Triwulan 1 Pelajaran 10, 2026. 


Download Powerpoint




Kamis, 5 Maret 2026.

Perintah-Perintah Manusia


Bacalah Kolose 2: 20-23. Bagaimanakah Anda memahami nasihat Paulus dalam terang unsur-unsur lain yang dibahas dalam pasal ini?

Sebagaimana dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus menunjukkan kekhawatiran akan pemeliharaan upacara-upacara Yahudi sebagai "roh-roh dunia" (Kol. 2: 8, 20; bandingkan Gal. 4: 3, 9). Dengan kata lain, seperti halnya Bait Suci duniawi, hal-hal ini termasuk dalam ranah duniawi, sedangkan kewarganegaraan kita ada di surga. Kita tidak perlu terbebani oleh hukum-hukum upacara karena itu hanya merupakan bayangan dari apa yang kini kita nikmati dalam Kristus. Artinya, meskipun awalnya diberikan oleh Allah, ketetapan-ketetapan ini, setelah memenuhi tujuannya, tidak diperlukan lagi.

Karena semua peraturan ini telah dihapuskan di kayu salib, sebagaimana ditunjukkan oleh tindakan Tuhan yang merobek tabir Bait Suci (Mat. 27: 51; bandingkan Dan. 9: 27), orang Kristen (termasuk orang Yahudi-Kristen) tidak lagi terikat pada peraturan-peraturan tersebut. Dengan menurutinya, kita justru akan menyamakan diri kita dengan dunia ini yang sedang lenyap, berbeda dengan dunia baru yang dijanjikan kepada kita dalam Kristus.

Lagi pula, kita menantikan “langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran" (2 Ptr. 3: 13), dan bukan sekadar pembaruan dari dunia yang lama ini.

Selain fakta bahwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat telah menambahkan ketentuan-ketentuan manusia ke dalam hukum Musa (lihat Markus 7: 1–13), pemeliharaan upacara-upacara Perjanjian Lama, yang telah digenapi oleh Kristus, tidak lagi dapat dianggap sebagai kewajiban dari Allah, melainkan hanya sebagai tuntutan yang diberlakukan oleh manusia. Memang, tampaknya upacara-upacara itu justru menjadi beban bagi iman, bukan sesuatu yang memperkuatnya. Sangat mudah untuk mulai melihat pelaksanaan semua ini bukan hanya sebagai cara untuk menjadikan diri sendiri lebih unggul dari mereka yang tidak melakukannya, yang sudah cukup buruk, tetapi juga mungkin tanpa disadari dianggap berjasa bagi keselamatan, suatu jerat yang kita tidak ingin masuk di dalamnya.

Sepanjang sejarah Kekristenan, para ahli Alkitab telah menyerah pada godaan untuk mengeluarkan keputusan keagamaan, merebut peran Roh Kudus dalam membimbing orang percaya mengenai makna teks Kitab Suci. Kristus sendiri adalah sumber mata air dari mana kebenaran Kitab Suci mengalir, sebagaimana diajarkan oleh Paulus dan para penulis Alkitab lainnya.

Bagaimanakah kita dapat memastikan bahwa kita memahami satu-satunya dasar keselamatan kita adalah apa yang telah Yesus lakukan bagi kita, di luar diri kita, menggantikan kita, tanpa memedulikan pada apa pun yang Dia lakukan dalam diri kita?



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp