Triwulan 2 Pelajaran 11, 2026.
Yesus telah menghabiskan hari itu mengajar kerumunan besar orang di tepi pantai Galilea. Kata-kata Yesus akan bergema dalam pikiran orang-orang untuk waktu yang lama, bahkan hingga kekekalan.
Saat malam tiba, Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya, mengundang mereka dalam perjalanan bersama-Nya. "Marilah kita bertolak ke seberang" (Markus 4:35). Yesus tahu badai akan datang, tetapi tetap mengajak mereka pergi. Ia memiliki pelajaran hidup penting yang ingin Ia ajarkan kepada para pengikut terdekat-Nya. Anda mungkin sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Bacalah kembali kisah badai ini dalam Markus 4: 35-41. Pelajaran iman apakah yang bisa Anda ambil dari peristiwa ini?
Pertimbangkan poin-poin berikut:
1. Yesus tertidur dengan kepala di atas satu-satunya bantal di perahu. Perahu nelayan biasanya hanya memiliki satu bantal, yang digunakan oleh pengemudi di buritan. Posisi buritan adalah tempat pengemudi mengarahkan kapal. Jadi, di sini Yesus berada di posisi "pengemudi" perahu, namun Ia tertidur.
2. Tidak semua murid itu baru dalam hal berlayar. Petrus, Yakobus, dan Yohanes adalah nelayan berpengalaman. Mereka mengenal Danau Galilea seperti telapak tangan mereka dan tahu cara menghadapi badai.
3. Ini adalah satu-satunya catatan dalam Injil di mana Yesus tertidur. Di tengah salah satu badai terburuk dalam hidup mereka, saat para murid sangat ketakutan dan mengira akan mati, Yesus tertidur di buritan.
4. Respons para murid dalam saat krisis adalah: "Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?" (Markus 4:38). Mereka mempertanyakan karakter Yesus dan kasih-Nya. Terlalu sering, ini juga menjadi respons kita ketika menghadapi masa sulit.
Dalam keputusasaan, kita bisa mencoba menyelamatkan diri sendiri (seperti para murid), atau saat merasakan sakit dan kehilangan, kita mulai meragukan kasih dan perhatian Allah kepada kita. Kita mengira bahwa Allah harus bertindak seperti yang kita pikirkan dari perspektif manusiawi kita. Tetapi, seperti para murid, justru dalam badai kehidupan, Allah dapat melakukan mukjizat terbesar. Allah selalu setia, bahkan saat ketidakterlibatan-Nya tampak tidak masuk akal bagi kita. Ia hadir dalam badai kita dan dapat menenangkan badai ketika kita tidak bisa.
Apakah respons Anda ketika menghadapi badai dalam hidup? Bagaimanakah momen-momen seperti itu memengaruhi hubungan Anda dengan Allah? Kapan terakhir kali Anda menjalani hidup berdasarkan 2 Korintus 5: 7?
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat