Triwulan 4 Pelajaran 1, 2026.
Kita dapat melihat dari Kejadian 3: 9, 10 bahwa Allah mengambil inisiatif untuk mencari anak-anak-Nya yang telah jatuh. Pertanyaan "Di manakah engkau?" adalah pertanyaan retoris, karena Allah tahu apa yang telah dilakukan Adam dan Hawa serta di mana mereka berada. Namun demikian, dosa memutuskan komunikasi yang biasanya terjalin antara Dia dan pasangan manusia pertama itu. Perhatian utama Allah adalah memulihkan komunikasi dengan anak-anak-Nya, bertemu dengan mereka, dan memberi mereka pengharapan dalam keputusasaan mereka. Faktanya, kata kerja Ibrani gara', "memanggil," dalam Kejadian 3: 9, sering digunakan untuk menggambarkan panggilan Allah untuk menjalin komunikasi dengan umat-Nya.
Bacalah Lukas 15: 11-32. Bagaimanakah perumpamaan ini mencerminkan apa yang terjadi dalam Kejadian 3: 9, 10?
Tindakan Allah mencari Adam dan Hawa mengungkapkan kasih-Nya yang tanpa syarat bagi anak-anak-Nya. Allah tidak pernah menyerah terhadap kita (lihat Luk. 15). Dia berusaha keras untuk membangun kembali persekutuan-Nya dengan kita, bahkan ketika kita bersembunyi. Sebelum penyaliban Yesus, ketika Petrus menyangkal Yesus tiga kali, Kristus "berpaling memandang" (Luk. 22: 61) kepadanya. Bahkan tanpa kata-kata, Ia "berbicara" kepada Petrus dan berusaha menjangkau sahabat-Nya yang bersalah itu.
Perhatikan, dalam Kejadian 3: 11-13, bagaimana dosa tiba-tiba mengubah hubungan Adam dan Hawa. Alih-alih mengakui dosa masing-masing, mereka mulai menyalahkan orang lain. Adam menyalahkan Hawa dan, secara tidak langsung, menyalahkan Allah karena Ia memberinya Hawa. "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan," katanya (Kej. 3: 12). Hawa, sementara itu, menyalahkan ular atas ketidaktaatannya. "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan" (Kej. 3: 13) adalah alasannya. Tak satu pun dari mereka, setidaknya ketika pertama kali dikonfrontasi atas dosa mereka, mau mengakui kesalahan mereka sendiri. Betapa sedikit yang berubah dalam enam ribu tahun.
Kenyataannya adalah bahwa dosa telah memengaruhi semua manusia. Rasul Paulus menggambarkan kondisi kita dengan baik dalam Roma 7: 15-24, ketika ia merinci penderitaan karena menginginkan untuk melakukan apa yang benar, hanya untuk mendapati dirinya melakukan yang sebaliknya: "Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat" (Rm. 7: 15).
Siapa yang tidak dapat merasakannya?
Apa yang Paulus katakan sangat mendalam. Kita semua adalah orang-orang hancur yang terus melakukan halhal yang kita tahu tidak seharusnya kita lakukan. Siapa yang belum pernah mengalami kenyataan ini?
Satu-satunya harapan kita, kata Paulus, adalah kelepasan "oleh Yesus Kristus, Tuhan kita" (Rm. 7: 25). Inilah sebabnya Allah terus mencari kita untuk memimpin kita kepada Yesus, yang satu-satunya dapat memulihkan kita menjadi gambar-Nya dan menyelamatkan kita dari kehancuran yang disebabkan oleh dosa.
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat