Triwulan 3 Pelajaran 6, 2026.
Ayat Inti: 1 Korintus 14: 1.
Fokus Pelajaran: 1 Korintus 12.
Pendahuluan
Bayangkan sebuah orkestra di aula konser megah dan akan memulai pertun-jukan. Para musisi menyetel instrumen mereka, dan kemudian konduktor mengangkat tongkatnya. Para musisi mulai memainkan berbagai instrumen mereka.
Biola, selo, terompet, seruling, drum, dan instrumen lainnya secara kolektif menghasilkan musik yang indah saat mereka mengikuti konduktor. Sekarang, bayangkan jika pemain biola tiba-tiba berkata, "Saya tidak ingin bermain karena saya tidak bermain terompet. Bagian saya tidak penting." Atau bagaimana jika pemain perkusi memutuskan untuk memukul drum atau membunyikan simbal sekeras mungkin, menenggelamkan semua instrumen lainnya? Harmoni yang indah akan berubah menjadi kekacauan! Dalam orkestra tidak ada instrumen yang tidak perlu. Setiap musisi berkontribusi pada mahakarya tersebut. Tetapi para musisi harus bekerja sama. Jika satu orang menolak untuk bermain, musiknya akan menderıta. Para musisi tidak bermain untuk diri mereka sendiri. Mereka mengikuti arahan konduktor untuk menciptakan sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Dalam 1 Korintus 12, Paulus menggunakan metafora yang berbeda untuk menekankan kebenaran yang sama. Di dalam gereja, setiap orang percaya telah diberikan karunia rohani yang berbeda. Beberapa karunia lebih terlihat, sementara yang lain bekerja dengan tenang di latar belakang; tetapi setiap orang itu penting.
Tema Pelajaran
Pelajaran pekan ini menyoroti tiga tema penting:
1. Hal Pertama yang Utama: Apa pun karunia atau pelayanan kita, kita dipanggil untuk berfokus pada Yesus sebagai Juruselamat, Penyembuh, dan, pada akhirnya, sebagai Pribadi yang melengkapi kita untuk pelayanan guna membantu orang lain (1 Kor. 12: 1-3).
2. Satu Roh, Banyak Karunia: Paulus mengingatkan para pembacanya akan fakta bahwa semua karunia pada akhirnya memiliki asal usul yang sama, karena Allah sendirilah yang memberdayakan gereja-Nya dengan karunia-karunia ini untuk memberkati dan menjangkau dunia (1 Kor. 12: 4-11).
3. Satu Tubuh, Banyak Anggota: Paulus memperkenalkan metafora tubuh untuk mengilustrasikan keragaman karunia di dalam gereja dan menantang para pembacanya untuk terus melihat gambaran besarnya (1 Kor. 12: 12-31).
1. Latar Belakang Sejarah 1 Korintus 12: Di Korintus abad pertama, pengalaman mistis, seperti nubuat dan ucapan ekstatik (tak sadarkan diri), umum terjadi dalam agama Yunani dan Romawi. Pengalaman-pengalaman ini sering dikaitkan dengan kerasukan Ilahi, kultus misteri, dan orakel. Orakel Delphi, salah satu situs keagamaan paling terkenal di Yunani, menampilkan seorang pendeta wanita (Pythia) yang akan memasuki keadaan seperti kesurupan di mana ia diyakini dirasuki oleh dewa Yunani Apollo. Dalam keadaan ini, ia akan mengucapkan pesan-pesan ekstatik dan samar. Pesan-pesan ini kemudian ditafsirkan oleh para imam. Kuil-kuil lain, seperti Orakel Dodona, juga memiliki praktik kenabian di mana para imam atau pendeta wanita menerima pesan Ilahi melalui tanda-tanda alam (angin, gemerisik dedaunan, dil.). Ucapan ekstatik seperti itu dianggap sebagai tanda perkenanan dan wawasan Ilahi, mirip dengan bagaimana beberapa orang Korintus memandang bahasa roh.
Kultus misteri seperti Dionysus (Bacchus), Cybele, dan Isis melibatkan ritual, musik, dan penyembahan hiruk-pikuk yang sering kali mengarah pada keadaan kesurupan, emosi yang memuncak, dan komunikasi yang dirasakan dengan para dewa. Dalam kultus Dionysian, para penyembah terlibat dalam tarian dan nyanyian ekstatik, percaya bahwa mereka dipenuhi dengan kehadiran dewa tersebut. Beberapa sarjana menyarankan bahwa orang Kristen Korintus tertentu, yang dipengaruhi oleh tradisi-tradisi ini, mungkin mengasosiasikan karunia-karunia rohani, seperti berbahasa roh dan bernubuat, dengan pengalaman ekstatik yang serupa. Pola pikir ini kemungkinan berkontribusi pada perpecahan di gereja Korintus, karena beberapa orang percaya menilai diri mereka lebih "rohani," berdasarkan karunia mereka. Paulus menantang gagasan ini dengan menekankan bahwa semua karunia berasal dari Roh yang sama (1 Kor. 12: 4-11) dan dimaksudkan untuk kepentingan seluruh gereja, bukan untuk status individu.
2. Hal Pertama yang Utama: Paulus memperkenalkan topik baru dalam 1 Korintus 12: 1 dengan frasa "sekarang tentang karunia-karunia rohani". Penanda serupa untuk topik baru dapat ditemukan dalam 1 Korintus 7: 1, 25; 1 Korintus 8: 1; 1 Korintus 16: 1, 12. Kata Yunani pneumatikön adalah kata sifat jamak, yang berarti "hal-hal rohani," dan dapat menunjukkan "hal-hal rohani" atau "orang-orang rohani." Sang rasul prihatin dengan anggota gereja Korintus dan persepsi diri mereka yang tidak seimbang tentang diri mereka sebagai "orang rohani" (1 Kor. 14: 37). "Ada bahaya-dan dalam beberapa kasus merupakan kenyataan—orang-orang yang mengklaim bahwa mereka memiliki status rohani yang lebih tinggi dalam komunitas, yang menciptakan kesenjangan di antara orang-orang percaya. Paulus menolak mentalitas semacam ini"_"1 Corinthians" dalam Andrews Bible Commentary, ed. Angel Manuel Rodríguez et al. (Berrien Springs, MIl: Andrews University Press, 2022), hlm. 1.642. Alih-alih berfokus pada karunia, Paulus mengingatkan pendengarnya bahwa mereka harus bersukacita ketika Roh Allah meyakinkan mereka untuk mengakui Yesus sebagai Juruselamat mereka (1 Kor. 12: 3). Tidak ada orang yang benar-benar dipimpin oleh Roh yang dapat mengutuk Yesus. Dalam pengertian ini, semua orang percaya adalah "rohani," berdasarkan pengakuan Kristen dasar bahwa Yesus adalah Tuhan.
3. Satu Roh, Banyak Karunia: Sebelum menguraikan tentang karunia-karu-nia rohani yang berbeda, Paulus membuat pernyataan dalam 1 Korintus 12: 4-6 yang mencakup semua anggota Ke-Allahan (Trinitas), menyoroti keragaman karunia yang diberikan oleh Roh, keragaman pelayanan yang diberikan oleh Tuhan (yaitu, Yesus), dan keragaman perbuatan ajaib yang diberikan oleh "Allah yang sama yang mengerjakan semuanya dalam semua orang" (1 Kor. 12: 6). Urutannya di sini adalah Roh-Anak-Bapa. Dengan demikian, kesatuan Ke-Allahan menjadi matriks atau teladan yang dapat digunakan oleh gereja Korintus yang sering terpecah belah untuk mengukur dirinya sendiri.
Paulus mengingatkan para pembacanya bahwa karunia pertama yang Allah berikan kepada semua orang percaya adalah pengakuan iman bahwa "Yesus adalah Tuhan" (1 Kor. 12: 2, 3). Kepercayaan ini sejalan dengan pernyataan Yesus dalam Yohanes 6: 44: "Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku". Meskipun kita diberi kebebasan untuk memilih, kita harus ditarik oleh Roh (atau Bapa) untuk mengambil langkah iman pertama menuju Yesus.
Paulus kemudian melanjutkan dengan menjelaskan keragaman karunia rohani, serta pelayanan dan kegiatan dalam komunitas Kristen (1 Kor. 12: 4-11). "Paulus menjelaskan bahwa karunia Roh Kudus diberikan untuk kepentingan seluruh gereja (12: 7)"-"1 Corinthians" dalam Andrews Bible Commentary, hlm. 1.642. Jadi, karunia bukanlah tanda penguasaan atau keunggulan rohani, melainkan tanda kasih karunia Allah yang memberdayakan kita untuk melayani satu sama lain dan juga dunia di sekitar kita. Berbagai karunia yang dijelaskan dalam pasal ini (termasuk masukan rohani yang melibatkan hikmat dan penge-tahuan, kesembuhan atau mengadakan mukjizat, ucapan nubuat, membedakan bermacam-macam roh, bahasa roh, dan banyak lagi) semuanya diberikan untuk memberkati komunitas orang percaya. Tidak ada satu pun dari karunia itu yang boleh dianggap lebih tinggi atau lebih penting daripada yang lain.
4. Tubuh Kristus-Gagasan yang Radikal: Metafora Paulus tentang gereja sebagai tubuh (1 Kor. 12: 12-27) adalah sesuatu yang berlawanan dengan budaya. Dalam masyarakat Romawi, kelas sosial dan status sangat kaku, dengan orang kaya dan berkuasa berada di puncak. Gagasan bahwa setiap anggota gereja— kaya atau miskin, budak atau orang merdeka, laki-laki atau perempuan sama berharganya adalah revolusioner. Paulus menekankan bahwa, di dalam Kristus, semua orang percaya saling terhubung dan harus menghormati satu sama lain, menolak hierarki dunia.
Seperti dicatat oleh sarjana Perjanjian Baru Jason Staples: "Paulus membawa gambaran ini selangkah lebih maju daripada pengertian metaforis atau analogis yang biasa. Bagi sang rasul, "tubuh Kristus' bukan hanya metafora bagi individu-individu yang dipersatukan oleh kepercayaan kepada Yesus, tetapi realitas ontologis dan relasional di mana orang-orang, yang menerima 'roh Kristus' (Rm 8: 9), dengan demikian menjadi tergabung ke dalam Kristus sendiri. Orang-orang percaya benar-benar menjadi "tubuh Kristus' dengan 'dibaptis menjadi satu tubuh oleh satu roh' (1 Kor 12: 13)." —Staples, "Body of Christ" dalam Dictionary of Paul and His Letters (Downers Grove, IL: IVP Academic, 2023), hlm. 83.
Penggunaan metafora tubuh menyoroti kesatuan komunitas, tetapi juga kesatuan gereja dengan Tuhannya—terutama mengingat fakta bahwa Kristus adalah kepala tubuh (Kol. 1: 18, Ef. 4: 15). Dalam pengertian ini, tubuh bukan terutama tubuh orang percaya tetapi tubuh Kristus; yaitu, fokus utama dari metafora adalah kesatuan orang percaya dengan Kristus.
Seperti yang dijelaskan Paulus dalam pasal ini, ini berarti bahwa perbedaan etnis, gender, dan sosial tidak relevan untuk dimasukkan ke dalam tubuh Kristus. Gagasan ini tidak hanya berlawanan dengan budaya tetapi juga subversif dan berbahaya bagi masyarakat Yunani-Romawi, di mana status, kekuasaan, rasa malu, kehormatan, dan juga gender memainkan peran yang sangat penting.
Perhatikan contoh berikut yang diambil dari sarjana Perjanjian Baru Philip Ryken mengenai persepsi tentang hierarki, status, dan gender di dunia gereja Kristen mula-mula: "Pertimbangkan doa, yang kadang-kadang dikaitkan dengan Socrates, di mana seorang pria Yunani mengucap syukur kepada Dewa 'bahwa saya dilahirkan sebagai manusia dan bukan binatang, berikutnya seorang pria dan bukan seorang wanita, ketiga, seorang Yunani dan bukan orang biadab.' Orang-orang kafir umumnya membenci budak mereka dan memperlakukan wanita mereka dengan buruk. Di beberapa tempat budak dilarang memasuki kuil-kuil kafir, sementara wanita diperlakukan sebagai barang milik (chattel)"-Philip Graham Ryken, Galatians, Reformed Expository Commentary (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2005), hlm. 148. Jelas, pesan Paulus kepada jemaat Korintus adalah sesuatu yang berlawanan dengan budaya.
Kecenderungan manusiawi kita adalah menempatkan karunia-karunia yang telah Allah berikan kepada gereja sebagai tubuh Kristus ke dalam urutan hierar-kis. Paulus memperkenalkan metafora tubuh dan anggota tubuh untuk membantu para pembacanya berfokus pada persatuan dan misi. Anggota tubuh, tulisnya, tidak dapat unggul sendiri. Faktanya, mereka tidak dapat bertahan hidup sendiri. Mata membutuhkan kelopak mata; kepala membutuhkan leher; kaki membutuhkan tungkai; dan mereka semua bergantung pada jantung untuk mendapatkan oksigen dan darah yang cukup. Berdasarkan 1 Korintus 12, diskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut dalam kelompok Anda:
1. Bagaimanakah kita dapat menerapkan metafora tubuh Paulus pada realitas gereja kita yang memiliki program-program yang bersaing dan prioritas-prioritas yang berbeda?
2. Apakah yang akan Anda katakan terhadap gagasan bahwa Allah ingin melihat tubuh, bukan potongan-potongan tubuh, di gereja-Nya?
3. Apakah yang dikatakan metafora gereja, sebagai tubuh Kristus, kepada orang-orang yang hidup di abad ke-21?
4. Apakah kriteria terbaik untuk mengevaluasi karunia-karunia rohani dan kepentingannya bagi gereja?
5. Bagaimana kita dapat menemukan karunia kita sendiri dalam konteks misi gereja?
6. Jika memungkinkan, karunia mana yang ingin Anda miliki, dan meng-apa?
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat