Triwulan 2 Pelajaran 10, 2026. 


Download Powerpoint



PENUNTUN GURU


Bagian I: Tinjauan Umum

Ayat Inti: 1 Yohanes 1: 9.

Fokus Pelajaran: Kej. 3: 7, 21; Kel. 34: 1-10; 1 Yoh. 1: 5-10; Yes. 6l:10; Hosea 6.

Pelajaran pekan ini menanggapi pembahasan pekan lalu tentang hakikat dosa. Pekan lalu, kita membahas keputusasaan yang ditimbulkan oleh kondisi berdosa kita. Pekan ini kita akan membahas tanggapan Allah terhadap masalah dosa manusia.

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Allah tidak tinggal diam di surga, acuh tak acuh terhadap kesengsaraan kita. Pada waktu yang telah ditentukan, Yesus, Anak Allah, turun dalam rupa manusia untuk melakukan operası penyelamatan. Allah, dalam pribadi Anak-Nya, mati untuk dosa-dosa kita. Di kayu salib, Kristus membayar harga keadilan yang tinggi demi keselamatan kita. Sejak saat itu, Tuhan Yesus telah bersyafaat di surga bagi kita untuk mengamankan tempat kita bersama-Nya di kerajaan-Nya. Sekarang, di akhir zaman, Kristus memohon kepada kita melalui Roh-Nya untuk mengubah cara hidup kita yang berdosa, yang membawa kepada kematian, dan sebagai gantinya menerima karunia hidup kekal-Nya. Satu-satunya solusi untuk masalah dosa adalah mendengarkan panggilan Allah untuk bertobat (Hosea 6).

Pekan lalu, kita belajar bahwa, sebagai orang berdosa, kita berada dalam kondisi terhilang yang terpisah dari Kristus dan, dengan demikian, berjalan dalam kegelapan (1 Yoh. 1: 6). Pekan ini, kita akan belajar bagaimana berjalan keluar dari kegelapan menuju terang Allah yang ajaib (1 Yoh. 1: 7). Tanpa belas kasihan Allah di dalam Kristus Yesus, dosa kita tidak dapat diampuni, dan kita adalah budak dosa dan maut (Kej. 2: 17, Rm. 5: 12). Dalam pelajaran pekan ini, kita akan mengeksplorasi bagaimana kita berdiri hidup di dalam Kristus, takjub akan anugerah kasih karunia Allah yang luar biasa (Kel. 34: 1-10). Tanpa anugerah ini, kita seperti Adam dan Hawa pada saat Kejatuhan, malu akan ketelanjangan kita (Kej. 3: 7). Pekan ini, kita juga akan melihat bagaimana kasih karunia Allah menyelimuti kita sebagaimana kasih karunia itu menyelimuti Adam dan Hawa yang bertobat (Kej. 3: 21, Why. 7: 13-17, Mat. 22: 12).

Bagian II: Komentar

Panggilan Allah untuk Bertobat (Hosea 6). Kata Ibrani shub merujuk pada tindakan fisik untuk "kembali". Kata kerja ini juga mengungkapkan konsep rohani "pertobatan"

Kata kerja shub merupakan kata kunci dalam kitab Hosea. Pertobatan merupakan tema utama di seluruh kitab ini. Kata kerja shub merujuk pada kembalinya istri Nabi Hosea, yang telah menjadi pelacur dan telah meninggalkan suaminya (Hos 2: 7). Ketidaksetiaan Gomer pada janji pernikahannya melambangkan ketidaksetiaan Israel kepada Allah. Jadi, shub juga digunakan untuk merujuk pada kembalinya (pertobatan) Israel kepada Allah (Hos 3: 5).

Dalam Hosea 6, kata kerja shub, "kembali" , muncul di awal pasal tersebut (Hos. 6: 1), yang merujuk pada pertobatan Israel kepada Allah, dan kemudian muncul lagi di akhir pasal tersebut (Hos. 6: 11). Penyertaan ini berfungsi sebagai perangkat sastra yang menghubungkan pertobatan Israel dengan janji akan kembalinya mereka dari pembuangan. Sekali lagi, situasi aktual sang nabi dengan istrinya yang berzina digunakan sebagai metafora yang terlihat untuk menggambarkan situasi serupa Israel terhadap Allah. Dalam bagian ini, sang nabi mengingatkan Israel akan kondisi mereka yang "tercabik-cabik" saat ini karena Allah mencabik-cabik Israel (Hos. 6: 1), sama seperti yang dilakukan singa terhadap mangsanya (Hos. 5: 14). Kemudian sang nabi berjanji bahwa Allah akan menghidupkan kembali Israel pada hari ketiga, yang merupakan singgungan kepada kebangkitan rohani Israel oleh Allah.

Di Timur Dekat kuno, orang yang telah meninggal dipercaya dapat dinyatakan meninggal hanya setelah tiga hari mengalami kerusakan. Referensi "tiga hari" menyiratkan bahwa kebangkitan itu memang merupakan kebangkitan, seo-lah-olah, dari antara orang mati. Analogi yang sama diterapkan dalam Perjanjian Baru untuk kebangkitan Yesus Kristus pada "hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci" (1 Kor. 15: 4). (Perhatikan bahwa dalam perhitungan Yahudi kuno, tiga hari dihitung seolah-olah hari ketiga telah dijalani sepenuhnya.) Kesejajaran antara dua kebangkitan, kebangkitan Israel dan kebangkitan Kristus, tidak hanya memungkinkan interpretasi tipologis dari bagian yang menghubungkan kebangkitan Israel (kembali dari pembuangan) dengan kebangkitan Kristus. Dari perspektif Perjanjian Baru, kesejajaran tersebut juga mengandung pelajaran rohani bahwa pertobatan akan memastikan janji Allah akan "menghidupkan kembali" umat-Nya, sama seperti Allah membangkitkan Anak-Nya (1 Kor. 15: 20; bandingkan dengan 1 Kor. 15: 23).

Berjalanlah dalam Terang Allah (1 Yohanes I: 5-10). Dalam kitab Hosea, kita mendengar panggilan Allah untuk bertobat, untuk kembali kepada Allah. Dalam surat Yohanes, kita mendengar panggilan Allah untuk berjalan dalam terang Allah. Surat Yohanes dimulai dengan referensi tentang "semula" (1 Yoh. 1: 1), sebuah singgungan terhadap peristiwa Penciptaan, "tentang Firman hidup" (1 Yoh. I: 1). Kaitan pemikiran yang sama ditemukan dalam permulaan Injil Yohanes, di mana murid yang dikasihi itu menggunakan frasa "pada mulanya" (loh. I: 1), dengan demikian merujuk pada kata pertama dalam Kitab Kejadian, bere'shit, "pada mulanya" (Yoh. 1: 1, TB; bandingkan dengan Kej. 1: 1). Dalam Injil Yohanes, terang dan hidup saling terkait: "Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia" (Yoh. ]: 4). Demikian pula, dalam suratnya, Yohanes berbicara tentang Allah kehidupan (1 Yoh. 1: 1, 2) sebagai Allah terang (1 Yoh. I: 5). Yohanes menggunakan peristiwa kosmik Penciptaan sebagai argumen untuk meyakinkan kita agar berjalan dalam terang Allah. Karena Allah, Pencipta dan Sumber kehidupan, adalah "terang" ', kita harus berjalan dalam terang-Nya (1 Yoh. 1: 7). Alasan lain mengapa prinsip ini penting didasarkan pada fakta bahwa di luar terang Allah, kita tidak hanya berada dalam kegelapan, tidak dapat melihat jalan yang benar; kita juga berdosa, dan, oleh karena itu, sangat membutuhkan penyucian dan pengampunan Kristus (1 Yoh. 1: 9). Yohanes menegaskan, dengan demikian, fakta bahwa kita semua berdosa. Tidak seorang pun dapat mengklaim hal yang sebaliknya (1 Yoh. 1: 10).

Dalam Kitab Pengkhotbah, kita menemukan peringatan yang sama. Setelah menunjukkan kebingungan yang menjadi ciri pencarian hikmat (Pkh. 7: 10-18), orang bijak memperingatkan bahwa mustahil bagi manusia untuk menemukan hikmat sendiri (Pkh. 7: 23). Satu-satunya kepastian yang ia temukan dalam hidup ini adalah bahwa "Állah telah menjadikan manusia yang jujur, tetapi mereka mencari banyak dalih" (Pkh. 7: 29). Oleh karena itu, Pengkhotbah menekankan bahwa tidak seorang pun di bumi ini yang layak mendapatkan kese-lamatan, karena kita semua adalah orang berdosa (Pkh. 7: 20). Oleh karena itu, Salomo menyimpulkan bahwa satu-satunya jalan keluar dari masalah ini adalah melalui Allah (Pkh. 7: 18).

Karakter Allah (Kel. 34: 1-10). Allah adalah Pribadi yang memulai langkah pertama dalam mendamaikan kita dengan diri-Nya. Dialah yang menawarkan pengampunan kepada kita. Israel mengalami kenyataan ini setelah mereka menyembah anak lembu emas (Kel. 32: 1-6). "Dosa besar" ini memisahkan mereka dari Allah. Tidak ada tindakan atau kebaikan manusia yang dapat menjembatani jurang antara surga dan bumi. Untuk melambangkan pemisahan ini, Musa memecahkan loh-loh hukum Taurat, yang baru saja ia ambil dari tangan Allah (Kel. 32: 15, 16). Musa kemudian berdiri di hadapan Allah dan memohon kepada-Nya untuk mengampuni umat atas "dosa besar" mereka (Kel. 32: 31-35). Kepada Musa, yang meminta Allah untuk menyatakan diri-Nya dalam kemuliaan-Nya (Kel. 33: 18), Allah menanggapinya dengan menyatakan kasih karunıa pengampunan-Nya (Kel. 33: 19). Teks yang sedang kita bahas, Keluaran 34: 1-10, merupakan penggenapan janji tersebut. Fokus dan penekanan pernyataan Allah dalam ayat-ayat ini didasarkan pada kasih karunia-Nya, yang diungkapkan melalui lima kata:

1. "Penyayang" dari kata Ibrani rekhem, "rahim" membangkitkan keintiman ikatan seorang ibu hamil dengan bayi dalam kandungannya.
2. "Pemurah" berkaitan dengan gagasan tentang sesuatu yang diberikan "gratis" (khinam).
3. "Panjang sabar" (harfiah: "panjang hidung") merujuk pada rentang kesabaran Allah yang luar biasa.
4. "Kebaikan dan kebenaran" bersama-sama merujuk pada ketegangan
5. antara kasih dan keadilan.6. Pada hari penghakiman (Dan. 7: 9-15; 8: 14), kasih karunia Allah memastikan pengampunan dan belas kasihan-Nya kepada umat-Nya.

Jubah Baru (Kej. 3: 21, Why. 7: 13-17). Adam dan Hawa merasakan kerentanan dalam ketelanjangan mereka karena mereka kehilangan jubah terang mula-mula yang menyelimuti mereka. Jubah terang ini mencerminkan penampakan Ilahi (lihat Mzm. 8: 5; bandingkan dengan Mzm. 104: 1, 2).

Solusi Adam dan Hawa untuk masalah ketelanjangan mereka adalah dengan menutupi diri mereka, sebuah kesalahan yang akan dikecam Paulus sebagai kebenaran karena perbuatan (Gal. 2: 16). Dengan melakukan hal itu, pasangan manusia itu sebenarnya mengambil alih tempat Allah. Perampasan ini diperbaiki kemudian ketika Allah datang untuk memberi mereka pakaian (Kej. 3: 21).

Memang, peristiwa Allah memberi pakaian kepada Adam dan Hawa diceritakan dalam Kejadian 3: 7, dengan istilah yang mengingatkan pada cara manusia membuat pakaian. Kata kerja yang sama dalam bentuk yang sama, wayya'asu/ waya'as, "mereka membuat"/"Dia membuat" , digunakan dalam kedua bagian tersebut. Gema kata kerja ini dalam kedua ayat tersebut berarti bahwa hanya Allah yang berhak dan mampu menutupi orang berdosa. Allah menanamkan pelajaran ini melalui ketetapan kurban, yang merujuk pada kurban Kristus di masa depan. Penggunaan kulit binatang oleh Allah menyiratkan bahwa binatang itu dibunuh atau dikurbankan (Im. 5: 5-10; 7: 8). Dengan demikian, pakaian kurban, yang sarat dengan janji mesianiknya, menggantikan pakaian buatan manusia.

Kisah dalam Kitab Kejadian tentang pergantian pakaian yang dibuat oleh Allah memiliki makna tipologis. Secara kiasan, kisah ini merujuk pada jubah kebenaran di masa depan yang akan Allah berikan kepada orang-orang yang diselamatkan (Why. 3: 5, 3: 18, 19: 8), yang akan menghadiri perjamuan kawin Anak Domba (Why. 19: 9; bandingkan dengan Mat. 22: 12).

Bagian III: Penerapan dalam Kehidupan

Kiat Guru: Apa hubungan antara kasih dan keadilan? Untuk memulai eksplorasi pertanyaan mendalam ini bersama kelas Anda, mintalah seorang sukarelawan untuk membacakan refleksi singkat tentang topik ini di bawah ini. Kemudian, diskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut.

Untuk Direnungkan: Kasih dan Keadilan. Dalam bahasa Ibrani, kata tsedeq berarti "kasih" atau "keadilan" tergantung konteksnya.

1. Mengapa keadilan tanpa kasih bukanlah keadilan, dan kasih tanpa keadilan bukanlah kasih?
2. Mintalah peserta kelas Anda untuk menemukan contoh-contoh dari Kitab Suci, sejarah, atau peristiwa terkini yang menggambarkan kebenaran ini.
Undanglah mereka untuk mempresentasikan temuan mereka di depan kelas.



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp