan mereka telah" (Kej. 11: 3). Bahasa yang sama yang merujuk pada pertimbangan diri Allah ketika Dia bermaksud menciptakan manusia na'aseh, "baiklah Kita menjadikan" (Kej. 1: 26)—muncul kembali empat kali merujuk pada pertimbangan diri para pembangun: "marilah Kita membuat batu bata" (Kej. 11: 3), "marilah Kita ... membakarnya" (Kej. 11: 3), "marilah Kita dirikan" (Kej. 11: 4), dan "marilah Kita cari" (Kej. 11: 4). Bahkan niat mereka untuk "mengadakan suatu nama bagi diri kita" (Kej. 11: 4, TL) merupakan perampasan hak prerogatif Allah, karena Allah adalah satu-satunya yang membuat "namamu masyhur" (Kej. 12: 2) dan satu-satunya yang dapat membuat nama bagi diri-Nya sendiri (Yes. 63: 12, 14; Yer. 32: 20).

Dengan demikian, para pembangun Babel memiliki ambisi yang sama dengan Lucifer. Seperti Lucifer sebelum mereka, para pembangun ingin pergi ke tempat Allah, ke "gerbang Allah" (Bab-EI). Kisah ini berakhir dengan permainan ironis pada nama menara itu: Bab-El ("gerbang Allah"), nama dari upaya pembangunan yang lancang itu, mengarah pada balal, "kacau-balau" (lihat Kej. 11: 9).

Orang yang sombong dan orang yang rendah hati. Kitab Suci tidak memuat tulisan abstrak tentang kesombongan dan kerendahan hati. Kebajikan dan kelemahan paling baik dipahami dalam tindakan individu dalam rangkaian peristiwa. Dengan demikian, dalam Kitab Suci, ajaran tentang kesombongan versus kerendahan hati dicontohkan oleh kisah kontras antara orang yang rendah hati dan sombong: Kain versus Habel, Yakub versus Esau, Yusut versus sau-dara-saudaranya, Firaun versus Musa, dan Daniel versus Nebukadnezar. Dalam pelajaran ini, hanya kontras antara Firaun dan Musa yang akan disajikan.

Firaun versus Musa. Di awal kitab Keluaran, kedua pria itu dihadapkan dengan keanehan Allah. Namun, mereka bereaksi berbeda terhadap kehadiran Allah. Musa bereaksi terhadap Allah dengan menjawab-Nya dengan dua perta-nyaan. Pertanyaan pertama berfokus pada dirinya sendiri: "Siapakah aku ini?" (Kel. 3: 11). Musa merasa tidak berarti di hadapan Allah dan tidak mampu melaksanakan tugas yang harus ia penuhi. Pertanyaan kedua Musa menyangkut Allah sendiri. Musa ingin mengenal-Nya (Kel. 3: 13) agar ia dapat menjalin hubungan dengan-Nya.

Di sisi lain, ketika Firaun mendengar tentang Allah, ia bereaksi dengan menyangkal keberadaan-Nya. Tidak seperti Musa, Firaun menolak untuk mengenal-Nya (Kel. 5: 2). Firaun tidak dapat mengakui keberadaan Allah hanya karena ia menganggap dirinya sebagai Allah. Akibatnya, Firaun menolak untuk mendengar tentang dewa lain. Firaun membatalkan perintah Ilahi untuk membiarkan orang Israel pergi agar mereka dapat memelihara hari Sabat (Kel. 5: 6-9) dan, sebaliknya, memerintahkan Israel untuk bekerja lebih banyak. Lebih dari itu, Tuhan mengenal Musa secara langsung (Ul. 34: 10), sementara Firaun terus menolak Allah dan menolak untuk merendahkan diri di hadapan-Nya (Kel. 10: 3). Sementara Musa dikenang sebagai orang yang paling rendah hati di bumi (Bil. 12: 3), Firaun dikenang sebagai orang yang paling sombong (Kel. 7-10; bandingkan dengan Neh. 9: 10).

Bagian III: Penerapan dalam Kehidupan

Kiat Guru l: Bagaimana kita mati bagi diri sendiri? Sama pentingnya, bagaimana kita menjaga kerendahan hati dalam melayani Sang Pencipta? Untuk mengeksplorasi lebih lanjut jawaban atas topik ini, bacalah renungan di bawah ini dan diskusikan dengan kelas Anda pertanyaan-pertanyaan berikut:

Untuk Direnungkan: Tuhan menganugerahkan kita masing-masing karunia, baik rohani maupun jasmani, untuk memberkati jemaat-Nya. Karunia-karunia ini dapat mencakup menyanyi, berkhotbah, mengajar, menolong, menjamu tamu, menginjili, mendongeng, dll. Sayangnya, terlalu mudah bagi kita untuk melupakan Sang Pemberi karunia dan meninggikan manusia.

1. Apa saja yang dapat Anda lakukan untuk membantu diri Anda tetap rendah hati saat melayani Tuhan dengan karunia yang telah Dia berikan kepada Anda untuk memuliakan-Nya?
2. Apa bahaya kesombongan dan meninggikan diri sendiri?
3. Mengapa kerendahan hati begitu penting saat melayani Tuhan?
4. Diskusikan jawaban Anda atas pertanyaan-pertanyaan di atas berdasarkan pengakuan Paulus: "tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut" (1 Kor. 15: 31). Bagaimana Paulus mengusulkan agar kita mencapai "kema-tian" ini? Mengapa "kematian" ini begitu penting bagi kerendahan hati dan keberhasilan pelayanan kepada Tuhan?

Kiat Guru 2: Bagilah kelas Anda ke dalam kelompok-kelompok kecil dan tugaskan setiap kelompok untuk membahas salah satu kisah kontras berikut dalam hal kesombongan dan kerendahan hati: Kain versus Habel, Abraham versus Lot, Yakub versus Esau, Yusuf versus saudara-saudaranya, dan Daniel versus Nebukadnezar. Berikan setiap kelompok waktu untuk mengeksplorasi kontras tersebut dan mempersiapkan presentasi singkat tentang hasil studi mereka. Ajaklah mereka untuk berbagi ide dengan kelas.

Kain versus Habel (Kejadian 4): Bandingkan arti nama Kain dan Habel, pilihan persembahan mereka, dan percakapan di antara mereka.

Abraham versus Lot (Kejadian 13): Pertimbangkan sikap masing-masing individu dalam hal memilih tanah.

Ishak versus Ismael (Kejadian 18): Bandingkan contoh-contoh tawa dalam narasi tersebut. Kemudian, pertimbangkan kepasrahan Ishak untuk dikorbankan (Kejadian 22).

Yakub versus Esau (Kejadian 27): Bandingkan sikap saudara-saudaranya terhadap hak kesulungan dan perjumpaan mereka selanjutnya dalam Kejadian 33.

Yusuf versus saudara-saudaranya (Kejadian 37): Bandingkan respons saudara-saudara Yusut terhadap mımpınya dengan ketakutan mereka akan pembalasan di kemudian hari (Kejadian 50).

Nebukadnezar versus Daniel (Daniel 1, Daniel 3, Daniel 4): Pertimbangkan kerendahan hati Daniel yang penuh kemurahan hati dalam menghadapi mandat raja. Bandingkan juga upaya Nebukadnezar untuk merebut kedaulatan Allah dalam Daniel 3 dengan pengalaman kerendahan hatinya yang hina dalam Daniel 4.



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp