Triwulan 2 Pelajaran 11, 2026.
Ketika kita memikirkan kemunduran dalam Alkitab, mungkin Ayub adalah tokoh pertama yang terlintas di benak kita. Ia tidak hanya kehilangan semua hartanya (Ayub 1:14-17), tetapi juga kehilangan anak-anaknya (Ayub 1:18, 19) dan kesehatannya (Ayub 2:7). Istrinya bahkan mencoba meyakinkannya untuk mengutuki Allah dan mati saja (Ayub 2:9).
Setelah beberapa waktu, tiga sahabat datang untuk duduk bersama Ayub. Mereka begitu terkejut melihat keadaannya hingga mereka duduk diam bersamanya selama tujuh hari (Ayub 2:13). Akhirnya, ketika mereka berbicara, mereka mencoba memberikan alasan manusiawi mengapa kemalangan seperti itu menimpa Ayub, tetapi saat melakukannya, mereka secara tidak sengaja justru menambah penderitaannya. Ketiga sahabat itu menyalahkannya, mengatakan bahwa pasti ada dosa tersembunyi dalam hidup Ayub yang harus ia sesali (Ayub 8, 11, 15), bahkan mengatakan, “Sungguh, demikianlah tempat kediaman orang yang curang, begitulah tempat tinggal orang yang tidak mengenal Allah" (Ayub 18: 21).
Bagaimanakah tanggapan Ayub? Bacalah Ayub 19: 23-27 dan Ayub 23: 8-12.
Terlepas dari tragedi yang mengelilinginya, dan fakta bahwa ia tidak memahaminya, Ayub tetap setia. Ia bertahan. Ia tidak menyalahkan atau mengutuki Allah. Sebaliknya, ketika tergoda untuk menyalahkan Allah, ia menyatakan: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21).
Kita pun hidup di tengah pertempuran yang sama. Iblis menimpa kita dengan rasa sakit, penderitaan, kehilangan, dan kesulitan sebagai bagian dari rencananya untuk mendistorsi gambaran kita tentang Allah yang penuh kasih. Dalam masa-masa seperti itu, kita bisa memilih satu dari dua cara: menyalahkan dan menolak Allah, atau berpegang kepada-Nya sekuat tenaga. Meskipun pertempuran berkecamuk di sekitar kita, kita harus ingat bahwa dalam terang kekekalan, penderitaan kita saat ini hanyalah pencobaan sementara (2 Korintus 4:16-18). Ada begitu banyak hal dalam gambaran besar yang tidak kita lihat sekarang, dan salah satu tantangan terbesar bagi seorang percaya adalah memercayai Allah bahkan dalam masa tergelap sekalipun. Allah telah, dalam banyak cara, menyatakan kepada kita kenyataan kasih-Nya. Kita harus berpaut pada kebenaran penting ini-bahwa Allah adalah kasih bahkan ketika kita tidak merasakannya saat itu.
Jika Anda sedang mengalami masa sulit saat ini, larilah kepada Allah. Ambillah Alkitab dan buku catatan, dan beradalah bersama Allah di alam terbuka. Salinlah Roma 5: 3-5 dan renungkanlah berbagai pesan dalam bagian ayat ini, sambil percaya bahwa kasih dan pemeliharaan Allah atas Anda adalah faktor yang paling pasti dan stabil dalam hidup Anda.
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat