Triwulan 1 Pelajaran 12, 2026. 


Download Powerpoint




Minggu, 15 Maret 2026.

Suami dan Istri


Beberapa petunjuk bagi rumah tangga Kristen terdapat dalam Perjanjian Baru (lihat Ef. 5: 21-6: 9; Kol. 3: 18-4: 1; Titus 2: 1-10; 1 Ptr. 2: 18-3: 7). Menariknya, "aturan rumah tangga" ini, sebagaimana disebut, tidak sepenuhnya bersifat hierarkis, tetapi mencakup unsur-unsur yang membuat hubungan timbal balik dan saling membangun.

Bacalah Kolose 3: 18, 19. Keseimbangan apakah yang Anda lihat? Nasihat tambahan apakah yang diberikan Paulus dalam Efesus 5: 22-25, 33?

Beberapa orang mengutip ayat, “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan (Kol. 3: 18), lalu berhenti di situ, namun perhatikan penegasan penting yang Paulus tambahkan: "sebagaimana sepaharusnya di dalam Tuhan." Perjanjian Baru tidak pernah mengajarkan bahwa perempuan harus tunduk kepada semua laki-laki, atau bahwa istri harus menjadi bawahan atau ditindas, ataupun bahwa mereka harus secara buta mengikuti setiap keinginan atau kehendak suami mereka. Maksud Paulus adalah bahwa kesetiaan istri pertama-tama adalah kepada Tuhan, dan kedua kepada suaminya. Kepribadian istri tidak boleh hilang oleh karena suaminya, dan suami tidak dapat bertindak seolah-olah ia mewakili hati istrinya.

Kasih Kristus kepada gereja dengan menyerahkan diri-Nya bagi gereja menggambarkan bagaimana suami harus mengasihi istrinya (Ef. 5: 25). Mereka harus tetap setia, apa pun risikonya. Mereka akan membuat keputusan yang terbaik bagi kesejahteraan istri, meskipun normalnya kepentingan mereka harus selaras. Kasih seperti ini membuat istri lebih mudah menuruti perintah Allah untuk menghormati suaminya (Ef. 5: 33).

Pernikahan Kristen yang sehat ditandai dengan sikap saling pengertian-saling berdiskusi, mempertimbangkan segala sesuatu bersama, dan mengambil keputusan sebagai pasangan. Terkadang, dalam pengambilan keputusan yang berdampak besar bagi seluruh keluarga, melibatkan anak-anak dalam diskusi bisa menjadi hal yang tepat, tetapi orang tua jangan pernah bertengkar di depan mereka. Setelah proses tersebut, jika suami dan istri tidak dapat mencapai kesepakatan, jalan damai yang diajarkan Alkitab adalah agar istri setuju dengan keputusan suaminya, asalkan keputusan itu tidak bertentangan dengan Firman Tuhan. Sebaliknya, sebagian besar, jika tidak semua, suami pasti pernah mengalami saat-saat di mana mereka bersyukur telah mendengarkan istri mereka dan mengikuti nasihatnya. Semakin suami dan istri bekerja sama sebagai satu tim, semakin bahagia pernikahan mereka.

Bagaimanakah kita dapat menghindari melakukan apa yang, sayangnya telah dilakukan sepanjang sejarah: mengambil prinsip-prinsip indah yang dinyatakan dalam ayat-ayat ini dan mengubahnya menjadi sesuatu yang jahat?



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp