Triwulan 3 Pelajaran 7, 2026.
Ayat Inti: 1 Korintus 13: 13.
Fokus Pelajaran: 1 Kor. 13: 1-13.
Pendahuluan
Anna tinggal bersama neneknya yang sudah lanjut usia. Teman-temannya sering mengajaknya keluar, tetapi ia memilih untuk tinggal di rumah, memasak, membersihkan rumah, dan membacakan buku untuk neneknya, yang terkadang melupakan namanya karena demensia.
Suatu malam, nenek Anna menjadi frustrasi dan membentaknya, melupakan semua kebaikan yang telah ditunjukkan Anna. Alih-alih marah atau pergi, Anna dengan lembut memegang tangannya dan berkata, "Tidak apa-apa, Nek. Aku menyayangimu." Ia terus merawatnya, bahkan ketika tidak ada rasa terima kasih sebagai balasannya.
Anna tidak melayani untuk pengakuan atau penghargaan. la tidak mencari pujian. Ia hanya mengasihi dengan sabar, dengan murah hati, tanpa rasa iri, sombong, atau dendam. Kasihnya bertahan, bahkan ketika sulit.
Paulus menggambarkan jenis kasih ini dalam 1 Korintus 13—kasih yang bukan sekadar kata-kata atau emosi, melainkan pilihan sehari-hari untuk tidak mementingkan diri sendiri, mengampuni, dan teguh. Itu adalah jenis kasih yang mencerminkan kasih Allah bagi kita, jenis kasih yang tidak berkesudahan.
Tema Pelajaran
Satu Korintus 13, yang sering disebut "Pasal Kasih," adalah salah satu peri-kop paling mendalam dalam Alkitab. Paulus menempatkan kasih sebagai pusat kehidupan Kristen, menunjukkan bahwa kasih lebih unggul daripada karunia rohani, pengetahuan, dan bahkan iman. Pekan ini, kita akan melihat tiga tema utama berikut dari Pasal Kasih:
Keunggulan Kasih (1 Kor. 13: 1-3)
Karakteristik Kasih (1 Kor. 13: 4-8)
Ketahanan Kasih (1 Kor. 13: 8-13)
1. Latar Belakang: Kasih dalam Tulisan Yunani dan Filsafat Abad Pertama Masehi: Di dunia abad pertama Masehi, kasih adalah konsep yang dibahas secara luas dalam filsafat dan sastra Yunani-Romawi dan merupakan bagian penting dari pemikiran Yahudi. Namun, cara kasih dipahami sangat ber-variasi. Penyair Romawi, seperti Ovid, dalam Ars Amatoria ("Seni Mencintai"), lebih berfokus pada gagasan cinta sebagai pengejaran yang penuh keahlian, sering kali terkait dengan manipulasi dan rayuan. Cinta sering dikaitkan dengan kecantikan, hasrat, dan penaklukan daripada ketidakegoisan.
Orang Yunani dan Romawi kuno memiliki banyak kata untuk cinta/kasih, masing-masing mencerminkan aspek hubungan manusia yang berbeda: Erõs (Épwç) sebagian besar digunakan untuk menunjukkan cinta yang bergairah, romantis, atau seksual. Eros sering dilihat sebagai keinginan yang kuat atau bahkan kekuatan berbahaya yang dapat menyebabkan irasionalitas. Plato, dalam karyanya Symposium, bagaimanapun, membahas eros sebagai sesuatu yang dapat menuntun seseorang dari ketertarikan fisik ke pengejaran keindahan Ilahi yang lebih tinggi. Philia (puía) digunakan untuk menggambarkan persahabatan atau kasih persaudaraan dan sering kali mencirikan hubungan antara orang-orang yang setara. Aristoteles menggambarkan philia, dalam Nicomachean Ethics, sebagai hal yang penting bagi kehidupan yang berbudi luhur dan memuaskan, khususnya dalam persahabatan yang didasarkan pada kebaikan bersama. Storgē (otopyn) menggambarkan kasih kekeluargaan, seperti ikatan alami antara orang tua dan anak-anak. Bentuk kasih ini dipandang sebagai naluriah dan protektif.
Akhirnya, agapē (åyánn) sering memiliki konotasi kasih tanpa syarat yang tidak mementingkan diri sendiri. Meskipun istilah ini sudah ada sebelum Kekristenan, istilah ini tidak umum ditekankan dalam teks-teks filosofis Yunani. Tulisan-tulisan Paulus-khususnya penggunaannya atas kata tersebut dalam 1 Korintus 13—menyoroti kasih ini.
Dalam pemikiran Yahudi, kasih terikat erat dengan hubungan perjanjian, baik antara Allah dan Israel maupun di antara individu. Kitab Suci Ibrani menekankan (1) kasih setia Allah (hesed) yang menggambarkan kasih perjanjian-Nya. Kasih ini setia, penuh belas kasihan, dan abadi (misalnya, refrein yang ditemukan dalam Mazmur 136: 2, "Kasih setia-Nya untuk selama-lamanya" [TB]); (2) kasih terhadap sesama, seperti yang ditemukan dalam perintah Imamat 19: 18 ("Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" [TB]), sebuah prinsip yang kemudian ditegaskan kembali oleh Yesus (Markus 12: 31); dan (3) kasih dalam keluarga dan pernikahan, sebagaimana digambarkan dalam Amsal dan Kidung Agung.
Pada abad pertama, para guru Yahudi, seperti orang-orang Farisi, menekankan ketaatan pada hukum sebagai ungkapan kasih kepada Allah (Ul. 6: 5). Deskripsi Paulus tentang kasih dalam 1 Korintus 13 revolusioner pada masanya. Tidak seperti cinta yang kompetitif dan didorong oleh status di dunia Yunani-Romawi atau legalisme beberapa guru Yahudi, Paulus menyajikan agape sebagai kebajikan tertinggi—lebih besar daripada pengetahuan, kekuasaan, atau bahkan karunia rohani. Tidak seperti erõs, yang mencari kepuasan pribadi, kasih yang Paulus jelaskan dalam 1 Korintus 13 bersifat pengorbanan. Kebalikan dari mencari keuntungan sendiri, kasih ini melampaui sekadar emosi dan bersifat abadi serta didorong oleh tindakan. Ini mewakili cara hidup, yang menuntut kesabaran, kemurahan hati, dan kerendahan hati.
Visi Paulus tentang kasih lebih selaras dengan hesed perjanjian Allah daripada cita-cita filosotıs Yunanı; namun, vısınya juga melampauı pandangan Yahudi tradisional dengan bersikeras bahwa kasih—bukan torah-adalah dasar etika Kristen.
2. Keunggulan Kasih (1 Kor. 13: 1-3): Satu Korintus 13 adalah bagian dari ajaran Paulus tentang karunia-karunia rohani (1 Kor. 12-14), di mana ia menekankan bahwa kasih lebih besar daripada karunia atau kemampuan apa pun. Kasih lebih besar daripada pengetahuan, kekuasaan, atau bahkan iman itu sendiri. Paulus menggambarkan kasih, bukan sebagai emosi tetapi sebagai sikap sabar, murah hati, tidak mementingkan diri sendiri, dan bertahan. Jenis kasih ini (agapē) adalah pusat kehidupan Kristen. Ini bukan sekadar cita-cita tetapi panggilan untuk bertindak—menantang orang percaya untuk mencerminkan kasih Allah dalam setiap hubungan dan situasi.
Pada tahun 1904, Ellen G. White menulis pernyataan berikut: "Tuhan menginginkan saya untuk meminta perhatian umat-Nya pada pasal ketiga belas darı Satu Korintus. Bacalah pasal ini setiap hari, dan darinya perolehlah penghiburan dan kekuatan. Pelajarilah darinya nilai yang Allah tempatkan pada kasih yang disucikan dan lahir dari surga, dan biarkan pelajaran yang diajarkannya meresap ke dalam hati Anda. Pelajarilah bahwa kasih seperti Kristus adalah kelahiran surgawi, dan bahwa tanpanya semua kualifikasi lainnya tidak berharga"—The Advent Review and Sabbath Herald, 21 Juli 1904.
Paulus memulai dengan menekankan bahwa tanpa kasih, bahkan karunia rohani dan tindakan keagamaan yang paling mengesankan pun tidak ada artinya. Ia mencantumkan tiga contoh. (1) Menurut Paulus, berbicara dengan "bahasa manusia dan bahasa malaikat" tanpa kasih sama saja seperti "gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing" (1 Kor. 13: 1). (2) Seseorang dengan kuasa nubuat, pengetahuan, dan bahkan iman adalah "sama sekali tidak berguna" (1 Kor. 13: 2) tanpa kasih. (3) Tindakan kedermawanan dan pengorbanan yang ekstrem "sedikit pun tidak ada faedahnya" (1 Kor. 13: 3) bagi pemberi, jika tidak dimotivasi oleh kasih. Karena Allah adalah kasih (1 Yoh. 4: 8), "la hanya dapat dikenal sepenuhnya melalui kasih. ... Tanpa kasih kita tidak dapat mengenal Allah, dan tanpa Allah kita bukan apa-apa"—"1 Corinthians" dalam Andrews Bible Commentary, ed. Angel Manuel Rodríguez et al. (Berrien Springs, MI: Andrews University Press, 2022), hlm. 1.643. Bagian ini menyoroti fakta bahwa karunia rohani dan pengabdian keagamaan harus berakar pada kasih agar memiliki makna yang sejati.
3. Karakteristik Kasih (1 Kor. 13: 4-8): Dalam ayat-ayat berikutnya, Paulus menjelaskan sifat kasih. Kasih bukan sekadar emosi tetapi cara hidup yang aktif. Menariknya, Paulus tidak menggunakan kata sifat untuk mendefinisikan sifat kasih melainkan kata kerja. Secara total ia menggunakan 16 kata kerja, sembilan di antaranya menggambarkan nilai negatif dan tujuh dengan nilai positif atau konstruktif. Tabel berikut menawarkan tinjauan visual (dan didasarkan pada tabel yang ditemukan dałam Andrews Bible Commentary, hlm. 1.644):
Daftar ini kontras dengan perilaku orang-orang Korintus. Orang-orang Korintus bergumul dengan kesombongan, perpecahan, dan persaingan atas karunia rohani. Paulus memanggil mereka ke standar kasih yang lebih tinggi, sebuah gagasan yang juga ditegaskan dalam tulisan-tulisan Ellen White: "Atribut yang paling dihargai Kristus dalam diri manusia adalah kasih amal (charity/love) yang keluar dari hati yang murni. Ini adalah buah yang dihasilkan di pohon Kristen"— Manuscript 16, hlm. 1.892.
4. Ketahanan Kasih (1 Kor. 13: 8-13): Paulus menyimpulkan dengan menunjukkan bahwa kasih itu abadi, sedangkan karunia rohani bersifat semen-tara. "Kasih tidak berkesudahan" tulis Paulus dalam 1 Korintus 13: 8, tetapi karunia (nubuat, bahasa roh, pengetahuan) akan berakhir. Karunia-karunia ini hanya dibutuhkan dalam keadaan duniawi kita yang tidak sempurna, tetapi karu-nia-karunia itu tidak lagi diperlukan ketika kita mencapai pengetahuan penuh di hadirat Allah. Dalam 1 Korintus 13: 12, Paulus mengingatkan pendengarnya bahwa penglihatan manusia, pada kondisi terbaiknya, hanya melihat "gam-baran yang samar-samar." la membandingkan kesadaran yang samar ini dengan jaminan bahwa kita akan melihat "muka dengan muka" di dalam kerajaan itu. Paulus membandingkan pemahaman kita saat ini dengan melihat pantulan yang kabur di cermin. Dalam kekekalan, kita akan mengenal Allah sepenuhnya dan dikenal sepenuhnya oleh-Nya. Dari ketiga kebajikan iman, pengharapan, dan kasih, hanya kasih yang akan tetap ada, karena kasih adalah yang "paling besar" dari kebajikan-kebajikan itu. Sementara iman dan pengharapan sangat penting dalam kehidupan kita saat ini, kasih adalah satu-satunya yang akan berlanjut selamanya dalam kekekalan.
Wacana Paulus tentang kasih dalam 1 Korintus 13 menekankan bahwa kasih adalah dasar iman dan hubungan Kristen. Kasih (atau agapē) bukan tentang emosi, ketertarikan, atau keuntungan pribadi. Sebaliknya, itu adalah prinsip yang memberi diri, bertahan, dan mengubahkan yang mencerminkan kasih Allah bagi kita. Paulus menantang orang percaya untuk mewujudkan kasih ini dalam kehidupan sehari-hari mereka, menjadikannya kebajikan tertinggi dalam iman dan tindakan mereka.
Paulus mengatakan bahwa bahkan karunia rohani yang besar dan tindakan pengorbanan tidak ada artinya tanpa kasih. Menurut Anda mengapa kasih lebih penting daripada pengetahuan, iman, atau kedermawanan?
Dapatkah Anda memikirkan contoh di mana orang melakukan "hal-hal baik" tetapi tanpa kasih? Bagaimanakah hal itu memengaruhi dampak tindakan mereka?
Bagaimanakah 1 Korintus 13 menantang cara kita mendefinisikan kesuk-sesan?
Manakah dari deskripsi kasih (misalnya, kesabaran, kemurahan hati, tidak mencari keuntungan sendiri) yang paling menonjol bagi Anda? Mengapa?
Manakah dari karakteristik yang disebutkan di atas yang paling sulit
Anda praktikkan dalam kehidupan sehari-hari? Bagaimanakah Anda dapat bertumbuh di area tersebut?
Bagaimanakah Anda dapat mempraktikkan kasih agapē dalam situasi di mana Anda tidak merasa ingin mengasihi (misalnya, hubungan yang sulit, ketidaksepakatan, frustrasi sehari-hari)?
Pikirkan tentang seseorang dalam hidup Anda yang benar-benar mencontohkan jenis kasih yang dijelaskan Paulus dalam 1 Korintus 13. Apakah yang dapat Anda pelajari dari orang ini?
Bagaimanakah memahami kasih Allah membantu kita untuk mengasihi orang lain dengan lebih baik?
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat