Triwulan 1 Pelajaran 6, 2026.
Merupakan satu pengalaman umum bagi orang yang baru bertobat untuk memikirkan kehidupan mereka dalam konteks sebelum mereka menerima Yesus dan sesudahnya, seperti yang Paulus lakukan dalam Filipi 3. Meskipun demikian, entah benar atau salah, kita terkadang berbicara tentang mereka yang bukan orang Kristen sebagai "orang baik," dan, setidaknya menurut standar dunia, memang banyak. Sebaliknya, dibandingkan dengan standar Allah, tidak ada seorang pun yang baik, bahkan orang Kristen sekalipun.
Dalam Filipi 3: 4-6; Paulus menunjukkan banyak hal dalam hidupnya yang pernah ia banggakan. Apa sajakah itu? Bagaimanakah Anda menggambarkan hal-hal “baik" dalam hidup Anda sendiri (baik di masa lalu maupun sekarang)?
Paulus membuat perbedaan secara tersirat antara orang Yahudi yang percaya tetapi menyebarkan ajaran sesat dengan orang-orang percaya yang tidak bersunat, yang sepenuhnya bergantung pada Kristus untuk keselamatan mereka dan tidak menaruh kepercayaan pada perbuatan manusia semata, seperti sunat (lihat Ibr. 6: 1; Ibr. 9: 14; bandingkan dengan Rm. 2: 25-29). Meskipun kehidupan dan silsilah Paulus di masa lalu sangat mengesankan bagi sesama orang Yahudi, tidak satu pun dari hal-hal tersebut berguna bagi keselamatannya. Bahkan, hal-hal tersebut benar-benar menghalanginya karena hal-hal tersebut membutakannya untuk sementara waktu terhadap kebutuhannya akan Kristus.
Paulus tidak hanya disunat-ia adalah seorang "yang disunat pada hari kedelapan," yang berarti ia, sebagai orang Israel sejak lahir dan bagian dari umat perjanjian. Selain itu, ia berasal dari suku Benyamin, yang wilayahnya mencakup beberapa kota terpenting di Israel. Paulus tidak hanya memahami bahasa Ibrani, tetapi juga sebagai seorang Farisi dan murid Gamaliel (Kis. 22: 3; Kis. 26: 4, 5), ia pasti memiliki pemahaman mendalam tentang hukum Taurat dan bagaimana hukum harus itu diterapkan, setidaknya menurut tradisi.
Paulus begitu bersemangat menegakkan hukum sehingga ia menganiaya gereja karena dianggap sebagai ancaman bagi tata cara hidup orang Yahudi, yang ia yakini telah ditetapkan oleh hukum Taurat. Menariknya, meskipun "tanpa cela" dalam hal "kebenaran" yang berasal dari manusia, Paulus menyadari bahwa hukum Taurat sebenarnya jauh lebih dalam dan lebih menuntut daripada yang dapat ia bayangkan, dan tanpa Kristus ia berdiri dalam keadaan terhukum.
Bandingkan Roma 7: 7-12 dengan Matius 5: 21, 22, 27, 28. Apakah poin penting yang Yesus dan Paulus sampaikan tentang hukum Taurat? Dan mengapa "iman dalam Kristus" (Flp. 3: 9), bukan hukum Taurat, menjadi satu-satunya sumber kebenaran? Coba pikirkan dengan cara ini: Seberapa baik Anda menaati hukum, setidaknya menurut cara yang diajarkan Yesus?
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat