Triwulan 1 Pelajaran 11, 2026.
Saat ini kita sering mendengar banyak slogan: "Akhiri perang!" "Akhiri penggundulan hutan!" "Akhiri senjata nuklir!" Tetapi mungkin kita tidak pernah mendengar slogan "Akhiri keduniawian!" Slogan itu tidak sesuai dengan cara pandang dunia ini. Bukan berarti slogan-slogan lainnya salah, atau apa yang mereka perjuangkan itu salah. Hanya saja, semua itu sangat berjangka pendek jika dibandingkan dengan kekekalan. Fokus kita seharusnya lebih tinggi, yaitu pada kehidupan kekekalan.
Bacalah Kolose 3: 5, 6 (lihat juga Roma 6: 1-7). Bagaimanakah kita mengalami makna mati terhadap diri sendiri dan keduniawian serta hidup untuk "perkara-perkara yang di atas" (Kol. 3: 1)?
Meskipun secara rohani kita telah mati bersama Kristus, bagian-bagian dari diri kita yakni dorongan dan godaan yang muncul dari tubuh dan pikiran kita masih perlu dimatikan.
Namun, ada dua hal yang perlu kita pahami terkait perintah ini.
Pertama, dalam Kolose 3: 1, bentuk bahasa Yunani yang Paulus pakai mengasumsikan bahwa kita memang telah dibangkitkan bersama Kristus.
Kedua, perintah dalam Kolose 3: 5 adalah konsekuensi dari fakta tersebut ("Karena itu"). Kita dapat mematikan hal-hal duniawi seperti (percabulan, kenajisan, hawa nafsu, keinginan jahat, keserakahan, dan sebagainya) hanya karena kita telah dibangkitkan bersama Kristus dan memiliki kehidupan serta kuasa rohani-Nya untuk menyingkirkan hal-hal itu dari pikiran dan kehidupan kita.
Menariknya, satu-satunya kemunculan frasa "murka Allah" yang persis sama dalam bahasa Yunani seperti dalam Kolose 3: 6, terdapat dalam Roma 1: 18. Allah "menyerahkan" manusia kepada cara hidup mereka yang jahat, dan karena itu murka-Nya juga "akan datang" (lihat Why. 6: 16, 17) "atas orang-orang yang tidak taat" (Kol. 3: 6). Dalam Roma 1: 18; Paulus merujuk pada "kefasikan dan kelaliman," dan secara khusus menyamakan "kenajisan" (menggunakan kata Yunani yang sama yang ditemukan dalam Kolose 3: 5) dengan orang-orang yang menuruti “keinginan hati mereka sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka" (Rm. 1: 24).
Bagaimana mereka mencemarkan tubuh mereka? Pertama, karena mereka menolak untuk mengakui Sang Pencipta, dan juga melalui “hawa nafsu yang hina. Sebab istri-istri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka" (Rm. 1: 26, 27).
Bagaimanakah kita menaati perkataan "Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi" (Kol. 3: 5)?
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat