Triwulan 2 Pelajaran 1, 2026. 


Download Powerpoint




Senin, 30 Maret 2026.

Teguran, Pertobatan, dan Upah


"Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar,” kata Yesus kepada kita dalam Wahyu 3: 19. "Sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah." Tidak seorang pun dari kita, bahkan untuk sedetik pun, dapat dibenarkan untuk mengatakan bahwa Yesus tidak peduli kepada kita atau masa depan kita. Alangkah lebih mudahnya bagi Yesus untuk menyerah terhadap umat manusia dan tidak menempuh jalan penderitaan yang Dia pilih di bumi ini. Justru karena kasih-Nya yang begitu dalamlah Dia menegur kita dalam kondisi kita sekarang. Dia menginginkan hubungan yang jauh lebih kuat dan lebih dalam dengan kita. Dia tidak puas dengan sikap kita yang setengah-setengah, dengan pendekatan “Aku akan datang kepada-Nya kalau aku butuh saja."

Sebaliknya, Yesus menegur kita demi kebaikan kita sendiri. Dia menyuruh kita untuk bertobat. Tetapi kita tidak akan bisa bertobat kecuali kita menyadari bahwa ada sesuatu yang salah. Namun, Dia sudah memberi tahu kita dengan jelas apa yang salah: kita berpikir bahwa kita kaya, padahal sebenarnya kita adalah "melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang" (Wahyu 3:17).

Bacalah Wahyu 3: 20. Janji apakah yang diberikan kepada kita di sini? Namun, apakah yang harus kita lakukan untuk menerima janji itu?

Ini adalah gambaran kata-kata yang begitu indah dan luar biasa. Allah semesta alam ingin duduk bersama Anda dan saya untuk makan bersama. Dia menginginkan hubungan yang saling terbuka dan pembicaraan yang hangat sambil menikmati makanan yang enak. Ini adalah gambaran dari hubungan yang dekat dan tinggal tetap dan Yesus mengundang kita untuk memiliki hubungan seperti itu dengan-Nya.

Yesus berdiri dengan sabar, menunggu dan mengetuk pintu hati Anda. Mungkin Anda pernah melihat gambar ini di buku-buku anak-anak-Seorang Juruselamat yang tinggi dan penuh kasih mengetuk dengan lembut. Dia tidak menerobos masuk atau memaksa Anda untuk berbicara dengan-Nya. Dia tidak mengganggu waktu Anda atau kehidupan sibuk Anda. Waktu sangat singkat, jadi jika Anda mendengar-Nya, bukalah pintu. Dia akan segera masuk ke dalam hidup Anda.

Metafora ini menggambarkan jenis hubungan yang Yesus ingin miliki dengan masing-masing dari kita. Namun suatu hari nanti, ketika Anda bertemu Yesus secara langsung ketika Anda melemparkan mahkota Anda di kaki-Nya dalam penyembahan dan pujian, bersama ribuan dan puluhan ribu orang lainnya memuliakan Sang Pencipta (Wahyu 4:9-11; Wahyu 5:11-14)-dan ketika Anda mencoba mengingat kembali penderitaan-penderitaan Anda di bumi ini yang terasa begitu kecil dan tidak berarti dibandingkan kemuliaan itu apakah saat itu Anda akan pernah menyesali waktu yang Anda habiskan bersama Yesus selama hidup di dunia?

Saat ini, Yesus sedang mengetuk. Dia sedang memanggil. Namun, Anda harus membuat keputusan sadar untuk membuka hati bagi-Nya. Bagaimanakah dengan memandang Salib dan merenungkan maknanya dapat menginspirasi Anda untuk membuat keputusan tersebut?



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp