Triwulan 3 Pelajaran 3, 2026. 


Download Powerpoint



PENUNTUN GURU


Bagian I: Tinjauan Umum

Ayat Inti: 1 Korintus 1: 10.

Fokus Pelajaran: 1 Kor. 1: 10-17, 1 Kor. 3: 18-23, Flp. 2: 1-8.

Pendahuluan
Di sebuah kota kecil, sekelompok sukarelawan berkumpul untuk membangun kembali balai warga setelah badai. Fondasinya kuat, dan bahannya bagus. Mereka memiliki batu bata, adukan semen, peralatan—semua yang mereka butuhkan. Namun, saat pekerjaan dimulai, perselisihan pun terjadi. Satu tim bersikeras, "Batu bata harus ditumpuk dengan cara ini—lebih efisien." Tim lain membantah, "Tidak, kami selalu melakukannya dengan cara ini!" Beberapa pekerja menolak menerima instruksi dari orang lain, dengan mengatakan, "Kami hanya mengikuti arahan kepala regu kami." Beberapa bahkan meninggalkan lokasi kerja, berkata, "Jika kelompok itu terlibat, kami tidak ingin ambil bagian dalam pekerjaan ini." Pada penghujung hari, apa yang seharusnya menjadi tembok yang kokoh malah menjadi tambal sulam yang berantakan— beberapa batu bata bengkok, yang lain hilang, dan seluruh struktur tidak stabil. Dorongan ringan saja bisa merobohkannya. Seorang tukang batu tua lewat, menggelengkan kepalanya, dan berkata, "Sebuah batu bata sendirian hanyalah sebuah batu. Tetapi batu bata yang bekerja sama, dengan adukan semen yang menahannya di tempatnya—itulah tembok. Itulah kekuatan." Sama seperti batu bata itu, gereja di Korintus-dan saat ini-dapat berdiri teguh hanya jika bersatu di dalam Kristus, sang fondasi. Perpecahan melemahkan tubuh. Namun, ketika kita menyampingkan kesombongan dan mengikuti teladan pelayanan Kristus, kita menjadi sesuatu yang tak tergoyahkan.

Tema Pelajaran
Di gereja mula-mula, salah satu ancaman terbesar bagi persatuan bukanlah penganiayaan—melainkan kesombongan. Dua tema utama yang berkaitan dengan masalah ini dapat ditemukan dalam bacaan pekan ini. Tema-tema tersebut dapat diringkas secara singkat sebagai berikut:

1. Ancaman Kultus Individu: Dalam 1 Korintus, Paulus membahas bagaimana orang-orang percaya memecah belah diri mereka sendiri, berdasarkan kesetiaan kepada para pemimpin yang berbeda—membentuk kultus individu (pemujaan kepribadian) di sekitar Paulus, Apolos, dan Kefas.
Faksi-faksi ini mengubah kepemimpinan yang berbakat menjadi sumber perpecahan, mengalihkan gereja dari fondasi sejatinya: Kristus.
2. Kuasa Pelayanan seperti Kristus: Sebaliknya, Filipi 2: 1-8 menawarkan penawarnya: kerendahan hati seperti Kristus. Paulus mendesak orang-orang percaya untuk melepaskan ambisi egois dan tidak memperhatikan kepentingan sendiri, melainkan kepentingan orang lain. la menunjuk kepada Yesus, yang walaupun setara dengan Bapa, mengambil rupa seorang hamba, merendahkan diri-Nya, dan taat sampai mati. Itulah model persatuan yang sejati: kasih yang berkorban.

Bersama-sama, ayat-ayat ini memanggil gereja untuk menolak kesombongan dan permainan kekuasaan, dan sebaliknya mengejar persatuan melalui kerendahan hati yang melayani, mengikuti teladan Kristus.

Bagian II: Komentar

1. Latar Belakang: Perbudakan adalah kenyataan yang menyedihkan di dunia Perjanjian Baru. Terminologi Yunani yang digunakan dalam Perjanjian Baru tıdak membedakan secara jelas antara "pelayan" (misalnya, seorang karyawan di bawah atasan yang melakukan tugas-tugas tertentu dan. menerima bayaran untuk tugas tersebut) dan "budak". Terjemahan yang benar dari istilah Yunani doulos, "hamba, budak," misalnya, bisa berarti "pelayan" atau "budak" dan bergantung pada konteks spesifiknya. Para sejarawan memperkirakan bahwa sebanyak dua belas juta orang diperbudak di Kekaisaran Romawi selama abad pertama Masehi-antara 16-20 persen dari seluruh populasi yang berjumlah setidaknya enam puluh juta (lihat S. Scott Bartchy, "Slaves and Slavery in the Roman World," dalam The World of the New Testament, ed. Joel B. Green dan Lee Martin McDonald [Grand Rapids: Baker Academic, 2013], hlm. 170).

Budak sering kali merupakan anggota berharga dari rumah tangga yang lebih besar dan terkadang memegang posisi yang bertanggung jawab dalam rumah tangga tersebut. Berbeda dengan praktik perbudakan di Dunia Baru (Benua Amerika), baik warna kulit maupun asal etnis/ras tidak menunjukkan status budak dalam populasi Kekaisaran Romawi. Hukum Romawi mengatur perlakuan terhadap budak dengan hati-hati, dan banyak budak dapat berharap untuk dibebaskan oleh pemiliknya di kemudian hari. Meskipun demikian, perbudakan bukanlah institusi yang baik hati. Banyak budak menderita sangat parah di bawah tuan yang kejam dan mengalami segala jenis pelecehan.

Fakta bahwa beberapa bagian Perjanjian Baru menggunakan terminologi dan perumpamaan yang terkait dengan perbudakan menunjukkan pentingnya hal itu bagi mereka yang ingin memahami latar belakang budaya Perjanjian Baru: "Tiga kata kunci dalam kosakata Paulus-'penebusan,' 'pembenaran,' dan "penda-maian'-mengambil langsung dari proses dan hasil pembebasan (manumission) dari perbudakan," catat Bartchy (lihat S. Scott Bartchy, "Slaves and Slavery in the Roman World," dalam The World of the New Testament, ed. Joel B. Green dan Lee Martin McDonald [Grand Rapids: Baker Academic, 2013], hlm. 176). Terminologi dan konsep semacam itu membantu pembaca memahami konsep teologis yang penting, termasuk konsep yang menggambarkan pembebasan orang percaya dari perbudakan dosa dan keterasingan dari Allah.

2. Kultus Individu-Ancaman bagi Persatuan: Ancaman terhadap persatuan datang dalam berbagai bentuk dan rupa, dan Paulus menangani beberapa di antaranya sejak awal suratnya. Jauh sebelum zaman influencer media sosial, superstar olahraga, pendeta gereja besar (megachurch), miliarder superkaya, atau pemimpin dunia yang karismatik, orang-orang sudah mengikuti pemimpin rohani favorit mereka. Mengikuti pemimpin rohani yang berbeda dalam konteks komunitas gereja dapat menyebabkan pertengkaran dan sering kali berujung pada perpecahan. Perpecahan ini dapat memecah lebih jauh menjadi kelompok-kelompok antagonis yang berselisih satu sama lain. Di gereja Korintus tampaknya ada beberapa kelompok yang mendukung pemimpin yang berbeda.

Satu Korintus 1: 12 menyebutkan beberapa nama. Beberapa mengaku sebagai pengikut Apolos. Apolos adalah seorang Kristen Yahudi dan penduduk asli Aleksandria, "seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci" (Kis. 18: 24). Ia pastilah seorang pembicara dan pengkhotbah yang baik yang membuat para pendengarnya terkesan dengan retorika dan antusiasmenya dalam memberitakan Yesus (Kis. 18: 25). Apolos telah membantu membangun gereja di Korintus sementara Paulus berada di Efesus (Kis. 19: 1, 2); namun, sebelum itu, tampaknya ia belum mendengar tentang baptisan Roh (Kis. 18: 25).

Yang lain menyatakan kesetiaan kepada Kefas, yang merupakan bentuk bahasa Aram dari nama Petrus. Petrus adalah rasul pertama yang melayani orang non-Yahudi (Kis. 10) dan, karena peran kepemimpinannya di antara para rasul, tampaknya dianggap oleh banyak orang sebagai pemimpin Kristen utama atau tokoh pergerakan tersebut. Yang lain mengaku mengikuti Paulus. Meskipun mereka tampaknya memiliki pendekatan misi yang berbeda, menarik untuk dicatat bahwa para pemimpin ini berusaha keras untuk mendukung, dan bukan mengkritik, pekerjaan satu sama lain (lihat, misalnya, dukungan Petrus terhadap Paulus dalam 2 Petrus 3: 15 dan dukungan Paulus terhadap pekerjaan Apolos dalam 1 Korintus 3: 4-7).

Namun, kita juga harus mencatat bahwa mereka juga bersedia saling mengkritik jika masalah tertentu menuntutnya. Keterlibatan Paulus dengan Petrus mengenai masalah penting persekutuan dengan orang percaya non-Yahudi dan pertanyaan tentang relevansi dan pentingnya hukum ritual dan pembenaran oleh iman (lihat Gal. 2: 11-21) menawarkan contoh yang baik. Terlepas dari ikatan kuat yang menghubungkan para pemimpin gereja mula-mula yang berbeda, beberapa orang percaya masih berhasil mempertentangkan ajaran para pemimpin yang berbeda ini satu sama lain untuk menciptakan perpecahan.

Solusi yang disarankan Paulus dapat ditemukan dalam 1 Korintus 3: 18-23. Paulus menyoroti bahaya penipuan diri sendiri bagi para pembacanya di Korintus. Mereka menganggap diri mereka "bijaksana" dan tidak mengerti bahwa hikmat Ilahi tampak sebagai kebodohan bagi pikiran yang belum bertobat. la mengutip dua teks Perjanjian Lama (Ayub 5: 13 dan Mzm. 94: 11) untuk mendukung argumennya, dan kemudian ia mengomentari berbagai faksi tersebut. Alih-alih terlibat dalam perdebatan tentang siapa yang secara teologis lebih benar atau influencer yang lebih layak, Paulus menyoroti kebutuhan setiap anggota untuk menjadikan Kristus sebagai pusat kehidupan rohani mereka dan tidak membiarkan pemimpin mana pun, tidak peduli seberapa fasih atau baiknya, mengambil tempat yang menjadi milik Kristus. "Janganlah ada orang yang memegahkan diri atas manusia" (1 Kor. 3: 21), sarannya, karena "kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah" (1 Kor. 3: 23). Menemukan identitas dan rumah kita di dalam Kristus membantu menghindari perpercahan.

3. Pelayanan seperti Kristus: Sebagian besar dari kita tidak benar-benar memahami istilah "hamba" sebagaimana digunakan dalam Perjanjian Baru secara memadai. Filipi 2: 1-8 menawarkan model pelayanan yang bermanfaat dalam konteks persatuan. Paulus menekankan kepada para pembacanya tentang pentingnya persatuan. Kekuatan semantik dari empat klausa pengandaian "jika" (ij) dalam Filipi 2: 1 seharusnya dipahami "sebagai seruan berdasarkan kepastian ('karena ada') dari realitas rohani yang diungkapkan ... dalam kehidupan Kristen"-"Philippians" dalam Andrews Bible Commentary, ed. A.M. Rodríguez et al. (Berrien Springs, MI: Andrews University Press, 2022), hlm. 1.730. Paulus kemudian membagikan harapan dan sukacita pribadinya agar gereja menjadi "sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan" (Flp. 2: 2), yang pada akhirnya berarti bahwa para pembacanya tidak akan mencari kepentingan mereka sendiri tetapi berfokus pada kepentingan orang lain (Flp. 2: 4).

Bagian selanjutnya menggunakan teladan Yesus sebagai model bagi gereja. Anggota gereja harus meniru penyerahan diri Yesus sepenuhnya saat mereka berhubungan satu sama lain. Para teolog merujuk pada teks ini untuk menggambarkan Kristus dalam pra-inkarnasi-Nya (Flp. 2: 6, 7), selama inkarnasi-Nya di bumi (Flp. 2: 7, 8) dan peninggian-Nya setelah kebangkitan-Nya (Flp. 2: 9-11). Yesus menjadi seorang doulos, seorang pelayan atau budak. la "mengosongkan diri-Nya" (Flp. 2: 7). Ia secara sukarela memutuskan untuk tidak menggunakan kuasa dan atribut Ilahi-Nya sehingga la dapat menjadi "Hamba Allah" dan menyelamatkan planet yang sedang dalam pemberontakan ini. "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus" (Flp. 2: 5) adalah pengingat Paulus kepada kita bahwa kita juga harus meniru kasih-Nya-meskipun tidak sempurna dalam pribadi manusia yang lemah dan berdosa saat kita berhubungan dengan komunitas iman kita.

Bagian III: Penerapan Hidup

Persatuan (atau ketiadaannya) adalah topık utama di gereja Korintus dan juga merupakan masalah yang selalu ada dalam Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Beberapa dari kita mengikuti pembicara favorit kita di media sosial atau menghabiskan waktu yang signifikan menonton video dari pelayanan pilihan kita. Sering kali konflik kita melibatkan perbedaan dalam pemahaman kita tentang kebenaran alkitabiah, atau kita menghadapi benturan kepribadian di antara para pemimpin. Pesan Paulus kepada jemaat Korintus mengingatkan kita bahwa konflik ini bukanlah hal baru. Kepemimpınan yang melayanı (servant leadership) adalah frasa yang sering dıdengar; namun, kıta berjuang untuk menerapkan prin-sipnya pada diri kita sendiri dan cara kita berhubungan satu sama lain.

1. bagaimana kita dapat menghindari jebakan perpecahan karena faksi faksi di dalam gereja?
2. Strategi apakah yang dapat kita temukan dalam Kitab Suci untuk membantu kita berfokus pada Yesus sebagai pusat iman kita dan komunitas gereja kita?
3. Akar dari banyak konflik adalah pemahaman kita yang berbeda tentang kebenaran alkitabiah. Kita mengklaim bahwa kita mencintai kebenaran dan berkomitmen pada kebenaran. Jadi, bagaimanakah kita dapat berhubungan dengan orang lain yang pemahamannya tentang Kitab Suci berbeda dari kita? Apakah yang dapat kita pelajari dari Dia yang mengklaim sebagai "jalan dan kebenaran dan hidup"?
4. Mengapa begitu sulit untuk mengikuti teladan pelayanan sempurna Kristus?
5. Apakah strategi alkitabiah dan langkah praktis untuk membantu membawa lebih banyak persatuan ke dalam gereja-gereja kita?



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp