Triwulan 3 Pelajaran 7, 2026.
Sejauh ini, kita telah belajar bahwa kasih itu sabar, murah hati, penuh sukacita, tangguh, percaya, penuh harap, dan tabah (atau tekun) karena semua hal tersebut adalah Yesus. Begitu kita melihat kualitas-kualitas ini dalam Yesus, langkah berikutnya adalah meneladani-Nya. Itulah harapan Paulus bagi jemaat Korintus. Namun, jika kita menghilangkan kata "tidak" dalam delapan ciri negatif kasih, "kita mendapatkan gambaran yang cukup baik tentang perilaku jemaat Korintus di dalam lingkaran gereja mereka: iri hati, memegahkan diri, sombong, tidak sopan, mencari keuntungan diri sendiri, mudah tersinggung, dan mencari-cari kesalahan orang lain. Paulus menyesuaikan kata kerja yang ia gunakan di sini dengan situasi di Korintus"—Verlyn D. Verbrugge, "1 Corinthians", dalam The Expositor's Bible Commentary: Romans–Galatians, edisi revisi (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2008), hlm. 372.
Jemaat Korintus harus banyak belajar. Begitu juga kita. Setelah menggambarkan apa yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh kasih, Paulus menyimpulkan bagiannya dengan menekankan sifat kekal kasih untuk merangsang praktik kasih yang sejati.
Suatu hari nanti, nubuat tidak akan diperlukan lagi; kita hanya akan berbicara satu bahasa; dan pengetahuan manusia yang tidak sempurna akan digantikan oleh pengetahuan yang sama sekali baru tentang Allah (1 Kor. 13: 12). Karunia-karunia Roh akan berhenti hanya ketika tujuan keberadaannya telah mencapai pemenuhannya (1 Kor. 13: 10). "Tetapi kasih tidak akan berkesudahan!" (1 Kor. 13: 8).
Demikian pula, ketika Kristus datang kembali, iman akan digantikan oleh penglihatan (2 Kor. 5: 7), dan apa yang telah kita harapkan akan menjadi kenyataan (Rm. 8: 24). Dan, yang terpenting, kasih akan bertahan sebagai lambang karakter Allah Tritunggal kita. Namun, ada pengertian di mana iman dan pengharapan juga akan bertahan selamanya. Iman sebagai pengalaman keselamatan (Rm. 4: 3), dan pengharapan sebagai keinginan dan ekspektasi akan kesukaan dan pengetahuan baru di bumi yang baru, akan menandai pengalaman orang-orang tebusan selamanya. Namun kasih, kasih Allah, akan berjaya selamanya.
Tidak lama lagi, kita akan melihat Tuhan kita muka dengan muka (1 Kor. 13: 12). Sampai hari itu tiba, kita seharusnya mendefinisikan hidup kita dengan ketiga keajaiban ini: iman, pengharapan, dan kasih. Tiga serangkai ini mewakili kepenuhan hidup Kristen melalui Roh. Itulah sebabnya hal ini sering disebut di kalangan orang Kristen (Rm. 5: 1–5; Gal. 5: 5, 6; Ef. 1: 15, 18; 4: 1–5). Namun, kasih adalah yang terbesar; bagaimanapun juga, kasih adalah satu-satunya kebajikan yang digunakan untuk menggambarkan sifat Allah sendiri (1 Yoh. 4: 8).
Renungkan pernyataan "Allah adalah kasih." Bagaimanakah kita seharusnya memahami apa artinya itu? Dan meskipun kita hanya dapat memahami gagasan itu sebagian, mengapa ungkapan itu merupakan kabar baik bagi kita?
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat