Triwulan 2 Pelajaran 8, 2026. 


Download Powerpoint



PENUNTUN GURU


Bagian I: Tinjauan Umum

Ayat Inti: Ibrani 11: 1.

Fokus Pelajaran: Ibrani 11, Kej. 15: 6, Why. 14: 6.

Dikisahkan tentang seorang raja yang memiliki semua yang dibutuhkannya untuk bahagia. Namun, ia sama sekali tidak bahagia. Maka, ia memutuskan untuk berkeliling dunia untuk mencari kebahagiaan. Suatu hari, saat ia berjalan melewati hutan, tertekan dan putus asa, ia mendengar seorang pria bernyanyi. Nyanyian itu memenuhi hati sang raja dengan sukacita. Ia berpikir dalam hati bahwa jika nyanyian itu memenuhi dirinya dengan sukacita, maka hati sang penyanyi pasti juga dipenuhi sukacita. Dengan tenang, sang raja bergerak mendekati pria yang bernyanyi itu dan kemudian bersembunyi di balik semak-semak untuk mengamatinya, tanpa diketahui. Pria itu tampak bahagia. Sang raja tertarik dengan kebahagiaan pria itu dan bertanya-tanya apa yang membuatnya begitu bahagia. Raja memutuskan untuk mendekati pria itu dan mencari tahu.

Raja bertanya, "Apa yang kau miliki?" Orang itu terkejut dan tidak tahu harus menjawab apa. la tergagap, "Apa yang kumiliki?"

"Ya, apa yang kau miliki?" ulang raja. "Apa yang kau miliki yang membuatmu begitu bahagia?"

Orang itu menjawab: "Baju ini satu-satunya yang kumiliki"

Raja mengusulkan sebuah kesepakatan: "Berikan bajumu kepadaku, dan sebagai gantinya aku akan membuatmu kaya"

Orang itu setuju. Ia memberikan bajunya kepada raja dengan imbalan sekan- tong emas, lalu pergi.

Raja mengenakan baju itu dan berjalan beberapa langkah, menyentuh baju barunya berulang kali. Tidak ada yang berubah. la masih belum bahagia.

Pesan moral dari kisah ini adalah bahwa kebahagiaan tidak didasarkan pada apa yang kita miliki atau apa pun yang ada di dalam diri kita. Sebagaimana kita akan pelajari dari kesaksian umat Allah, sebagaimana dicatat dalam Ibrani 11 dan di akhir zaman (Why. 14: 12), iman juga tidak didasarkan pada apa pun di dalam diri kita.

Bagian II: Komentar

Pendahuluan: Bagaimana proses iman bekerja? Untuk menjawabnya, kita akan merujuk pada tiga teks dasar tentang iman. Teks pertama memberikan satu-satunya definisi alkitabiah tentang "iman" (Ibr. 11: 1), sebuah definisi yang akan diteguhkan oleh para bapa leluhur dan pahlawan iman dalam Perjanjian Lama (Ibr. 11: 4-40). Teks kedua memberikan penjelasan tentang mekanisme iman melalui kesaksian Abraham, yang adalah bapa kebenaran oleh iman (Kej. 15: 6). Teks ketiga adalah kesaksian "iman" oleh umat Allah ("orang-orang kudus") pada akhir zaman (Why. 14: 12).

Definisi Iman (Ibr. 11: 1). Ibrani 11: 1 adalah satu-satunya ayat Kitab Suci yang mendetinisıkan apa ıtu iman (Ibr. 11: 1). Bagı Paulus, penulıs kıtab Ibranı, iman terdiri dari dua komponen. Komponen pertama, "dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan" (Ibr. 11: 1), merujuk pada peristiwa terakhir dalam sejarah manusia, "Adven". , atau kedatangan Kerajaan Allah di akhir zaman, yang juga merupakan "janji" yang "para leluhur" dalam Perjanjian Lama, "semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu" (Ibr. 11: 39).

Komponen kedua dari iman adalah "bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibr. 11: 1). Aspek ini merujuk pada peristiwa pertama dalam seja-rah manusia, Penciptaan dunia. Perhatikan bahwa kata "terlihat", blepomenon dari Ibrani 11: 1, menunjuk pada "terlihat", blepomenon dari Ibrani 11: 3, yang merujuk pada Penciptaan dunia. Dengan kata lain, fondasi iman menyangkut dua peristiwa yang sepenuhnya berada di bawah kendali Ilahi: Penciptaan dunia oleh Allah, dan Kedatangan Kedua. Iman memanggil kita untuk percaya pada proses Penciptaan yang tidak terlihat dan berharap pada peristiwa kedatangan Kristus yang kedua yang tidak terlihat dan belum terjadi. Dengan demikian, pemahaman mendasar tentang iman didasarkan pada dua peristiwa ini: Penciptaan dan harapan akan Kedatangan Kedua. Tentu saja bukan kebetulan bahwa pola peris-tiwa ini terlihat jelas dalam struktur kanonik Kitab Suci itu sendiri. Kitab Suci dimulai dengan Penciptaan (Kej. I: 1-2: 1) dan berakhir dengan kedatangan Tuhan (Why. 22: 20). Kitab Suci Perjanjian Lama membuktikan struktur kanonik yang sama ini, dimulai dengan Penciptaan dan berakhir dengan datangnya harı Tuhan (Mal. 4: 5) atau harapan kembalinya umat dari pembuangan di Babel selama tahun Sabatikal (2 Taw. 36: 21-23).

Perlu dicatat bahwa pola struktural ini dibuktikan di tempat lain dalam Kitab Suci, seperti yang ditunjukkan dalam contoh-contoh berikut. (1) Kitab Kejadian dimulai dengan Penciptaan dan diakhiri dengan perspektif Tanah Perjanjian, dan, akhirnya, harapan dalam kebangkitan, seperti yang tersirat oleh permin-taan Yusuf agar tulang-tulangnya dibawa keluar dari Mesir pada saat pembe-basan Israel (Kej. 50: 24-26). (2) Demikian pula, Pentateukh dimulai dengan Penciptaan dan diakhiri dengan perspektif yang sama tentang Tanah Perjanjian dan harapan kebangkitan (Ul. 34: 4-6). (3) Kitab Yesaya dimulai dengan pang-gilan Tuhan ke langit dan bumi untuk menyaksikan keluhan-Nya terhadap umat-Nya dan berakhir dengan penciptaan langit baru dan bumi baru dan dengan pros-pek penyembahan kekal umat manusia yang ditebus kepada Tuhan dari Sabat ke Sabat (Yes. 66: 22, 23). (4) Kitab Pengkhotbah dimulai dengan Penciptaan (Pkh. 1: 1-11) dan berakhir dengan penghakiman eskatologis (Pkh. 12: 14). (5) Kitab Daniel dimulai dengan ujian makanan, yang mengacu pada prinsip-prinsip makanan yang diberikan pada saat Penciptaan (Dan. 1: 12; bandingkan dengan Kej. 1: 29) dan berakhir dengan Kedatangan Kedua, hari kebangkitan "akhir zaman" (Dan. 12: 13). (6) Injil Yohanes dimulai dengan Penciptaan (Yoh. 1: 1-10) dan berakhir dengan janji Kedatangan Kedua (Yoh. 21: 22, 23).

Iman Abram. Sebuah visi Mesianik tentang Allah menginspirasi Abram dengan iman akan masa depannya. Setelah melihat bintang-bintang di langit sebagai ilustrasi janji Ilahi, Abram percaya. Kata kerja Ibrani he'emin, "per-caya" ', menggambarkan lebih dari sekadar proses sentimental atau intelektual, sebagaimana diungkapkan dalam kata kerja bahasa Inggris "percaya". Demikian pula, "percaya" berarti lebih dari sekadar persetujuan terhadap suatu kredo atau "kepercayaan" religius. Dalam bahasa Ibrani, "percaya" bersifat historis dan relasional, sebagaimana tersirat oleh akar kata 'aman, "teguh", atau "dapat diandalkan", terutama dengan penggunaan preposisi be ("di". ', "pada") dengan objeknya. Bersandar pada Allah, Abram "percaya" bahwa ia akan memiliki keturunan. Kepercayaan semacam ini—iman ini— Allah "perhitungkan" sebagai "kebenaran" * Allah adalah subjek dari kata kerja "perhitungkan" sebagai ante- sedennya yang paling berhubungan langsung. Pembacaan ini ditegaskan oleh penggunaan bentuk pasif Ilahi (niphal) dari kata kerja yang sama, yekhasheb, yang berarti "diperhitungkan", "diisapkam". ", dalam ungkapan yang sama di tem- pat lain (Im. 7: 18; bandingkan dengan Mzm. 106: 31), yang juga menempatkan Allah sebagai subjeknya. Penggunaan ini berarti bahwa Allah "diperhitungkan" (Mzm. 106: 31) iman Abram memiliki kualitas yang sama dengan kebenaran.

Iman seperti itu adalah kebenaran. Usaha dan perbuatan manusia tidak menghasilkan kebenaran; sebaliknya, kebenaran adalah anugerah dari Allah. Kejadian 15: 6 masuk akal jika dikaitkan dengan latar belakang kepercayaan Mesir kuno yang lazim pada zaman Abram. Dalam kedua sistem tersebut, "memperhitung-kan" dan "kebenaran" termasuk dalam bahasa hukum, dan menghitung digunakan untuk mengevaluasi kebenaran. Namun, kedua perspektif tersebut pada dasarnya berbeda. Di Mesir kuno, bobot kebenaran manusia dievaluasi berdasarkan penghitungan perbuatan manusia terhadap bobot Maat, dewa kebenaran. Dalam sistem ini, kebenaran Ilahi dituntut dari manusia, dan kepemilikan, atau kekurangannya, diperhitungkan untuk atau melawan mereka. Sebaliknya, kebenaran Abram dievaluasi berdasarkan perbuatan Ilahi baginya. Dalam perspektif Kitab Suci, "kebenaran" (tsedagah) merupakan kualitas Ilahi yang spesifik (Yes. 45: 24, Dan. 9: 7), dan, oleh karena itu, kebenaran hanya dapat menjadi anugerah Allah bagi umat manusia (Ul. 6: 25, Ul. 24: 13, Yes. 45: 24, Mzm. 24: 5). Yang menjadikan Abram benar bukanlah jumlah perbuatannya, melainkan kesediaannya untuk bersandar pada perbuatan Allah bagi dirinya (Rm. 4: 2-4).

Iman Orang-Orang Kudus Akhir Zaman. Penerapan paling dekat dari integrasi kanonik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah keterkaitan antara "hukum Taurat dan Injil" ', yang digunakan Ellen G. White untuk menjelaskan nama "khas" kita (Selected Messages, buku 2, hlm. 385). Penting juga bahwa atas dasar keterkaitan inilah nama "Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh" telah diadopsi secara resmi untuk mendirikan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yang bersejarah: "Kami, yang bertanda tangan di bawah ini, dengan ini mengasosiasikan diri kami bersama, sebagai sebuah gereja, dengan mengambil nama, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, berjanji untuk menaati perintah-perintah Allah, dan iman kepada Yesus Kristus" (The Advent Review and Sabbath Herald, Oct. 8, 1861).

Jelas, pengakuan iman ini juga ditemukan dalam teks apokaliptik Kitab Wahyu, yang ditafsirkan sebagai rujukan kenabian kepada para saksi kebenaran Kitab Suci di akhir zaman (Why 14: 12). Dalam ayat ini, "orang-orang kudus" edus: Hukum taurat dan iman Kepada Yesus" berarti lebih dari sekedar tindakan ketaatan yang konkret, bersama dengan iman yang abstrak dan rohani. Aturan bahasa frasa tersebut menunjukkan, pada kenyataannya, bahwa kedua tindakan tersebut merupakan bagian dari kebenaran yang sama, dengan kemungkinan dua makna: ketaatan kepada hukum Taurat adalah iman Yesus; yaitu, iman Yesus. Sebab, dalam pemikiran alkitabiah, iman adalah kebenaran (lihat Kej. 15: 6). Rekonsiliasi antara "hukum Musa" dengan iman akan kedatangan Yesus menjadi ciri pesan eskatologis Elia (Mal. 4: 4-6) dan merupakan misi dari dua saksi yang mewakili kesaksian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (Why 11: 3-6).

Bagian III: Penerapan dalam Kehidupan

Kiat Guru: Berikut adalah beberapa strategi yang dapat Anda bagikan kepada siswa Anda untuk membangun iman dan memelihara kehidupan doa mereka. Mintalah seorang sukarelawan untuk membacakan Kitab Suci dan asas-asas berikut. Kemudian, diskusikan asas dan pertanyaan tersebut dengan kelas Anda.

Pelatihan Iman (baca Mat. 15: 21-28)

Prinsip 1: Berdoalah dan bersikaplah seolah-olah Tuhan telah mendengar doa Anda dan telah benar-benar menjawab atau akan menjawabnya.

Prinsip 2: Berhentilah mengkhawatirkan "status" iman Anda atau situasi Anda saat ini. Teruslah maju, percayalah kepada Tuhan.

Prinsip 3: Belajarlah untuk berjalan bersama Tuhan dan menaati perintah-perin-tah-Nya, bahkan (terutama) jika ketaatan ini menimbulkan masalah (kehilangan jabatan, teman, dil.).

Pertanyaan untuk dıdiskusikan:
1. Apa artinya memiliki iman yang rendah hati dan sejati kepada Tuhan?
2. Seperti apakah iman yang rendah hati itu?



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp