Triwulan 2 Pelajaran 3, 2026. 


Download Powerpoint




Minggu, 12 April 2026.

Cengkeraman Erat Kesombongan


Kesombongan. Ketika Anda mendengar kata ini, mungkin yang terbayang adalah seorang politisi yang angkuh, orang kaya atau terkenal, atau seekor burung merak. Kesombongan adalah perasaan bahwa Anda lebih penting atau lebih baik daripada orang lain. Memang, kesombongan adalah suatu perasaan— dan itu adalah perasaan yang tidak bisa dan tidak seharusnya dijadikan sandaran.

Kesombongan pertama kali dimulai dari Lucifer, kerub penjaga, yang melayani Allah dari dekat. Kita tidak tahu kapan atau bagaimana pikiran-pikiran egois itu merayap masuk ke dalam hatinya, tetapi kita tahu bahwa pikiran-pikiran itulah yang mendorong alam semesta ke dalam apa yang kita kenal sebagai pertentangan besar. Kita melihat bahwa Iblis adalah lawan dari Allah. (Bandingkan Yes. 14: 12-14 dan Flp. 2: 5-11.) Akibatnya, dunia kita telah bergumul dengan konsekuensi dosa sejak saat Iblis menanamkan keraguan dalam pikiran Adam dan Hawa, lalu menggoda mereka untuk mencintai dan memercayai diri sendiri lebih dari Allah.

Bacalah 1 Yohanes 2: 15-17. Apakah tiga hal utama yang diajarkan ayat ini kepada Anda tentang kesombongan dan mencintai dunia?

Apakah kesombongan dapat bersifat positif? Mungkin tidak dalam konteks yang biasa kita pahami, meskipun kita kadang menggunakan kata ini secara po-sitif, misalnya ketika membicarakan pencapaian seseorang atau sebagai ungkapan apresiasi yang mendalam atas sesuatu yang telah dilakukan seseorang ("Saya bangga padamu!"). Penting untuk dipahami bahwa mengejar keunggulan dan pengakuan dan penghargaan akan karunia-karunia dan kemampuan-kemampuan yang telah diberikan Allah kepada kita tidaklah sama dengan sikap sombong. Menurut Alkitab, ada bentuk kasih terhadap diri sendiri yang benar (pikirkan perintah Yesus dalam Markus 12: 31, di mana Dia berkata untuk mengasihi sesama manusia seperti kita mengasihi diri sendiri), tetapi kasih ini tidaklah egois. Seseorang juga tidak disebut sombong ketika mereka memiliki kehadiran Allah dalam hidup mereka dan menjalani hidup dengan tujuan yang jelas (lihat 1 Tim.3: 1). Seseorang menjadi sombong ketika mereka tidak memberikan kemuliaan kepada Allah atas apa yang sedang dikerjakan-Nya dalam hidup mereka.

Kita harus selalu ingat bahwa kepemilikan, kemampuan, dan pencapaian kita tidak menentukan nilai diri kita. Sebaliknya, nilai kita selalu berasal dari Allah, karena segala sesuatu yang kita miliki, bahkan hal-hal yang bisa menggoda kita untuk menjadi sombong, pada akhirnya hanya berasal dari Dia. Ini adalah hal yang tidak boleh kita lupakan.

Tanyakan pada diri sendiri: Seberapa sombong saya sebenarnya? Bagaimanakah kesombongan pribadi mungkin memengaruhi hubungan saya dengan Allah dan dengan sesama?



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp