Triwulan 3 Pelajaran 5, 2026.
Bacalah 1 Korintus 8: 1–13. Mengapa Paulus membandingkan pengetahuan dengan kasih, dan apa konteksnya di sini? Poin apakah yang sedang ia sampaikan?
Paulus menggunakan tema makanan yang dipersembahkan kepada berhala untuk membahas masalah yang lebih dalam: kurangnya kasih terhadap sesama (1 Korintus 8). Masalah makanan yang dipersembahkan kepada berhala memecah jemaat di Korintus menjadi dua kelompok. Beberapa orang percaya bahwa pengetahuan mereka tentang tidak adanya ilah-ilah lain memberi mereka hak untuk makan apa saja (1 Kor. 8: 4). Mereka ini disebut sebagai "orang-orang yang kuat" (1 Kor. 4: 10). Mereka yang menentang perilaku ini disebut "orang-orang yang lemah" (1 Kor. 8: 9–12). Paulus menggunakan sebutan ini karena mereka belum mengatasi beberapa kepercayaan takhayul yang menandai pengalaman kekafiran mereka sebelumnya. Ketika melihat "orang-orang yang kuat" memakan makanan yang dipersembahkan kepada berhala, mereka mungkin menyimpulkan bahwa Kekristenan dan penyembahan berhala itu cocok. Jadi, Paulus tidak ingin "orang-orang yang kuat" menjadi batu sandungan bagi yang lemah.
Alkitab memandang tindakan memakan makanan yang dipersembahkan kepada berhala dengan sangat negatif (Kis. 15: 20, 29; Kis. 21: 25; bandingkan dengan Why. 2: 14, 20). Namun, Paulus tidak mengucapkan pernyataan seradikal seperti yang terlihat dalam ayat-ayat tersebut. Ini karena perhatian utamanya adalah kurangnya persatuan yang dapat disebabkan oleh penyalahgunaan pengetahuan. Paulus tidak mengritik pengetahuan sebagai sesuatu yang jahat; sebaliknya, ia menentang jenis pengetahuan yang mengarah pada kesombongan dan perpecahan di dalam jemaat. Pengetahuan tanpa kasih sama sekali bukan pengetahuan sejati (1 Kor. 8: 2). Pengetahuan sejati hanya muncul ketika seseorang mengasihi Allah dan dikenal oleh-Nya (1 Kor. 8: 3).
Mengutip Ulangan 6: 4, Paulus menunjukkan bahwa orang percaya harus tahu bahwa hanya ada satu Allah (1 Kor. 8: 4–6). Menariknya, ia mengikuti gagasan yang sama seperti yang terlihat dalam Ulangan 6: 4, 5, di mana pernyataan bahwa Allah kita itu esa diikuti oleh perintah "Kasihilah TUHAN, Allahmu" (NKJV). Bagi Paulus dan Musa, pengetahuan tanpa kasih tidak ada artinya.
Yakin dengan pengetahuan mereka, "orang-orang yang kuat" percaya bahwa memakan makanan yang dipersembahkan kepada berhala tidak berbahaya. Seperti yang akan kita lihat pada hari Rabu dan Kamis, Paulus setuju dengan mereka bahwa hal itu benar dalam kondisi tertentu. Namun, jika itu menjadi batu sandungan bagi "orang-orang yang lemah" (1 Kor. 8: 9), hal itu harus dihindari. Orang Kristen seharusnya mempraktikkan penyangkalan diri karena kasih kepada Kristus dan sesama.
Paulus berpendapat bahwa, tanpa kasih, pengetahuan bisa menjadi hal yang buruk (1 Korintus 8). Dalam situasi apakah pengetahuan tanpa kasih memang bisa menjadi buruk?
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat