Triwulan 4 Pelajaran 1, 2026. 


Download Powerpoint




Senin, 28 September 2026.

Bersembunyi dari Allah


Karena Allah adalah kasih (1 Yoh. 4: 8), Ia tidak akan menciptakan "robot" manusia. Kasih mencakup pilihan. Agar dapat mengasihi, Adam dan Hawa harus diciptakan dengan kehendak bebas; jika tidak, kasih-kasih yang sejati-mustahil dapat mereka berikan.

Jadi, Adam dan Hawa memiliki kebebasan untuk menaati atau tidak menaati Pencipta mereka. Realitas pilihan bebas ini digambarkan dalam perintah untuk tidak makan dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (lihat Kej. 2: 15-17). Mengapa memperingatkan mereka agar tidak memakannya kecuali mereka memiliki kebebasan untuk melakukannya sejak awal?

"Leluhur kita yang pertama itu, sekalipun diciptakan dalam keadaan suci dan tidak berdosa, tidaklah ditempatkan dalam suatu keadaan di mana mereka tidak mungkin berbuat salah. Allah menjadikan mereka sebagai makhluk yang mempunyai kebebasan, sanggup untuk menghargai kebijaksanaan serta kebajikan dari pada tabiat-Nya dan keadilan tuntutan-Nya, dan dengan kebebasan yang penuh mereka bisa memilih untuk menurut atau tidak. Mereka direncanakan untuk dapat menikmati persekutuan dengan Allah dan malaikat-malaikat suci. ... Tanpa kebebasan memilih, penurutannya tidaklah bersifat sukarela tetapi terpaksa" -Ellen G. White, Sejarah Para Nabi (1999), jld. 1, hlm. 41.

Mengapa Adam dan Hawa berusaha bersembunyi dari Pencipta mereka setelah mereka tidak menaati-Nya? Lihat Kejadian 3: 1-8 (bandingkan dengan Yer. 23: 24 dan Ibr. 4: 13).

Kejadian 3 menggambarkan pemandangan yang mengerikan-kejatuhan Adam dan Hawa. Setelah percakapan epik antara ular (Iblis) dan Hawa, orang tua pertama kita tergoda untuk makan dari "pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat," yang dilarang bagi mereka. Iblis menggunakan kekuatan kata-kata, emosi, dan bujukan yang menyenangkan untuk meyakinkan Hawa, yang kemudian meyakinkan Adam, untuk melanggar perintah Allah. Hawa memperhatikan bahwa pohon itu "baik untuk dimakan," "sedap kelihatannya," dan "menarik hati karena memberi pengertian" (Kej. 3: 6). Janji Iblis bahwa mereka akan menjadi "seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat" (Kej. 3: 5) terdengar sangat menggiurkan.

Pada kenyataannya, perkataan Iblis dipenuhi dengan kesalahan; Iblis menyembunyikan dari mereka konsekuensi ketidaktaatan mereka. Setelah mereka tidak menaati Allah, mata mereka segera "terbuka," dan mereka melihat bahwa mereka "telanjang". "Jubah" terang dan kemuliaan Allah (Mzm. 104: 1, 2), yang memantulkan "gambar" Ilahi, telah lenyap. Mereka tidak lagi tertutup oleh apa yang telah Allah sediakan bagi mereka. Tidak mengherankan Adam dan Hawa menyembunyikan diri dari Pencipta mereka (seolah-olah benar-benar mungkin untuk bersembunyi dari Allah). Mereka berusaha bersembunyi karena dosa membuat kita merasa bersalah dan, dalam rasa bersalah kita, kita ingin lari dari hadirat Allah.

Bagaimanakah pengalaman Anda sendiri dengan rasa malu dan upaya bersembunyi dari Allah setelah Anda berbuat dosa?



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp