Triwulan 2 Pelajaran 10, 2026.
Itu adalah pekan yang sangat sibuk. Meskipun ia tahu masih banyak yang harus dilakukan sebelum hari Sabat, hal-hal yang mendesak seakan mengalahkan yang penting, dan sebelum ia sadar, matahari telah terbenam. Keluarga itu menikmati makan malam dan ibadah Jumat malam bersama yang istimewa.
Namun ketika pagi hari Sabat datang dan ia bangun lebih awal, ia tak bisa menahan diri untuk tidak melihat kamar mandi yang kotor, lalu ia bersihkan. Kemudian ia melihat bahwa anak laki-lakinya mengompol, jadi ia memasukkan seprai dan pakaian lain ke mesin cuci. Saat ia menyiapkan sarapan untuk keluarganya, ia menyadari bahwa tidak ada hidangan penutup untuk makan siang, jadi ia cepat-cepat memanggang roti pisang. Ia melihat bahwa suaminya memerlukan kemeja yang disetrika untuk pergi ke gereja, jadi ia menyetrikanya, lalu melipat pakaian dan membuang sampah.
Dan saat itulah kesadaran menimpanya. Ini hari Sabat-hari yang paling ia cintai dari semua hari! Namun di sinilah ia, mengerjakan semua pekerjaan rumah ini dan membiarkan hal-hal ini mengalihkan perhatiannya dari makna sejati hari Sabat-mendekat kepada Allah.
Sesaat pikirannya mulai membenarkan tindakannya-semua ini memang harus dilakukan. Tetapi benarkah begitu? Ia menyadari bahwa ia bertindak seperti Marta, "sibuk melayani" (Lukas. 10: 40), namun kata-kata Yesus terngiang dalam pikirannya: "engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya" (Lukas. 10: 41, 42). Bagian terbaik itu-duduk di kaki Yesus karena kasih yang mendalam kepada-Nya-bukan hanya pada hari Sabat, tetapi setiap hari. Pagi ini ia tidak memilih bagian itu.
Ia mengasihi Allah, tetapi mudah untuk melupakan bahwa Dia telah memberikan Sabat sebagai karunia waktu untuk memperkuat hubungan mereka. Air mata jatuh dari matanya saat ia berdiri di dapur yang sepi.
Tujuan dari contoh ini bukan untuk menekankan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan pada hari Sabat; melainkan untuk mengingatkan kita betapa pentingnya menyadari hal-hal yang melemahkan atau merusak hubungan kita dengan Allah. Ketika hati kita merasakan sakit karena dosa dan keterpisahan, dan kita berseru kepada-Nya, Yesus sangat dekat (Mazmur 53:2). Di tangan-Nya yang berlumuran darah, Dia memegang jubah putih. Dia melihat air mata pertobatan kita dan menanggalkan pakaian kita yang kotor. Kemudian Dia menyelubungi kita sepenuhnya dengan jubah kebenaran-Nya. Kekudusan-Nya menutupi dosa kita secara sempurna dan sepenuhnya. Kita dapat mencuci jubah kita dalam darah-Nya (Wahyu 7:14).
Bagaimanakah Yesaya 64: 6, Zakharia 3: 4, dan Yesaya 61: 10 menyatakan kebenaran penting ini tentang kebenaran Kristus kepada kita? Mengapa kita harus selalu berpegang teguh pada janji ini?
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat