Triwulan 2 Pelajaran 6, 2026. 


Download Powerpoint




Selasa, 5 Mei 2026.

Henokh Berjalan dan Berbicara


Bacalah Kejadian 5: 22-24. Apakah sebenarnya yang kita ketahui tentang Henokh?

Alkitab tidak membagikan banyak hal tentang kehidupan Henokh, tetapi Alkitab menyatakan bahwa ia berjalan bersama Allah selama 300 tahun sampai Allah mengangkatnya ke surga. Betapa indahnya bahwa kesetiaan seseorang kepada Allah, yang terus-menerus dan konsisten, menjadi hal yang mendefinisikan hidupnya!

Satu hal yang kita tahu adalah bahwa Henokh pasti adalah orang yang "bertekun dalam doa" (Roma 12:12), bertahan dan bertumbuh semakin dekat dengan Allah dalam iman melalui pengalaman hariannya. Dunia sedang menjadi semakin jahat pada masa hidupnya, dan Henokh tetap sibuk melayani Allah. Namun, ia tidak bisa melakukan hal ini dengan baik tanpa tinggal di dalam Dia.

"Di tengah-tengah kesibukan kerjanya Henokh tetap mempertahankan hubungannya dengan Allah. Lebih besar dan lebih mendesak tugasnya itu, lebih sering dan lebih tekun lagi ia dalam doanya itu.... Setelah tinggal untuk sesaat lamanya di antara orang banyak sambil berusaha untuk memberikan petunjuk-petunjuk serta teladan yang menguntungkan mereka itu, ia akan mengasingkan diri untuk memuaskan rasa lapar dan dahaganya akan pengetahuan Ilahi yang dapat dipuaskan hanya oleh Allah saja. Melalui hubungan dengan Allah dengan cara seperti itu, Henokh memantulkan peta Ilahi dengan lebih sempurna lagi... Orang jahat sekalipun dapat melihat dengan rasa kagum akan cap surga di wajahnya" Ellen G. White, Sejarah Para Nabi (1999), jld. 1, hlm. 91.

Allah tidak meminta kita untuk hidup seperti pertapa atau biarawan, terpisah dari dunia sampai tidak berguna bagi sesama. Seperti Henokh, kita bisa tetap aktif dan sadar akan kebutuhan orang-orang di sekitar kita, tetapi hanya dengan berjalan dan berbicara bersama Allah melalui hubungan yang konsisten dan tetap tinggal di dalam-Nya, maka Dia dapat mencerminkan karakter-Nya yang luar biasa melalui diri kita.

Kita dapat berdoa kapan saja dan di mana saja. Tidak ada tempat di bumi ini di mana Allah tidak melihat atau mendengar kita (lihat Mazmur 139:7-12); Dia selalu mendengar seruan hati kita, tidak peduli di mana kita berada (baca Ratapan 3:55-57). Namun, ada sesuatu yang istimewa saat kita berdoa dengan suara keras dibanding hanya dalam pikiran. Saat berdoa dalam hati, kita mungkin mudah terdistraksi, kehilangan alur, atau bahkan tidak menyelesaikan kalimat kita. Pikiran kita pun lebih sulit untuk tetap fokus. Tetapi saat kita berdoa dengan suara, entah dalam bisikan maupun suara biasa, itu menjadi pengingat bawah sadar bagi diri sendiri bahwa Allah itu nyata, bahwa Dia sedang mendengarkan, dan bahwa kita benar-benar memiliki sesuatu yang ingin kita sampaikan kepada-Nya.

Hari ini, saat Anda menjalani hari Anda, di mana atau bagaimana Anda akan membisikkan doa dalam persekutuan dengan Yesus?



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp