Triwulan 3 Pelajaran 8, 2026.
Bacalah 1 Korintus 15: 54–57. Apakah yang dikatakan ayat ini kepada kita tentang kemenangan akhir kita atas maut?
Paulus memulai paragraf terakhir dalam 1 Korintus 15 dengan pernyataan yang menarik: "Daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah" (1 Kor. 15: 50). Banyak pembaca Alkitab menggunakan pernyataan ini untuk mengatakan bahwa Paulus membela keberadaan non-materi di surga. Tetapi konteksnya menunjukkan sebaliknya. Paralelisme dalam 1 Korintus 15: 50 menunjukkan bahwa "daging dan darah" sejajar dengan "kebinasaan", seperti "Kerajaan Allah" yang sejajar dengan "ketidakbinasaan". Sama seperti yang terjadi dalam 1 Korintus 15: 42–49, di sini pun Paulus membandingkan tubuh sekarang (atau bahkan mayat) dengan tubuh kebangkitan. Tubuh yang dikuburkan ditandai oleh kebinasaan dan kefanaan, sedangkan tubuh kebangkitan dicirikan oleh ketidakbinasaan dan keabadian (1 Kor. 15: 50, 53, 54). Sederhananya, Paulus mengatakan bahwa tubuh kita perlu mengalami transformasi radikal untuk dapat mewarisi surga.
Singkatnya, Paulus menggunakan gagasan kebinasaan dan kefanaan untuk merujuk pada natur kita yang berdosa. Dalam tulisan-tulisan Yahudi, "daging dan darah" adalah frasa untuk kemanusiaan yang telah jatuh dalam dosa, itulah sebabnya tubuh kita harus diubah dan dibersihkan dari semua ketidaksempurnaan pada saat kedatangan-Nya.
Hanya ketika keadaan tubuh kita yang berdosa dihilangkan (1 Kor. 15: 54) dan kita melalui proses pemuliaan (1 Kor. 15: 51–53, 1 Tes. 4: 13–17) barulah proklamasi "Maut telah ditelan dalam kemenangan" (1 Kor. 15: 54) akan digenapi. Kemudian, himne yang berani dan menantang ini akan dinyanyikan: "Hai maut, di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" (1 Kor. 15: 55). Semua ini akan terjadi pada kedatangan Kristus yang kedua kali (1 Kor. 15: 51, 52).
Pikirkan tentang ini: Kita menutup mata kita dalam kematian, dan hal berikutnya yang akan kita alami adalah kedatangan Yesus yang kedua, ketika Dia membangkitkan kita dari antara orang mati. Tidak peduli kapan seorang umat percaya meninggal, bahkan ribuan tahun yang lalu, "dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah" (1 Kor. 15: 52).
Siapa yang belum pernah mengeluhkan betapa cepatnya hidup ini berlalu? Dalam pengalaman kita sendiri, begitulah cepatnya kedatangan Yesus yang kedua kali akan terasa. Mungkin pikiran pertama kita saat kedatangan-Nya adalah "Wah, Tuhan, kedatangan-Mu benar-benar cepat!" Bagaimanakah gagasan ini membantu kita lebih memahami apa yang dianggap sebagai "penundaan"?
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat