Triwulan 1 Pelajaran 11, 2026. 


Download Powerpoint




Minggu, 8 Maret 2026.

Pikiran Surgawi


Bacalah Kolose 3: 1-4. Kondisi apakah yang Paulus tunjukkan sebagai syarat agar kita dapat berpikiran surgawi? Menurut Anda apakah artinya itu?

Dari puncak gunung, seseorang dapat melihat pemandangan alam yang luas di sekelilingnya. Sejak zaman dahulu, gunung sering dikunjungi oleh mereka yang ingin mencari pengalaman lebih dekat dengan Allah (lihat Mzm. 121: 1, 2). Bahkan gunung buatan manusia, yang disebut ziggurat, telah dibangun oleh penyembah berhala untuk tujuan yang sama-bertemu dengan para dewa. Menariknya, Kota Ur, yang Abram dipanggil untuk tinggalkan, memiliki sebuah ziggurat besar yang dapat terlihat dari kejauhan. Namun, naik ke tempat yang lebih tinggi tidak akan serta-merta membawa seseorang lebih dekat kepada Tuhan dalam aspek kerohanian. Upaya manusia tidak pernah mampu melakukannya.

Sebaliknya, hanya melalui mukjizat kasih karunia, di mana kita mati bersama Kristus dan dibangkitkan bersama Dia (disimbolkan melalui baptisan [Kol. 2: 12, 13]) kita dapat datang lebih dekat ke surga.

Perhatikan bahwa sejak awal Kolose 3, terdapat penekanan berulang pada Hal-hal di atas, yaitu apa yang ada di surga: "perkara yang di atas," "di mana Kristus ada," "perkara yang di atas," "bersama Kristus di dalam Allah," "bersama dengan Dia dalam kemuliaan" (Kol. 3: 1-4).

Memang, ada banyak hal dalam kehidupan orang Kristen yang sulit dijelaskan. Bagaimana mungkin seseorang benar-benar “mati” dan “dibangkitkan" sementara, secara kasat mata, ia tetap orang yang sama dan tidak mengalami peristiwa hidup-mati secara harfiah? Ada banyak hal yang tidak masuk akal bagi pikiran alami yang tidak dipengaruhi oleh Roh Kudus. Namun, bagi mereka yang berpikiran secara rohani, karena telah menerima hati yang baru seperti yang dijanjikan Allah-kematian terhadap dosa dan kebangkitan bersama Kristus adalah kenyataan yang sejati. Seperti yang ditegaskan dalam sebuah lagu: "Ku tahu karena la hidup, hidup di hatiku."

Namun demikian, Paulus memberikan perintah-perintah ini karena kehidupan rohani kita perlu dibarui secara terus-menerus (lihat 2 Kor. 4: 16). Kita memang bisa jatuh dan tersesat! Dan kita tidak pernah benar-benar aman dari pencobaan dalam hidup ini.

Karena itu, kita harus setiap hari memilih untuk "mencari perkara yang di atas" (Kol. 3: 1). Hidup kekal kita aman "tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah" (Kol. 3: 3), tetapi ekspresi lahiriah dari kehidupan itu sama sekali tidak tersembunyi.

Ke manakah pikiran Anda biasanya tertuju: tertuju ke atas atau ke bawah? Jika lebih sering ke bawah, bagaimanakah Anda bisa mengarahkannya ke atas?



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp