Triwulan 3 Pelajaran 8, 2026.
Jika Yesus tidak hidup, harapan apa pun tentang masa depan hanyalah delusi (1 Kor. 15: 12–19). "Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati" (1 Kor. 15: 20). Kebangkitan-Nya adalah peristiwa bersejarah. Akibatnya, kita dapat yakin bahwa semua yang telah mati dalam Kristus akan dibangkitkan pada kedatangan-Nya yang kedua kali (1 Kor. 15: 20–23).
Bacalah 1 Korintus 15: 20–23. Apakah artinya mengatakan bahwa Yesus adalah "buah sulung"?
Akhir dari zaman yang jahat sekarang ini akan ditandai dengan kebangkitan fisik orang-orang yang mati dalam Kristus (1 Kor. 15: 24; Why. 20: 5, 6). Sebagai Adam yang terakhir, Kristus akan menyerahkan kerajaan kembali kepada Bapa dengan mengembalikan pemerintahan dunia ini kepada-Nya (1 Kor. 15: 25–28). Penaklukan diri Kristus kepada Allah (1 Kor. 15: 28) harus dipahami dalam konteks bagaimana Adam dan Kristus digambarkan dalam hubungan satu sama lain. Sebagai Adam yang utama dalam rencana penebusan (1 Kor. 15: 45), Yesus menyerahkan diri-Nya sepenuhnya pada kehendak Bapa, sesuatu yang gagal dilakukan oleh Adam pertama.
Dalam 1 Korintus 15: 29–34, Paulus melanjutkan pemikirannya tentang kebodohan menyangkal kebangkitan Kristus. Ia menggunakan ilustrasi baptisan karena baptisan itu sendiri adalah simbol persatuan orang percaya dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya (Rm. 6: 3, 4; Kol. 2: 12); tidak masuk akal untuk menyangkal realitas kebangkitan. Namun, yang sulit dipahami adalah apa yang dimaksud Paulus dengan ungkapan "dibaptis bagi orang mati" (1 Kor. 15: 29).
"Berbagai pendapat telah ditawarkan, tetapi lebih baik menafsirkan ungkapan itu sebagai merujuk pada keputusan beberapa orang untuk dibaptis agar mereka dapat dipersatukan kembali dengan orang-orang terkasih yang telah meninggal pada saat kebangkitan. Bisa juga keputusan untuk dibaptis merupakan tanggapan terhadap kehidupan teladan dari mereka yang telah mati dalam Kristus. Kasus ini merujuk pada orang-orang yang tidak dibaptis sebagai ganti orang mati tetapi oleh karena orang mati"—Carl P. Cosaert, "1 Corinthians", Andrews Bible Commentary: New Testament (Berrien Springs, MI: Andrews University Press, 2022), hlm. 1.652.
Kedua, mempertaruhkan nyawa akan sia-sia jika tidak ada kebangkitan (1 Kor. 15: 30–32). Sebaliknya, akan lebih baik untuk menikmati kesenangan dunia ini (1 Kor. 15: 32).
Renungkan kata-kata Paulus dalam 2 Timotius 1: 12. Bagaimanakah ia bisa begitu yakin tentang masa depan? Bagaimanakah kita bisa?
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat