Triwulan 2 Pelajaran 11, 2026.
Ayat Inti: Ayub 42: 5, 6.
Fokus Pelajaran: Kej. 50: 20, Rm. 8: 28, Ay. 10: 9, Ay. 13: 15, Ay. 19:23-27, Luk. 24: 13-35.
Sebagai orang Kristen yang setia, kita dapat dengan yakin berharap Allah akan melindungi kita dari kejahatan dan bahaya, dan kita tentu memiliki alasan yang kuat untuk percaya bahwa Dia akan melakukannya. Lagi pula, Allah telah berjanji untuk memelihara dan memberkati kita (Bil. 6: 24). Kita berusaha untuk menghormati-Nya dalam segala hal yang kita lakukan, agar kita tidak kehilangan berkat ini atau mengklaimnya dengan sombong. Namun, kita mungkin masıh jatuh sakit dan menderita ketidakadilan serta penindasan dalam hidup ini. Pada saat-saat sepertı itu, kita berseru kepada Allah memohon pertolongan.
Kıta tıdak sendırıan dalam permohonan kita kepada Tuhan selama masa-masa gelap dalam kehidupan. Kitab Suci penuh dengan kisah umat-umat Tuhan yang menderita dan berseru minta tolong. Kitab Mazmur dipenuhi dengan permo-honan orang-orang saleh yang berseru kepada Tuhan untuk melepaskan mereka dari kejahatan (Mzm. 71: 4; 97: 10). Kitab Ayub, khususnya, menggambarkan fenomena ini. Ayub adalah orang yang saleh; namun, terlepas dari semua kese-tiaannya, ia menderita banyak kesensaraan dan kesedihan. Ayub tidak meng-erti alasan penderitaannya. Dalam kesedihan, ia berseru kepada Tuhan dalam menghadapi apa yang tampaknya merupakan ketidakadilan yang besar. Kasus Ayub patut kita perhatikan karena alasan ini. Ayub mengalami kasih karunia Tuhan melalui sudut-sudut yang berlawanan dari kebahagiaan dan kesengsaraan. Dalam batasan dua sudut ini menggambarkan konfliknya yang menantang, Ayub belajar untuk berharap.
Pengalaman Kasih Karunia. Kitab Ayub dimulai dengan catatan tegas tentang kebajikan-kebajikan Ayub yang agung. Menurut penulis Kitab Suci, Ayub "saleh dan jujur" (Ay. 1: 1). Ayub juga dianggap "yang terkaya dari semua orang di sebelah Timur" (Ay. 1: 3). Bahkan Allah bersaksi tentang keistimewaan dan keunikan Ayub, dengan mengatakan, "Tiada seorang pun di bumi seperti dia" (Ay. 1: 8). Menurut semua penilaian tentang Ayub, ia adalah manusia yang sempurna. Namun, di akhir kitab, Ayub, menanggapi Allah, mengakui bahwa pada saat ia dinilai "sempurna", hubungannya dengan Allah masih pada tahap awal: "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau" (Ay. 42: 5). Ayub kemudian menambahkan bahwa "sekarang", setelah pengalaman penderi-taannya, "mataku sendiri memandang Engkau" (Ay. 42: 5). Dengan demikian, Ayub menyadari bahwa ada sesuatu yang penting yang awalnya menghalanginya untuk melihat Allah.
Apa Itu?
Pembacaan Kitab Suci yang saksama, dan khususnya penggunaan kata khi-nam yang berulang, yang berarti "tanpa apa-apa" atau "cuma-cuma" akan mem-bantu kita menjawab pertanyaan ini. Kata kinam muncul pertama kali dalam kitab Ayub dalam bentuk pertanyaan ketika Iblis menjawab Allah, yang baru saja memuji Ayub atas kesalehannya: Apakah Ayub melayani Allah "dengan tıdak mendapat apa-apa [khinam]?" (Ay. 1: 9). Argumen Iblis adalah bahwa Allah terlalu protektif terhadap Ayub. Untuk membuktikan pendapatnya, Iblis kemudian mengajukan tantangan kepada Allah: Biarlah aku menjamah milik Ayub dan "jamahlah segala yang dipunyainya" (Ay. 1: 11). Iblis bertaruh bahwa Ayub kemudian akan berdosa. Allah mengizinkan seluruh harta benda Ayub berada dalam jangkauan kuasa Iblis yang dahsyat. Serangan oleh orang-orang Syeba, api dari langit, dan angin kencang menghancurkan harta bendanya (Ayub 1: 13-19). Setelah kehancuran itu, Ayub kehilangan semua yang dimilikinya.
Meskipun Ayub berduka, ia tidak berbuat dosa (Ay. 1: 22).
Menanggapi tuduhan Iblis, Allah menggunakan kata yang sama, khinam, yang digunakan Iblis ketika ia menuduh-Nya memasang pagar pelindung di sekeliling Ayub. Tuhan berfirman, "Engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan [khinam]" (Ay. 2: 3). Ayub menegaskan gagasan ini ketika ia menggunakan kata yang sama kemudian dalam keluhannya kepada Allah tentang luka-lukanya, yang berlipat ganda menjadi kinam, "tanpa alasan" (Ay. 9: 17).
Kata khinam, yang berasal dari kata khen, "kasih karunia", , oleh karena itu, merupakan kata kunci penting yang menandai nasib Ayub. Di satu sisi, Ayub menderita "tanpa sebab" (khinam). Di sisi lain, Ayub dituduh melayani Tuhan dengan motif mementingkan diri sendiri dan menginginkan kemakmuran. Tuduhan Iblis ini juga bergema dalam kecurigaan teman-teman Ayub (Ay. 34: 9; 35: 3). Bahkan, Ayub sendiri tampaknya menganut gagasan ini ketika ia menye-butkan perbuatan baiknya (Ay. 29: 12-17; 31: 1) dan mengumumkan harapannya untuk mendapatkan pahala atas perbuatannya (Ay. 29: 18). Namun, yang hilang dalam hubungan Ayub dengan Tuhan adalah pengalaman kasıh karunia. Ayub harus melewati pengalaman penderitaan "tanpa sebab", "tanpa apa-apa"; yaitu, tanpa harapan akan mantaat apa pun, untuk memahamı anugerah kasıh karunıa Allah yang tidak layak diterimanya.
Masalah Penderitaan. Kitab Ayub menekankan bahwa Iblislah yang memu-lai penderitaan dalam umat manusia (Ay. 1: 12). Allah sendiri menegaskan tang-gung jawab Iblis atas penderitaan Ayub (Ay. 2: 6). Ellen G. White sangat jelas tentang siapa yang harus disalahkan atas penderitaan Ayub: "Kisah Ayub telah menunjukkan bahwa penderitaan disebabkan oleh Iblis"-The Desire of Ages, hlm. 471. Yesus juga menghubungkan penderitaan dengan musuh (Mat. 13: 28). Lalu, apakah Ayub salah ketıka ıa menyatakan bahwa Allah bertanggung jawab atas rasa sakitnya?
Di sepanjang Kitab Ayub, Ayub mengaitkan tindakan Allah sebagai Pribadi yang bertanggung jawab atas penindasan yang dialaminya (Ay. 10: 3) dan yang mengguncangnya hingga berkeping-keping (Ay. 16: 12). Ayub bahkan berargumen, "Kalau bukan oleh Dia, oleh siapa lagi?" (Ay. 9: 24). Namun, di akhir kitab, Allah menanggapi pernyataan Ayub dengan menyebutkan karya-karya Penciptaan-Nya (Ay. 38, 39). Pembelaan Allah terhadap pernyataan Ayub bahwa Dia adalah sang penghancur adalah bahwa Dia adalah Sang Pencipta. Jadi, ketika Ayub menempatkan Allah sebagai sumber penderitaan, ia sebenarnya menyuarakan penegasan monoteistik bahwa hanya ada satu Allah, satu kuasa, yang pada akhirnya bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada umat manusia. Tuhan, melalui Musa, mengungkapkan gagasan ini dengan kata-kata berikut: "Aku, Akulah Dia, tidak ada Allah kecuali Aku; Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan; Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuh-kan" (Ul. 32: 39). Paradoks ini mencerminkan hakikat dan kualitas iman Ayub.
Sebagaimana Ayub katakan tentang Tuhan, "lihatlah, la hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku, namun aku hendak membela perilakuku di hadapan-Nya" (Ay. 13: 15). Orang Ibrani yang beriman memiliki keyakinan bahwa kebaikan, maupun keburukan, berasal dari tangan Allah (Ams. 16: 4) karena ia mengetahui realitas kebaikan dan kasih karunia Allah, dan percaya, terlepas dari keadaan dan situasi hidup yang jahat (Kej. 50: 20; Rm. 8: 28).
Visi Kebangkitan. Kepada sahabat Ayub, Bildad, yang menuduhnya sebagai orang jahat (Ay. 18) yang tidak mengenal Allah, dan, karena itu, pantas untuk dikubur (Ay. 18: 21), Ayub menjawab: "Aku tahu: Penebusku hidup" (Ay. 19: 25). "Dari dalam badanku juga aku akan memandang Allah" (Ay. 19: 26, TL). Dalam dua ayat ini, Ayub meneguhkan imannya akan kebangkitannya, yang akan terjadi di akhir zaman, ketika "Penebusku hidup [yang saat ini hidup] dan akhirnya la akan bangkit di atas debu" (Ay. 19: 25). Maka, dari dalam dagingnya yang tersiksa, Ayub menarik paradoks harapan berikut: "Sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah" (Ay. 19: 26).
Dalam ayat ini, Ayub tidak merujuk pada pengalaman nyata yang terjadi dalam hidupnya saat ini. la juga tidak merujuk pada keabadian pribadinya setelah kematian. Peristiwa yang ia bicarakan berkaitan dengan peristiwa kosmik yang menyangkut "bumi", sebuah peristiwa eskatologis yang terjadi di masa depan yang jauh—'akharon, "akhir", atau hari terakhir. Peristiwa ini tak lain adalah kebangkitan orang mati, di mana ia, dalam "dagingnya" (Ay. 19: 26), akan melihat Allah (Penebusnya) dengan mata kepalanya sendiri (Ay. 19: 27).
Menggemakan kembali kata-kata terakhir Bildad (Ay. 18: 21), Ayub secara ironis mengakhiri pidatonya dengan peringatan ini: "Agar kamu tahu, bahwa ada pengadilan" (Ay. 19: 29). Harapan Ayub akan kebangkitannya dengan demikian terhubung dengan hari penghakiman, seperti dalam kitab Daniel (Dan. 12: 1-3). Yesus mengingatkan Marta akan harapan ini pada hari kebangkitan Lazarus (Yoh. 11: 23). Kemudian Paulus berkhotbah tentang harapan yang penuh berkat itu kepada mereka yang menyangkalnya (1 Kor. 15: 12-19). Harapan inilah yang merupakan pesan terakhir Kitab Suci: satu-satunya solusi bagi permasalahan dunia adalah penciptaan Allah akan "langit yang baru dan bumi yang baru" di mana "maut tidak akan ada lagi, atau dukacita" (Why. 21: 1, 4).
Kiat Guru: Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat didiskusikan oleh seluruh kelas atau dalam kelompok-kelompok kecil, tergantung pilihan. Jika Anda memilih untuk membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil, luangkan waktu yang cukup untuk membahas pertanyaan tersebut, dan sisakan waktu yang cukup untuk mempresentasikan gagasan mereka di akhir kelas.
Selain itu, doronglah anggota kelas di pekan mendatang untuk mengikuti satu atau lebih latihan yang tercantum di bagian kegiatan berikut. Kemudian, undang-lah anggota kelas untuk berbagi pengalaman mereka dengan kelas pada Sabat berikutnya. Bagaimana kegiatan tersebut memperkuat iman mereka? Bagaimana kegiatan tersebut mendekatkan mereka kepada Yesus?
Pertanyaan untuk Diskusi:
1. Bagaimana Anda akan menghibur orang yang menderita tanpa alasan yang jelas, seperti yang dialami Ayub?
2. Bagaimana Anda akan menanggapi mereka yang mempertanyakan kesalehan dan ketaatan beragama bagi orang yang sakit?
3. Mintalah anggota kelas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Akankah iman Anda tetap teguh jika Tuhan tidak memberikan kesembuhan sebagai jawaban atas doa Anda bagi orang yang Anda kasihi?
4. Apakah Anda siap bersyukur kepada Tuhan atas penderitaan Anda (penyakit, kegagalan ujian, dll.), meskipun Anda telah melakukan yang terbaik? Diskusikan.
5. Apakah Anda menyalahkan orang miskin atas kondisi mereka? Jelaskan
6. Apa argumen Anda terhadap mereka yang mengatakan bahwa Anda pantas menerima kegagalan Anda? Apa pendapat Anda tentang gagasan bahwa Tuhan akan menjawab semua doa Anda sesuai harapan Anda dan bahwa kesuksesan akan selalu memahkotai kehidupan umat Tuhan?
7. Mengapa respons menyeluruh Tuhan berupa ciptaan baru merupakan satu-satunya solusi bagi masalah pribadi kita dan bagi masalah dunia yang terluka?
Aktivitas:
1. Tulislah sebuah khotbah atau eulogi untuk disampaikan di makam orangterkasih atau teman yang telah tiada. Kirimkan kepada keluarga yang berduka untuk menghibur mereka.
2. Bagikan kisah hidup Anda sendiri di mana Anda mengalami kasih karunia Tuhan di masa-masa sulit. Belajarlah untuk bersyukur kepada Tuhan atas hal-hal baik maupun buruk dalam hidup.
3. Kunjungi teman yang sakit di rumah sakit atau orang yang sakit parah. Kata-kata penghiburan apa yang akan Anda bagikan kepadanya?
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat