Triwulan 3 Pelajaran 1, 2026. 


Download Powerpoint



PENUNTUN GURU


Bagian I: Tinjauan Umum

Ayat Inti: Kisah Para Rasul 18: 9, 10.

Fokus Pelajaran: 1 Kor. 1: 1-3, Kis. 18: 4-10.

Pendahuluan
Sebuah kartun baru-baru ini memperlihatkan seorang wanita tua yang sangat gemuk sedang duduk di ruang praktik dokter. Sang dokter memasang wajah ter-kejut. Keterangan di bawah kartun itu berbunyi: "Dokter, saya mengidentifikasi diri sebagai gadis ramping berusia 16 tahun, dan saya merasa sangat tersinggung karena Anda mengatakan bahwa berat badan saya di usia saya saat ini mengancam kesehatan saya." Sebagaimana ditunjukkan secara humoris oleh kartun ini, persepsi adalah bagian kunci dari identitas. Entitas yang berjuang untuk mendefinisikan identitas mereka juga akan berjuang untuk mencapai tujuan atau misi hidup mereka. Pelajaran pekan ini memperkenalkan dua kitab Perjanjian Baru yang didorong oleh misi, yaitu 1 dan 2 Korintus. Kita juga diperkenalkan kepada penulisnya, Paulus sendiri, khususnya misi dan tujuannya untuk menjangkau jemaat Korintus.

Tema Pelajaran
Selain pengantar mengenai latar belakang sejarah gereja di Korintus dan bagaimana gereja itu didirikan, pelajaran ini akan berfokus pada isu-isu dan tema-tema berikut:

1. Latar Belakang Budaya dan Sejarah. Kita akan mempertimbangkan latar belakang budaya dan sejarah penting yang relevan untuk mempelajari surat-surat kepada jemaat di Korintus.

2. Pelayanan Strategis. Apakah strategi Paulus untuk pelayanan di Korintus? Dalam mencari jawaban atas pertanyaan ini, kita akan mempertimbangkan strategi misi Paulus di Korintus dalam kerangka gereja Kristen mula-mula.

3. Identitas. Identitas adalah kunci misi. Perlu diulang bahwa entitas yang berjuang untuk mendefinisikan identitas mereka juga akan berjuang untuk menyelesaikan misi mereka. Pembahasan kita tentang identitas akan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: a. Mengapa Paulus mengidentifikasi dirinya sebagai seorang rasul? b. Peran apakah yang dimainkan identitas dalam misi? c. Identitas seperti apakah yang dimiliki oleh jemaat di Korintus? d. Bagaimanakah kita dapat mempertahankan identitas Kristen di dunia yang menekankan nilai-nilai dan idealisme yang berbeda?

Bagian II: Komentar

1. Latar Belakang: Satu Korintus adalah salah satu surat terpanjang dalam Perjanjian Baru. Seperti Roma, surat ini terdiri dari 16 pasal, dengan total 433 ayat. Ini adalah surat pastoral bagi sebuah gereja yang baru didirikan yang menghadapi masalah etika, teologis, dan antarpribadi yang signifikan. Paulus dengan jelas mengidentifikasi dirinya sebagai penulis 1 Korintus (1 Kor. 1: 1), dan dalam 1 Korintus 16: 21, ia menyertakan referensi tentang tanda tangannya dengan tulisannya sendiri. Dua Korintus lebih pendek (13 pasal, total 257 ayat) dan memuat lebih banyak informasi pribadi tentang Rasul Paulus. Surat ini menjelaskan secara komprehensif pemahaman sang rasul tentang pelayanan kerasulannya. Beberapa orang menggunakan frasa Latin apologia provita sua, "pembelaan atas hidupnya," sebagai sebutan yang tepat untuk isi dan fokus dari 2 Korintus (lihat Leland Ryken dan Philip Graham Ryken, "2 Corinthians: Introduction" dalam The Literary Study Bible: ESV [Wheaton, IL: Crossway Bibles, 2007], hlm. 1.715). Dalam surat ini, Paulus membela pelayanan kerasulannya kepada beberapa penentang di jemaat Korintus dan memberikan teladan tentang bagaimana kehidupan dan pelayanan Kristen harus dijalani.

Korespondensi antara Paulus dan jemaat muda di Korintus telah menjadi bahan diskusi para sarjana. Satu Korintus tampaknya merupakan jawaban atas beberapa pertanyaan yang dikirimkan melalui surat kepada Paulus (lihat, misalnya, 1 Korintus 7: 1)—mungkin sebagai tanggapan terhadap surat sebelumnya yang telah dikirim rasul itu yang sudah tidak ada lagi, yang mungkin dirujuk dalam 1 Korintus 5: 9. Ada kemungkinan bahwa terdapat lebih banyak pertukaran surat antara Paulus dan komunitas Kristen di Korintus setelah surat pertama itu, yang tidak tersedia bagi kita sekarang.

Diduga, pertukaran surat ini mendahului surat kedua, yang sekarang menjac. bagian dari kanon alkitabiah kita. Satu Korintus ditulis sekitar tahun 55 M dari Efesus (bandingkan dengan "1 Corinthians" Andrews Bible Commentary, ed. Angel Manuel Rodriguez et al. [Berrien Springs, MI: Andrews University Press, 2022], hlm. 1.613), sementara 2 Korintus memiliki kemungkinan tanggal penulisan tahun 56 M.

2. Pelayanan Strategis di Korintus: Pelayanan Paulus di Korintus dijelaskan dalam Kisah Para Rasul 18. Sang rasul telah melayani di sana selama lebih dari 18 bulan. Kota kuno Korintus telah dihancurkan oleh bangsa Romawi pada tahun 146 SM dan dibangun kembali pada tahun 44 SM oleh Julius Caesar sebagai koloni Romawi. Kota ini segera menjadi pusat politik dan ekonomi yang signifikan yang berlokasi strategis di bagian timur Kekaisaran Romawi. Dua pelabuhannya, Kengkrea di timur dan Lekhaion di barat, menawarkan koneksi darat yang aman antara Laut Aegea dan Laut Ionia. Kontrol Korintus atas kedua pelabuhan tersebut dan jalan yang melintasi tanah genting selebar 6 kilometer memungkinkan kota itu memungut pajak atas perdagangan utara-selatan dan timur-barat (bandingkan dengan Jerome Murphy-O'Connor, "Corinth," dalam The New Interpreter's Dictionary of the Bible, ed. K. Doob Sakenfeld [Nashville: Abingdon, 2006], vol. 1, hlm. 732-735).

Kota ini menawarkan kemungkinan ekonomi yang besar, dan peluang untuk mobilitas sosial ke atas menarik banyak bangsa. Karena merupakan kota yang relatif muda, Korintus juga kurang dikendalikan oleh tradisi kuno dan lebih terbuka terhadap gagasan-gagasan baru. Roma menetapkan kota ini sebagai Ibu Kota Provinsi Akhaia, sehingga menggarisbawahi kepentingan politiknya. Keputusan strategis Paulus untuk menginvestasikan lebih dari 18 bulan hidupnya dalam pelayanan di Korintus memberi kita contoh yang baik tentang perencanaan misinya yang disengaja.

Pelayanan Paulus di Korintus mengikuti pola yang sudah dikenal. Ia ditampung di kota itu oleh Akwila dan Priskila, dua petobat Kristen Yahudi yang dipaksa keluar dari Roma oleh dekrit Claudius yang melarang semua orang Yahudi dari kota itu (Kis. 18: 2). Akwila dan Priskila juga adalah pembuat tenda (Kis. 18: 3). Secara strategis, Paulus pertama-tama mengunjungi sinagoge pada hari Sabat (Kis. 18: 4) dan memfokuskan pengajarannya ketika diundang untuk membacakan bacaan mingguan dari Taurat-pada kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus (Kis. 18: 5).

Dengan menunjukkan penafsiran yang benar dari teks-teks mesianik yang terkenal, Paulus mampu melibatkan anggota komunitas Yahudi di tempat yang sudah dikenal. Namun, penafsiran dan khotbah Paulus sering kali menimbulkan konflik dan ketegangan selama perjalanan mısınya, yang membuatnya, dı Korıntus, mengalihkan perhatiannya kembali kepada orang-orang yang "takut akan Allah" (God-fearers). Orang-orang yang takut akan Allah adalah orang-orang bukan Yahudi (bangsa lain) yang sering kali memiliki resonansi dengan ajaran Yahudi tetapi bukan penganut agama Yahudi atau proselit (lihat Mat. 23: 15). Kisah Para Rasul 18: 7 melaporkan bahwa Paulus berkhotbah di rumah Titius Yustus, seorang tetangga non-Yahudi dari sinagoge di Korintus. Di antara mereka yang yakin akan khotbah Paulus adalah Krispus, kepala rumah ibadat, beserta seisi rumahnya, bersama dengan banyak orang lain (Kis. 18: 8).

3. Pentingnya Identitas: Identitas membentuk keyakinan kita, pemahaman kita tentang sejarah, dan juga rasa keberadaan kita sendiri. Setelah pengalamannya di jalan menuju Damaskus (Kis. 9), identitas Paulus berlabuh pada panggilan Ilahi-Nya untuk mengikut Yesus dan menjadi rasul (yaitu, utusan dan pembawa pesan) Yesus. Paulus, bersama dengan rekan penulisnya Sostenes, memulai surat pertamanya kepada jemaat Korintus dengan mengklaim bahwa ia "dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah" (1 Kor. 1: 1; bandingkan dengan 2 Kor. I: I). Kata kerja Yunani apostellein, "mengutus," mendasari kata benda apostolos, yang cukup mengejutkan—jarang digunakan dalam literatur Yunani di luar Perjanjian Baru. Penggunaan kata yang relatif jarang untuk mengidentifikasi pelayanan krusial dalam gereja Kristen mula-mula mungkin merupakan upaya sadar untuk mengomunikasikan pentingnya pelayanan para rasul sebagai fondasi, serta fungsi unik dari mereka yang diutus, yang, termasuk Paulus, melampaui Kedua Belas Murid, sebagaimana referensi dalam Roma 16: 7 mungkin menyarankan: "Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah terpenjara bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul."

Identitas Paulus berakar pada tiga hal: (1) pengalaman panggilannya di mana ia melihat Tuhan yang bangkit (1 Kor. 15: 8, 9; Gal. 1: 15, 16); (2) pengutusannya oleh Allah untuk memberitakan Injil (Gal. 1: 1; bandingkan dengan Kis. 9: 15); dan (3) buah dari pelayanan kerasulannya, yang diwakili oleh para petobat dan gereja-gereja baru (1 Kor. 9: 2). Kitab Kisah Para Rasul menyajikan sejumlah kesaksian Paulus yang menceritakan kembali panggilannya, pengutusannya, dan buahnya, yang menggarisbawahi pentingnya elemen-elemen ini bagi pela-yanannya. Meskipun ia mengakui pendidikannya yang sangat baik di kaki para sarjana terkenal dan keanggotaannya dalam sekte Farisi yang ketat, identitasnya tidak didasarkan pada prestise dan pencapaian, melainkan pada perjumpaannya dengan Yesus Kristus.

Identitas tampaknya juga menjadi masalah penting di gereja Korintus yang baru didirikan. Paulus bereaksi keras terhadap berita bahwa ada perpecahan dalam jemaat di mana orang-orang sekarang memihak secara kuat kepada beberapa pemimpin Kristen yang berbeda. Paulus mengingatkan para pendengarnya bahwa yang pertama dan terutama, mereka adalah pengikut Kristus, bukan pengikut Paulus, Apolos, atau Petrus (1 Kor: 1: 10-12). Argumennya untuk persatuan didasarkan pada Kristus yang tidak terbagi, pengorbanan-Nya, dan kasih karunia yang menyelamatkan (1 Kor. 1: 13). Kita akan kembali ke masalah identitas di jemaat Korintus dalam pelajaran mendatang, dengan fokus yang lebih rinci.

Bagian II: Penerapan Hidup

Banyak bisnis saat ini menghabiskan waktu dan uang untuk masalah pencitraan merek (branding) dan identitas diri. Mereka menyadari bahwa dalam dunia bisnis yang kompetitif, sekadar melakukan apa yang selalu mereka lakukan tidak akan menjamin kelangsungan hidup. Mereka perlu memiliki visi yang jelas tentang siapa mereka dan kebutuhan unik apa yang dapat mereka penuhi. Paulus juga tampaknya mengetahui pentingnya identitas.

1. Dalam kelompok Anda, gali identifikasi diri Paulus sebagai seorang rasul. Apakah arti identitas ini, dan hak apakah yang dimilikinya untuk mengklaim perbedaan ini bagi dirinya sendiri? Bagaimanakah kerasulannya memengaruhı tujuan hıdup dan misınya?

2. Renungkan dan dıskusıkan bagaımana ıdentıtas kıta secara individu, dan secara korporat, sebagai orang Kristen Advent Hari Ketujuh dapat membantu kita menemukan, dan memenuhi, kebutuhan komunitas kita.

3. Jemaat di Korintus adalah perpaduan budaya yang unik. Sebagian besar kelompok tersebut tidak memiliki latar belakang budaya Yahudi. Mereka tidak dapat diidentifikasi sebagai cabang atau sekte Yahudi. Kurangnya identitas yang jelas ini mendasari banyak masalah yang dibahas Paulus di jemaat Korintus. Dalam kelompok Anda, diskusikan hubungan antara identitas dan perilaku. Mengapa mengetahui siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi memengaruhi apa yang kita lakukan dan bagaimana kita hidup?

4. Akhirnya, bagaimanakah kita dapat mempertahankan identitas Kristen di dunia yang menekankan nilai-nilai dan idealisme yang berbeda?



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp