Triwulan 2 Pelajaran 6, 2026.
Pada akhirnya, kita seharusnya berdoa karena kita sangat mengasihi Allah, dan kita tidak bisa menahan diri untuk tidak membagikan segala hal dalam hidup kita kepada-Nya: sukacita dan keberhasilan hidup, beban dan kekhawatiran, permintaan dan kebutuhan sehari-hari. "Hendaklah kita begitu dekat dengan Tuhan sehingga dalam setiap ujian yang tak terduga, pikiran-pikiran kita akan berpaling kepada-Nya seperti halnya bunga yang berpaling kepada matahari. Bawalah segala keinginanmu, sukacitamu, kesedihanmu, kekhawatiranmu, dan ketakutanmu di hadapan Tuhan. Engkau tidak dapat membebani-Nya; engkau tidak dapat melelahkan-Nya. Ia yang menghitung jumlah rambut di kepalamu tidaklah bermasa bodoh terhadap keinginan-keinginan anak-anak-Nya. Hati-Nya yang penuh kasih terjamah oleh penderitaan kita dan bahkan dengan ucapan kita ketika menceritakannya. Bawalah segala sesuatu yang membingungkan pikiranmu kepadaNya. Tidak ada yang terlalu besar untuk ditanggung-Nya, karena Ia yang memegang dunia, Ia mengatur semua perkara di alam semesta ini. Tidak ada sesuatu hal yang menganggu kedamaian kita terlalu kecil bagi-Nya untuk diperhatikan. Tidak ada satu pun hal dalam pengalaman hidup kita yang terlalu gelap bagi-Nya untuk dibaca; tidak ada kekusutan hidup yang terlalu sulit bagi-Nya untuk diselesaikan. Tidak ada bencana yang dapat terjadi pada anak-anak-Nya yang paling kecil sekalipun, tidak ada kegelisahan yang mengusik jiwa, tidak ada kegembiraan yang menyenangkan hati, tidak ada doa yang sungguh-sungguh yang keluar dari bibir, yang tidak diperhatikan Bapa kita di surga, atau yang tidak segera diperhatikan-Nya. Hubungan yang terjadi antara Tuhan dengan setiap jiwa adalah istimewa dan sempurna, seperti tidak ada jiwa lain di atas muka bumi yang perlu memperoleh penjagaan-Nya, tidak ada jiwa lain untuk siapa Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal itu"-Ellen G. White, Langkah kepada Kristus, hlm. 171–173.
Pertanyaan-Pertanyaan untuk Diskusi:
1. Apakah Anda menggambarkan doa sebagai sesuatu yang indah atau sebagai beban? Apakah yang membentuk pandangan Anda tersebut?
2. Dari begitu banyak pesan bermakna dalam kutipan di atas, gagasan manakah yang paling menyentuh hati Anda?
3. Dari tiga tokoh Alkitab yang dipelajari pekan ini (Daniel, Henokh, dan Musa), kehidupan doa siapa yang paling Anda rasa mencerminkan pengalaman Anda sendiri, dan mengapa?
Ringkasan: Saat kita membaca tentang para raksasa doa dalam Alkitab, mudah untuk merasa bahwa kita tidak mungkin memiliki hubungan yang begitu dekat dengan Allah, atau menunjukkan komitmen sedalam itu. Namun kita bisa. Seperti Daniel, kita dapat setia dan teguh dalam berlutut setiap hari, meskipun menghadapi penentangan. Seperti Henokh, kita dapat memilih untuk berjalan dan berbicara dengan Allah, berpaling kepada-Nya sebelum kita melakukan pekerjaan yang Dia panggil untuk kita lakukan. Seperti Musa, kita dapat menuntun orang-orang dalam lingkup pengaruh kita, mendoakan keluarga dan komunitas kita ketika kita memilih untuk berlindung di bawah naungan Yang Mahatinggi, Pemimpin dan Sahabat kita.
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat