Triwulan 4 Pelajaran 1, 2026. 


Download Powerpoint



PENUNTUN GURU


Bagian I: Tinjauan Umum

Ayat Inti: Ibrani 1:1,2.

Fokus Pelajaran: Kej. 1:27, 28; Kej. 3:1-8, 14-24; Luk. 15:11-32; Kel. 19:16-22; Ibr: 1:1, 2; Yoh. 10:27-30.

Pendahuluan
Dalam Kejadian 2:4-25, Adam dan Hawa menikmati persekutuan yang intim dengan Tuhan, berjalan dan berbicara dengan-Nya muka dengan muka. Namun, Kejatuhan yang tragis ke dalam dosa mengganggu persekutuan ini, dan orang tua asli umat manusia kehilangan jalur komunikasi langsung mereka dengan Sang Pencipta. Namun, Tuhan tidak meninggalkan pencarian-Nya terhadap umat manusia. Sebaliknya, Dia menetapkan cara-cara baru untuk berkomunı-kasi, menengahi kehadiran-Nya melalui para nabi, Firman Tertulis, dan akhirnya Putra-Nya, Yesus Kristus. Pelajaran pertama ini menegaskan bahwa, meskipun cara komunikasi Tuhan berubah setelah Kejatuhan, keinginan-Nya untuk berbicara dengan umat manusia tidak pernah berhenti. Saat ini, Tuhan terus berkomunikasi melalui Kitab Suci, di mana para nabi dan rasul memberikan kesaksıan yang bersatu tentang Kristus. Sebagai perwujudan kontemporer dari komunikasi Iahi ini, Ellen G. White juga menunjuk kepada Kristus dengan menegaskan kesaksian Alkitab.

Bagian II: Komentar

1. Adam dan Hawa menikmati persekutuan yang sempurna satu sama lain dan hubungan yang erat, muka dengan muka dengan Tuhan di Taman Eden.

Adam dan Hawa diciptakan di dunia yang sempurna, melampaui imajinasi terindah kita. Taman Eden adalah tempat kediaman suci kehadiran Allah di bumi. Karena Allah Tritunggal pada dasarnya bersifat relasional, la menciptakan manusia menurut gambar-Nya untuk mencerminkan sifat relasional ini. Karunia terbesar-Nya kepada umat manusia yang tidak jatuh adalah kemampuan untuk terlibat dengan-Nya dalam persekutuan pribadi dan relasional. Dengan demi-kian, Adam dan Hawa menikmati persekutuan langsung, muka dengan muka dengan Tuhan di lingkungan yang sempurna ini.

2. Dosa mengganggu keadaan sempurna di Taman Eden, dan manusia kehilangan persekutuan muka dengan muka dengan Tuhan.

Saat Adam dan Hawa yang tidak berdosa memakan buah terlarang, mereka mengalami kesadaran diri yang baru: "Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat" (Kej. 3:7). Persekutuan yang intim, sempurna, dan muka dengan muka dengan Tuhan terputus. Ketika pasangan yang ketakutan itu "men-dengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk." suatu pengalaman yang sebelumnya mereka sambut dengan sukacita, sekarang "bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman" (Kej. 3:8).

Menurut Richard Davidson: "Ketika Tuhan datang ke taman setelah Adam dan Hawa berdosa, Dia memulai suatu pertemuan yang tidak lain adalah 'proses hukum, suatu 'pengadilan penghukuman oleh Tuhan.' Tuhan memulai proses menun dedai Amangdertavi parg berdikvm dan angan pan dekansif dan hubungan antarmanusia (suami-istri) dan hubungan lahi-manusia yang telah terjadi sebagai akibat dari dosa. Setelah interogasi hukum dan penetapan kesalahan, Tuhan mengucapkan hukuman dalam bentuk kutukan (atas ular dan tanah, ayat 14, 17) dan hukuman (bagi laki-laki dan perempuan, ayat 16-19)"— Davidson, Flame of Yahweh: Sexuality in the Old Testament (Peabody, MA: Hendrickson Publishers, 2007), hlm. 58, 59.

Sayangnya, Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden, dan Tuhan "menempat-kan kerub dan pedang berapi" untuk menjaga "jalan menuju pohon kehidupan" (Kej. 3:24, ESV) . "Kerub yang menjaga Eden mewakili lebih dari sekadar penjaga bersenjata. Mereka menandakan awal kehadiran Tuhan yang ditarik kembali ke surga, dan kehadiran yang dimediasi di bumi melalui simbol dan utusan/ malaikat"-Dru Johnson, The Universal Story: Genesis I-11 , dalam ed. Craig G. Bartholomew et al., Transformative Word (Bellingham, WA: Lexham Press, 2018), hlm. 52.

3. Begitu dosa masuk ke dunia, Tuhan mengambil inisiatif untuk memulihkan hubungan-Nya dengan umat manusia yang hilang.

Adam dan Hawa sangat terpukul. Dunia mereka berubah menjadi lebih buruk dalam sekejap. Saat pasangan yang bersalah itu mendengarkan Tuhan mengucapkan kutukan dan penghakiman, mereka mendengar janji pengharapan. Di jantung penghakiman ini, Injil kasih karunia muncul. Benih yang dijanjikan akan datang dan mengalahkan ular serta mewujudkan keselamatan bagi umat manusia. Kejadian 3:15 adalah pusat sastra dari Kejadian 3 dan dianggap sebagai pengumuman pertama Injil.

Segera setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Tuhan mengumumkan bahwa semua wahyu lahi di masa depan akan berpusat pada pribadi dan misi Penebus yang akan datang. Seluruh Kitab Suci selanjutnya mengalir dari janji ini. "Pernyataan yang mengejutkan tentang kepastian Allah untuk mengutus Keturunan itu dan mengalahkan ular (Iblis) untuk meneguhkan penebusan umat manusia adalah dasar dan kunci untuk pengakuan suara kenabian dalam Perjanjian Lama"— Jiři Moskala, "Suara Nubuat dalam Perjanjian Lama: Pandangan Umum," dalam Alberto R. Timm dan Dwain N. Esmond. eds., Karunia Nubuat dalam Alkitab dan Sejarah (Bandung: Penerbit Advent Indonesia, 2021), hlm. 14.

Menariknya, kata yang digunakan untuk "memanggil" dalam Kejadian 3:9 adalah kata yang sama digunakan ketika Allah memanggil para nabi untuk melayani (Yes. 51:2) . Meskipun digunakan di sini dalam konteks penghakiman, konotasi hubungan dan keterkaitan tetap ada.

4. Setelah Kejatuhan, dengan berbicara dalam berbagai cara, akhirnya melalui pribadi Yesus Kristus—Allah membuka jalur komunikasi dengan umat manusia yang berdosa.

Tidak dapat lagi melihat Tuhan dengan penglihatan manusia atau mendengar suara-Nya secara langsung, manusia menerima komunikasi lahi melalui perantara manusia. Ibrani 1:1 mengatakan bahwa Allah "berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi." Selama berabad-abad, Allah berkomunikasi dengan umat-Nya melalui juru bicara seperti Nuh, Henokh, Abraham, Ishak, Yakub, Musa, Samuel, Daud, dan para nabi kanonik. Ia memberikan wahyu kepada individu-individu ini "pada banyak waktu dan dengan banyak cara," seperti teofani, mimpi dan penglihatan, ucapan lahi, dan malaikat. la juga berbicara melalui Urim dan Tumim, mukjizat, dan tanda-tanda. Inilah cara-cara Allah berbicara di masa lalu selama era Perjanjian Lama.

"Maka pada zaman akhir ini la telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya" (Ibr. 1:2). Firman Perjanjian Lama masih berotoritas sebagai Firman Allah, tetapi harus dibaca melalui penggenapan yang terwujud dalam Yesus Kristus. Dialah wahyu Allah yang paling utama dan definitif. "Yang lama datang secara terpisah dan episodik-sedikit di sini, sedikit di sanadan akibat-nya, tidak lengkap, sebagian, dan tidak sempurna. Tetapi yang baru datang dalam satu ucapan klimaks dari Allah Bapa, pada satu waktu, dalam satu pribadi: Anak-Nya. Dengan Yesus, semua wahyu Allah dari Perjanjian Lama dikumpulkan dan melebihi"—William G. Johnsson, "Hebrews," dalam Angel M. Rodriguez, ed., Andrews Bible Commentary (Berrien Springs, MI: Andrews University Press, 2022), hlm. 1824, 1825.

5. Pengalaman pertobatan Ellen G. White mempersiapkannya untuk menjadi perwujudan karunia nubuat yang berpusat pada Kristus dan kontemporer.

Karunia nubuat di luar zaman Alkitab tidak akan menambahkan apa pun pada Perjanjian Baru, melainkan akan menegaskan pengesahannya kepada Kristus. Kisah pertobatan Ellen White muda meletakkan dasar bagi kecintaan dan gairah seumur hidupnya kepada Yesus Kristus. Ia memandang Bapa Surgawi sebagai Allah yang penuh kasih yang ingin menyelamatkan manusia melalui karya penebusan Putra-Nya. Perspektif ini akan menjadi inti dari pelayanan kenabiannya dan tema favoritnya: kasih kebapaan dari Allah.

Dalam salah satu pernyataannya yang paling menyentuh, ia menulis: "Semua kasih sayang kebapaan yang telah turun dari generasi ke generasi melalui saluran hati manusia, semua sumber kelembutan yang telah terbuka di dalam jiwa manu-sia, hanyalah seperti aliran kecil di lautan yang tak terbatas jika dibandingkan dengan kasih Allah yang tak terhingga dan tak habis-habisnya. Lidah tidak dapat mengungkapkannya; pena tidak dapat menggambarkannya. Anda dapat merenungkannya setiap hari dalam hidup Anda; Anda dapat meneliti Kitab Suci dengan tekun untuk memahaminya; Anda dapat mengarahkan setiap kekuatan dan kemampuan yang telah Allah berikan kepada Anda, dalam upaya untuk memahami kasih dan belas kasihan Bapa surgawi; namun masih ada tak terhingga melebisihnya. Anda dapat mempelajari kasih itu selama berabad-abad; namun Anda tidak akan pernah sepenuhnya memahami panjang dan lebar, kedalaman dan ketinggian, kasih Allah dalam memberikan Putra-Nya untuk mati bagi dunia. Kekekalan itu sedikit tidak akan pernah sepenuhnya mengungkapkannya. Namun ketika kita mempelajari Alkitab dan merenungkan kehidupan Kristus dan rencana penebusan, tema-tema besar ini akan semakin terbuka bagi pemahaman kita"— Ellen G. White, Testimonies for the Church, vol. 5, hlm. 740.

Bagian III: Aplikasi Kehidupan

Pertanyaan-pertanyaan aplikasi kehidupan berikut, diambil dari komentar di atas, ditawarkan untuk memperkaya diskusi kelas Anda. Pilihlah di antara pertanyaan-pertanyaan ini, dan dari pertanyaan-pertanyaan dalam pelajaran, yang paling baik melibatkan kelas Anda dalam refleksi yang bermakna.

1. Sebelum berdosa, Adam dan Hawa berbicara dengan Tuhan "tanpa ada tirai pemisah"-Ellen G. White, Sejarah Para Nabi, hlm. 44. Bagaimana menurut Anda rasanya mengalami persekutuan muka dengan muka dengan Yang Mahakuasa di Taman Eden, "tanpa ada tirai pemisah"?
2. Kata Ibrani untuk "mengetahui" berarti pengetahuan relasional dan pengalaman, serta pengetahuan intelektual dan pemahaman. Berdasarkan definisi ini, bagaimana Adam dan Hawa "tahu" bahwa mereka "telan-jang" (Kej. 3:7)?
3. Bagaimana dosa mengubah komunikasi antara Allah dan manusia?
4. Apa arti hidup di hadapan hadirat Tuhan bagi kita saat ini, meskipun kita tidak lagi melihat-Nya muka dengan muka?
5. Bagaimana kita dapat memupuk hubungan pribadi yang lebih dalam dengan Tuhan setiap hari, seperti yang pernah dialami Adam dan Hawa di Taman Eden?
6. Apa artinya bahwa seluruh Kitab Suci mengalir dari janji Injil pertama dalam Kejadian 3:15? Bagaimana kita melihat tema ini diulangi di seluruh Alkitab?
7. Ibrani 1:1, 2 mengatakan bahwa di zaman dahulu, Allah berbicara melalui para nabi, tetapi pada hari-hari terakhir la berbicara melalui Anak-Nya. Bagaimana kehidupan dan ajaran Yesus memberi kita gambaran yang paling jelas tentang Allah?
8. Dengan cara apa Tuhan masih berkomunikasi dengan kita sekarang ini? Bagaimana kita bisa lebih memperhatikan suara-Nya?
9. Tema favorit Ellen G. White adalah kasih kebapaan dari Allah. Bagaimana perenungan tentang kasih Allah mengubah perspektif kita tentang kehidupan dan iman?



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp