Triwulan 3 Pelajaran 1, 2026. 


Download Powerpoint




Jumat, 3 Juli 2026.

Pendalaman


Bacalah tulisan Ellen G. White, "Korintus", dalam buku Kisah Para Rasul (1999), hlm. 205–214.

"Dalam mengkhotbahkan Injil di Korintus, rasul itu mengikuti jalan yang lain dari yang ditandai oleh pekerjaannya di Atena. … Ia mengambil keputusan untuk menghindarkan perbantahan dan perbincangan yang rumit dan 'tidak mengetahui apa-apa' di antaraorang Korintus 'selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan'"—Ellen G. White, Kisah Para Rasul (1999), hlm. 206.

"Paulus memang meraih keberhasilan, tetapi ia "meragukan kebijaksanaan untuk membangun sebuah jemaat dari bahan yang ia temukan di sana. Ia menganggap Korintus sebagai ladang pekerjaan yang sangat meragukan, dan memutuskan untuk meninggalkannya. …

"Ketika ia sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan kota itu menuju ladang yang lebih menjanjikan, … Tuhan menampakkan diri kepadanya dalam sebuah penglihatan pada malam hari, dan berkata, 'Jangan takut, teruslah memberitakan firman, sebab banyak umat-Ku di kota ini.' Paulus memahami ini sebagai perintah untuk tetap tinggal di Korintus, dan jaminan bahwa Tuhan akan memberikan pertumbuhan pada benih yang ditaburkan. … Sebuah jemaat besar berdiri di bawah panji Yesus Kristus"—Ellen G. White, Sketches from the Life of Paul, hlm. 106, 107.

"Tercatat bahwa Paulus bekerja selama satu tahun enam bulan di Korintus. Namun, usahanya tidak terbatas secara eksklusif di kota itu. … Ia menjadikan Korintus sebagai markasnya. … Beberapa jemaat pun didirikan. … Ketidakhadiran Paulus dari jemaat-jemaat yang ia layani sebagian digantikan oleh surat-surat yang berbobot dan kuat, yang pada umumnya diterima sebagai firman Tuhan. … Surat-surat ini dibacakan di jemaat-jemaat"—Ellen G. White, Sketches from the Life of Paul, hlm. 109.

Pertanyaan-Pertanyaan untuk Diskusi:

1. Paulus yakin bahwa ia adalah rasul Yesus, dan bahwa panggilan ini berasal dari Tuhan. Mengapa begitu penting untuk mengetahui siapa diri kita dan apa panggilan kita?

2. Untuk sesaat, Paulus merasa ingin menyerah dalam pekerjaan misinya di Korintus dan meninggalkan kota itu. Apakah yang menyebabkan ia berubah pikiran? Bagaimanakah hal ini dapat membantu kita ketika kita merasa ingin menyerah pada sebuah proyek misi? Namun, mungkinkah ada saatnya kita harus melakukannya?

3. Anggota jemaat di Korintus sangat dipengaruhi oleh budaya di sekitar mereka. Ini juga merupakan kenyataan yang gamblang di antara kita saat ini. Bagaimanakah kita bisa berada di dalam dunia (Yoh. 17: 11, 15) dan tidak dipengaruhi oleh apa yang "ada di dalam dunia—yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup" (1 Yoh. 2: 16)? Apakah cara-cara lain yang memengaruhi gereja kita secara negatif oleh budaya sekitar?



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp