Triwulan 2 Pelajaran 5, 2026.
Ayat Inti: Yesaya 55: 11, Mazmur 119: 105.
Fokus Pelajaran: Mazmur 119.
Di tengah doanya, pemazmur membandingkan Firman Tuhan dengan pelita, yang menerangi kakinya (Mzm. 119: 105). Mazmur ini dibuka dengan berkat yang dianugerahkan kepada orang-orang yang tidak tercemar yang memilih untuk hidup dalam hukum Tuhan dan yang memelihara kesaksian-kesak-sian-Nya (Nzm. |19: 1-3). Mazmur ini juga diakhiri dengan gambaran seorang pejalan kaki, meskipun ia telah tersesat dan berdoa agar Tuhan menemukan-Nya (Mzm. 119: 176).
Dalam pelajaran ini, kita akan mencoba untuk berjalan bersama pemazmur dalam pencariannya akan pemahaman yang lebih mendalam tentang Firman Tuhan. Perjalanan kita ini merupakan kelanjutan dari pelajaran kita pekan lalu, di mana kita membahas pentingnya mempelajari Kitab Suci.
Seiring kita melangkah maju dalam perjalanan kita, kita akan merenungkan prinsip-prinsip untuk pendekatan terbaik terhadap Kitab Suci. Gambaran pelita yang menerangi jalan gelap di malam hari menunjukkan perjalanan yang lambat dan hati-hati, di mana kita tidak dapat melihat lebih jauh dari satu langkah yang kita ambil. Perjalanan seperti itu membutuhkan waktu, karena merupakan perkembangan langkah demi langkah. Pada saat yang sama, perjalanan seperti itu juga merupakan sebuah petualangan, yang mengandung unsur ketidakpastian: kita tidak tahu persis di mana kita akan berakhir atau ke ketinggian apa perjalanan kita akan membawa kita.
Untuk mendapatkan hasil maksimal dari penelaahan kita, setiap ayat yang sedang kita pertimbangkan harus dibaca dengan jujur, tanpa prasangka atau bias. Sebaliknya, kita harus membaca dengan pikiran terbuka; dan untuk melanjutkan soal metafora berjalan itu, kita perlu melangkah dalam iman dan pergi ke mana pun Roh Kudus menuntun kita. Pembacaan teks Kitab Suci yang jujur akan membantu kita mendengar dan menerima suara Tuhan yang berbicara kepada kita melalui Firman-Nya. Dengan cara ini, kita akan menemukan Kitab Suci sebagai sesuatu yang bermakna, indah, menginspirasi, menarik, dan bermoral.
Pendahuluan. Enam prinsip membaca Kitab Suci disarankan untuk kita pertimbangkan dalam tafsir berikut. Beberapa prinsip pertama (1-3) berkaitan dengan perhatian pembaca terhadap teks. Tiga prinsip terakhir (4-6) berkaitan dengan respons pembaca.
Bagian 1: Perhatian terhadap Teks
Teks yang Bermakna. Sepanjang Mazmur 119, dapat dikatakan bahwa pemazmur merenungkan Firman Tuhan (Mzm. 119: 15, 48) hanya dua kali: "sepanjang hari" (Mzm. 119: 97) dan sepanjang malam (Mzm. 119: 148), yang berarti, pemazmur terus-menerus merenungkan Kitab Suci karena Kitab Suci adalah kesukaannya (Mzm. 119: 44, 47). Kasih akan Firman Tuhan menjadi motivasi pemazmur dalam mempelajarinya (Mzm. 119: 97, 113, 127). Sungguh, firman Tuhan yang kudus bagaikan surat cinta yang harus dibaca berulang-ulang, menginspirasi pemazmur untuk mencari pikiran dan maksud terdalamnya.
Pemazmur mempraktikkan metode yang oleh para ahli modern disebut sebagai pendekatan membaca cermat. Metode ini terdiri dari membaca teks secara saksama, kata demi kata, dengan asumsi bahwa setiap kata, setiap ciri aturan penempatan kata, dan setiap bentuk tata bahasa memiliki makna. Dalam pendekatan ini, seseorang membaca teks beberapa kali. Pembacaan seperti itu selalu bermakna dan menyenangkan, sebagaimana pemazmur bersaksi (Mzm. 119: 14, 111). Pendekatan ini memastikan bahwa selalu ada lebih banyak kekayaan yang dapat ditemukan.
Teks Itu Indah. Sebelum menemukan maknanya, namun, teks Kitab Suci itu indah. Musik dan gambarannya sering kali diapresiasi sebelum maknanya dipahami sepenuhnya oleh pikiran. Karena alasan ini, latihan pertama bagi pembaca adalah memperhatikan dengan saksama ekspresi puitis teks tersebut. Struktur sastra yang menyusun seluruh bagian akan mengarahkan pembaca pada mak-nanya, memungkinkannya untuk memahami maksud umum penulis Kitab Suci. Paralelisme dan gema bahasa yang menghubungkan kata dan frasa satu sama lain akan membantu pembaca untuk lebih memahami makna masing-masing.
Komponen Keindahan. Mazmur 119 adalah mazmur alfabetis (akrostik). Mazmur ini memiliki 22 bait, satu untuk setiap huruf alfabet Ibrani. Masing-masing dari 22 bait tersebut memiliki delapan ayat, sehingga totalnya menjadi 176 ayat. Tujuan dari perangkat sastra ini adalah untuk mengajar kita tentang kesempurnaan Firman Allah, yang dirujuk di mana-mana dalam mazmur ini.
Dalam bait huruf NUN (Mzm. 119: 105-112), setiap ayat merujuk pada hukum Allah dengan istilah yang berbeda: "Firman-Mu" (Mzm. 119: 105, 107), "Hukum-hukum-Mu" (Mzm. 119: 108), "Taurat-Mu" (Mzm. 119: 109), "Titah-titah-Mu" (Mzm. 119: 110), "Peringatan-peringatan-Mu" (Mzm. 119: 111), dan "Ketetapan-ketetapan-Mu" (Mzm. 119: 112). Ciri sastra ini menunjuk pada semua aspek Hukum Allah, yang dengan demikian menunjukkan kesempurna-annya.
Teks sebagai Alkitabiah. Di sini, kita hanya akan berfokus pada konteks sastra bait NUN (Mzm. 119: 105-112). Bait NUN didahului oleh bait MEM (Mzm. 119: 97-104) dan diikuti oleh bait SAMEK (Mzm. 119: 113-120). Motif utama bait MEM adalah cinta akan hukum Taurat, jalan yang benar yang diajarkan Allah (Mzm. 119: 102), yang kontras dengan kebencian terhadap jalan yang salah (Mzm. 119: 101, 104). Alur pemikiran yang sama muncul kembali dalam bait SAMEK, yang kembali terhubung dengan motif yang sama yang kita lihat dalam bait MEM (Mzm. 119: 113, 119). Oleh karena itu, bait NUN harus dianalisis berdasarkan konteks ini.
Pertimbangan kontekstual bait NUN juga mencakup kerangka Kitab Suci yang lebih luas (hubungan antar teks), serta konteks langsung dan dekat Mazmur 19 (hubungan intra teks), sejauh kiasan dapat ditegakkan. Pendekatan terhadap teks Kitab Suci inilah yang dipromosikan Ellen G. White ketika ia berkata, "Kitab Suci adalah penafsimya sendiri. Kitab Suci harus dibandingkan dengan Kitab Suci. Pelajar Kitab Suci hendaknya belajar memandang firman secara keseluruhan dan melihat hubungan bagian-bagiannya"- Counsels to Parent: bagian menjadi kunci bagi bagian-bagian lainnya"-Evangelism, hlm. 581.
Bagian 2: Tanggapan Pembaca
Naskah yang Diilhami. Teks Kitab Suci berbeda dari karya sastra lainnya. Hal ini karena Kitab Suci "diilhamkan oleh Allah" dan karenanya diilhami. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kita untuk menggunakan pendekatan rohani dalam pembelajaran kita (1 Korintus 2: 13, 14). Sebagai pelajar Kitab Suci, kita hendaknya mendekati teks Kitab Suci dengan doa dan terus-menerus memeriksa diri untuk memastikan bahwa kita dibimbing secara objektif dari atas dan tidak dipengaruhi secara subjektif oleh agenda dan prasangka pribadi kita.
Karena kita bukan nabi, kita tidak boleh berharap bahwa makna teks akan diungkapkan kepada kita melalui mimpi atau penglihatan. Di sisi lain, kita dianjurkan untuk berdoa memohon pemahaman dari Allah yang telah mengilhami tulisan-tulisan ini. Allah kemudian akan mengirimkan Roh-Nya untuk membimbing kita dalam mempelajari teks tersebut sementara kita dengan tekun dan tulus mencari maknanya. Sering kali, respons Ilahi atas permintaan kita akan pemahaman mungkin datang secara tak terduga dengan cara yang tidak kita antisipasi atau bahkan inginkan (lihat respons Nabi Yeremia kepada nabi palsu Hanania, dalam Yeremia 28).
Cara penting lainnya untuk bekerja sama dengan Roh Allah dalam pencarian kita untuk memahami teks Kitab Suci adalah dengan berkonsultasi dengan saudara-saudari seiman kita. Membaca "bersama" ini juga akan menguji kerendahan hati kita; pertukaran ide satu dengan yang lainnya akan memungkinkan Roh Allah untuk berembus "ke mana la mau" (Yoh. 3: 8), dengan demikian memupuk dan memperluas perspektif kita.
Teks Kitab Suci yang Melibatkan. Saat Anda membaca dan mempelajari teks Kitab Suci, terapkanlah dalam kehidupan Anda saat ini. Bacalah teks Kitab Suci seolah-olah teks itu berbicara langsung kepada Anda secara pribadi (dan memang demikian).
Selain itu, renungkan bagaimana Firman Tuhan dapat menerangi berbagai iadlam lid, penada, dah raka erja. Berko mitmedan hubungan Anda dengan tah-perintah Tuhan (Mzm. 119: 106). Berdoalah agar Tuhan menolong Anda menerima dan memahami ajaran-ajaran-Nya (Mzm. 119: 108). Teruslah setia pada hukum-hukum Tuhan (Mzm. 119: 109, 110). Nikmati perintah-perintah Tuhan saat Anda menaatinya. Jangan hanya melakukan perintah-perintah itu; pastikan ketaatan Anda mengalir dari hati Anda (Mzm. 119: 111). Hubungkan seluruh hidup Anda dengan kekekalan saat Anda mempraktikkan dan menaati setiap perintah (Mzm. 119: 112).
Teks sebagai Moral. Firman Tuhan yang terilham mengandung potensi "bahan peledak". Artinya, Kitab Suci mengandung ajaran yang dapat memicu atau memicu perlawanan atau respons negatit tertentu dalam hatı manusia, karena Kitab Suci menyerukan pengorbanan berhala-berhala kita atau kesalahan yang telah lama kita simpan. Oleh karena itu, kita harus menangani kebenaran ini dengan hati-hati, bijaksana, dan penuh kasih dalam berinteraksi dengan orang lain.
Sayangnya, Firman Kitab Suci sering kali digunakan orang untuk menindas can menuk da alie-nyakükak. manybuş dan men anakat. kukan atay alaha Klat Suci, dan itu tragis. Nubuat juga menunjukkan lebih banyak lagi yang akan datang (lihat Why. 13, 14). Jadi, gantinya menjadi firman penghiburan dan kabar baik keselamatan, Kitab Suci justru digunakan sebagai dalih untuk menghakimi, menjatuhkan, dan menyakiti orang.
Oleh karena itu, kerendahan hati dan hati yang mau diajar sangat diperlukan ketika kita membaca Kitab Suci, agar kita tidak mengubah firman Ilahi kehidupan menjadi firman kematian. Kesadaran etis juga harus hadir, seperti ketika kita membaca bait NUN dari Mazmur 119. Firman Allah yang terang (Mzm. ||9: 105) hendaknya mengendalikan dan membentuk perkataan serta tindakan kita terhadap sesama. Kata "benar" (tsedeq) adalah istilah teknis yang mengandung gagasan perilaku etis. Dengan demikian, Mazmur 119, secara keseluruhan, dapat didengar sebagai seruan untuk kepekaan dan tanggung jawab moral, tidak hanya dalam kehidupan tetapi juga dalam pembacaan Kitab Suci kita.
Kiat Guru: Kegiatan-kegiatan berikut dirancang untuk membangun keterampilan belajar Kitab Suci anggota kelas Anda dan meningkatkan sukacita mereka dalam membaca Kitab Suci. Kegiatan 3-5 dapat dilakukan di luar kelas. Tugaskan satu atau lebih kegiatan ini kepada anggota kelas untuk pekan berikutnya dan mintalah mereka untuk datang dan mempersiapkan diri untuk membahas hasil temuan mereka pada Sabat berıkutnya.
Aktivitas 1 (di Kelas): Pilih Satu Bait dari Mazmur 119:
1. Terapkan enam prinsip "cara mempelajari Kitab Suci" pada bait pilihan
Anda di Mazmur 119 (kecuali untuk bait NUN, Mazmur 119: 105-112, yang baru saja kita bahas).
2. Bagilah kelas Anda menjadi kelompok-kelompok kecil. Ajaklah setiap kelompok untuk berfokus pada satu bait pilihan mereka, dengan menerapkan enam prinsip pembelajaran.
3. Setelah 10 menit, mintalah setiap kelompok untuk berbagi dan mendiskusikan temuan mereka masing-masing.
Aktivitas 2 (di Kelas): Tantangan Mempelajari Kitab Suci:
1. Diskusikan dengan kelas tentang pentingnya, keterkaitan, dan kesulitan mempelajari Kitab Suci.
2. Mengapa kita perlu mempelajari Kitab Suci? Apakah mempelajari Kitab
Suci benar-benar perlu? Jelaskan.
3. Bahas argumen-argumen yang bertentangan dalam mempelajari Kitab suci.
4. Temukan ayat-ayat Kitab Suci yang mendorong pembelajaran Kitab Suci
itu sendiri.
5. Temukan juga materi dan panduan untuk mempelajari Kitab Suci dalam
Perjanjian Lama (lihat ayat-ayat hikmat) dan Perjanjian Baru (lihat
metode Yesus).
Aktivitas 3: Adaptasi:
1. Tanyakan kepada anggota kelas Anda bagaimana mereka akan menyesuaikan prinsip-prinsip penelaahan Kitab Suci dalam pelajaran ini untuk
peserta selain kelas Sekolah Sabat mereka.
2. Bagaimana Anda akan menyajikan penelaahan Kitab Suci kepada kaum
intelektual (akademisi), orang-orang ateis-sekuler, Muslim, Yahudi, orang miskin, dan orang kaya?
Aktivitas 4: Cerita:
1. Dorong anggota kelas Anda untuk menemukan cerita-cerita di luar Kitab Suci yang membantu memperjelas pelajaran dan ajaran dari teks yang Anda pilih untuk dipelajari (misalnya: biografi, kisah lucu, pengalaman pribadi, dll.).
Aktivitas 5 (Khusus untuk Guru): Alat Bantu Teknis:
1. Temukan alat bantu tambahan dan media penuntun belajar Kitab Suci.
2. Berikan kelas Anda daftar referensi-referensi untuk belajar Kitab Suci, seperti buku-buku teks dan video.
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat