Triwulan 2 Pelajaran 7, 2026.
Ayat Inti: Mazmur 62: 8.
Fokus Pelajaran: 1 Raj. 18, 1 Sam. 1: 10-17, Mat. 6: 5-15, Dan. 9:3-19.
Doa adalah kebutuhan universal manusia. Namun, seruan kita kepada Tuhan sering kali terasa hampa, tak terjawab. Kitab Mazmur adalah kumpulan doa yang dahsyat, yang didasarkan pada harapan dan kerinduan manusia akan jawaban Ilahi. Doa dalam Mazmur 62, misalnya, dimulai dengan keheningan manusia, yang menantikan jawaban Tuhan (Mzm. 62; 1, 5), kemudian dilanjutkan dengan seruan kepada semua orang untuk tetap percaya kepada Tuhan dan berdoa "setiap waktu" (Mzm. 62: 8). Akhirnya, mazmur ini diakhiri dengan jaminan bahwa Tuhan akan menjawab (Mzm. 62: 11).
Pekan lalu, kita mempelajari teologi doa dan merenungkan makna rohaninya. Pekan ini, kita akan merenungkan pengalaman doa yang sebenarnya, seperti yang dipraktikkan dalam kehidupan berbagai tokoh Kitab Suci yang seruannya kepada Tuhan didengar dan dijawab.
Pendahuluan. Tiga tokoh Kitab Suci telah dipilih untuk menginspirasi kita engan penderiaan daa berakhir dengan sukacita (1 Sam, 21- ıl. Tokoh kedai adalah Elia, yang doanya yang dramatis, penuh pernyataan dan keheningan, merupakan kesaksian yang kuat bagi mereka yang menyaksikan pertikaian antara Allah dan Baal di Gunung Karmel (1 Raj. 18-19: 18). Tokoh ketiga adalah Daniel, yang memohon kepada Tuhan dengan doa permohonan dan pengharapan (Dan. 9: 3-19).
Doa Kepahitan dan Sukacita: Hana (1 Sam. 1: 6-2: 11). Kisah Hana dimulai dengan kisah seorang pria saleh (1 Sam. 1: 3) yang memiliki silsilah yang mengesankan (1 Sam. 1: 1). Teks tersebut juga merujuk pada dua putra imam Eli, yang hadir di Kemah Suci di Silo (1 Sam. 1: 3). Eli sendiri duduk di kursi di pintu masuk Kemah Suci (1 Sam. 1: 9). Namun, pahlawan yang tak terduga dalam kisah ini adalah Hana, yang mandul dan tidak dapat memiliki anak (1 Sam. 1: 6). Teks Kitab Suci menyatakan bahwa ia berdoa dua kali (1 Sam. 1: 10, 11; 1 Sam. 2: 1-10). Pertama kali, ia memanjatkan doa yang meluap dari "hati sedih" (1 Sam. 1: 10). Dalam penderitaannya, ia memohon jawaban dari Tuhan. Saat berdoa untuk kedua kalinya, doa Hana merupakan curahan sukacita atas jawaban penuh kasih karunia Allah. Ayat-ayat Kitab Suci sarat dengan tema doa: kata "doa" dan istilah-istilah lain yang berkaitan dengan doa, seperti "permohonan" dan "meminta", muncul tujuh kali dalam bagian ini (1 Sam. 1: 10, 12, 17, 20, 26, 27; 2 Sam. 2: 1).
Doa yang Pahit. Doa pertama Hana berawal dari keputusasaan. la sengsara, tidak mau makan, dan menangıs dalam kesedihan yang mendalam. Keinginan Hana untuk memiliki anak tidak terkabul, karena Tuhan telah menutup kandungannya. Kemandulannya membuatnya menjadi bahan ejekan di rumah tangganya; setiap tahun ia pergi ke rumah Tuhan, Hana dihasut oleh saingannya (1 Sam. 1:7). Lebih parah lagi, imam Eli meremehkan doanya. la mengira Hana mabuk karena hanya bibirnya yang bergerak ketika berdoa, tetapi suaranya tidak terdengar (1 Sam. 1: 13). Namun, kepahitan Hana tiba-tiba berubah menjadi harapan. Hasilnya, ia kembali makan dan tidak lagi bersedih (1 Sam. 1: 18).
Kisah tentang pembuahan Hana yang ajaib dan kelahiran Samuel selanjutnya Sieriakand, dan atey: TUHAN ingka, knangdadusaaarama TSamitu 19, 20, TB; bandingkan dengan Kej. 21: 1, Kej. 30: 22).
Doa Sukacita. Kisah Hana berpuncak pada sebuah doa yang baru dan penuh sukacita. Kali ini, Hana tidak lagi sengsara dan sendirian. la kini beribadah di rumah Tuhan bersama suami dan anaknya, yang ia persembahkan kepada imam Eli sebagai penggenapan doanya sebelumnya (1 Sam. 1: 26, 27). Doa sukacita Hana yang kedua berbeda dengan doa dukacitanya yang pertama. Jika dalam doa sebelumnya ia sengsara dan meratap, dalam doa barunya Hana bersukacita dan memuliakan Tuhan. Doa ini, yang bersifat nubuatan sekaligus mesianis, menggemakan doa Maria untuk memberitakan Injil (Luk. 1: 46-55).
Doa Pewartaan dan Keheningan: Elia (1 Raj. 18-19: 18). Israel telah melewati lebih dari tiga tahun tanpa hujan. Nabi Elia kemudian menantang Raja Ahab dalam sebuah kontes (1 Raj. 18: 19). Konfrontasi antara Elia dan para nabi Baal terjadi di Gunung Karmel. Elia mengusulkan agar para imam Baal memanggil dewa mereka untuk membakar korban di atas mazbah yang telah mereka bangun untuknya. Demikian pula, Elia akan meminta Tuhan untuk melakukan hal yang sama terhadap kurban di atas mazbah yang ia bangun (1 Raj. 18: 24).
Doa Para Nabi Baal Tidak Terjawab. Para nabi Baal berdoa. Mereka memanggil dewa mereka beberapa kali—"Ya Baal, jawablah!"-tetapi tidak ada jawaban. Mereka melompat ke atas mazbah, berseru dengan keras, dan melukai diri mereka sendiri dengan sia-sia. Mereka tidak menerima jawaban (1 Raj. 18: 26, 29).
Doa Elia Didengar. Kemudian Elia menuangkan air ke atas dan di sekeliling kurbannya kepada Allah dan berdoa (1 Raj. 18: 33-35). Sebagai jawaban, api turun dari langit dan membakar kurban itu, meskipun kurban itu telah jenuh dengan air. Elia tidak mendengar suara apa pun sebagai jawaban atas doanya. Pencurahan api adalah satu-satunya tanda bahwa Allah telah mendengar doanya.
Elia mengundang raja untuk bangun, makan, dan minum karena hujan akan segera turun (! Raj. 18: 41). Elia mengutus hambanya tujuh kali untuk memeriksa status hujan yang akan turun. Ketika hujan akhirnya turun, hujan itu begitu deras sehingga Elia harus menemani raja agar hujan tidak menghalanginya. Sekali lagi, Elia tidak mendengar suara Allah yang nyata dalam pewahyuan kehendak-Nya; hujan adalah bukti yang memberitahunya bahwa Allah telah mendengar doanya.
Terlepas dari mukjizat api dari surga, serta demonstrasi kehadiran Allah, Izebel, yang kepada Ahab melaporkan mukjizat Allah di Gunung Karmel, masih menolak untuk mengakui kedaulatan-Nya. la mengejar Elia yang untuk pertama kalinya takut akan nyawanya. Elia berdoa kepada Allah dan mengeluh dengan getir bahwa semua orang telah meninggalkan Tuhan kecuali dia (1 Raj. 19: 10; bandingkan dengan 1 Raj. 18: 22). Elia semakin diliputi rasa takut dan cemas, karena ta takut nyawanya terancam ketika Izebel mengancamnya untuk membunuh dia (1 Raj. 19: 3).
Suara Sunyi. Elia melarikan diri dari Izebel dan bersembunyi di sebuah gua. Pada titik inilah suara Tuhan terdengar untuk pertama kalinya dalam narasi. Namun, suara Ilahi itu dipenuhi dengan nada ironis: "Apa kerjamu di sini, hai Elia?" (1 Raj. 19: 9). Untuk membenarkan keputusasaannya, Elia mengklaim bahwa hanya dialah yang tersisa di antara orang-orang Israel yang setia untuk membela Tuhan (1 Raj. 19: 10). Tuhan tidak menanggapi klaim ini. Ketika Tuhan akhirnya menanggapi Elia, suara-Nya tidak terdengar dalam angin kencang dan dahsyat; juga tidak terdengar dalam gempa bumi atau api (1 Raj. 19: 11, 12). Tanpa diduga, Elia hanya mendengar bunyi angin sepoi-sepoi basa" (1 Raj. 19: 12). Frasa Ibrani qol demamah daqah secara harfiah berarti: "suara keheningan yang halus". Baru pada saat itulah Elia menyadari bahwa ia berada di hadirat Tuhan (1 Raj. 19: 13). Suara api dan hujan yang sensasional merupakan mukjizat yang menunjukkan kuasa Tuhan. Namun, bahkan lebih dari fenomena merdu ini, suara keheningan Tuhan terdengar sebagai manifestasi paling nyata dari kehadiran-Nya dan sebagai pernyataan wahyu Ilahi yang menggema.
Doa Permohonan dan Harapan yang Sungguh-Sungguh (Dan. 9: 3-19). Doa Daniel bukan sekadar latihan sastra atau risalah teologis; doa itu adalah ungkapan hubungan yang dekat dengan Tuhan, yang jauh sekaligus dekat. Kedekatan Tuhan tersirat dalam seruan Daniel kepada Tuhan sebagai Tuhan pribadinya. Gelar 'adonai, "Tuhanku", yang mengungkapkan kedekatan Tuhan, adalah gelar llahi yang paling sering digunakan dalam doa tersebut (Dan. 9: 4, 7, 9, 15-17, 19 [3x]). Jarak Tuhan dilambangkan melalui nama-Nya yang lain, ha'elohim, "Allah". Namun, seperti yang ditunjukkan, Daniel, yang menyebut Tuhan sebagai "Allah yang maha besar dan dahsyat" (Dan. 9: 4), mengidentifikasi Dia juga sebagai Tuhan pribadinya, atau "Allahku". Kontras antara Allah yang setia (Dan. 9: 4) dan umat yang berdosa dan tidak setia (Dan. 9: 5, 6) mempertegas jarak di antara mereka, melalui beratnya dosa umat dan kebutuhan mereka untuk mendekat kepada Tuhan.
Doa diakhiri dengan permohonan terakhir: 'adonai, "Ya Tuhan" , yang diu- lang tiga kali. Setiap pengulangan diikuti oleh kata kerja untuk menarik perhatian Allah:
"Ya Tuhan, dengarlah!
Ya Tuhan, ampunilah!
Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah!" (Dan. 9: 19).
Doa Daniel berkaitan dengan keselamatan umat Allah. Daniel, dengan intensitas yang teguh, merindukan respons Ilahi: "Bertindaklah! dengan tidak ber-tangguh!" Doa yang sungguh-sungguh ini, yang dijawab oleh nubuat 70 minggu (Dan. 9: 24-27), mengarah pada kedatangan Kristus yang pertama. Kerinduan yang sama bergema dalam pertanyaan malaikat, "Sampai berapa lama?" (Dan. 8: 13). Pertanyaan ini akan terjawab dalam penglihatan tentang 2,300 petang-pagi, yang mengarah pada hari penghakiman eskatologis sebelum kedatangan Yesus yang kedua (Dan. 8: 14).
Kiat Guru: Untuk bagian terapan ini, kelas akan berfokus pada model doa yang Yesus ajarkan dalam Matius 6: 9-13. Mintalah seorang sukarelawan untuk membacakan bagian ini. Ajaklah anggota kelas Anda untuk mengambil nasihat atau asas praktıs dari doa Juruselamat untuk kehidupan sehari-hari, sebagaimana diuraikan di bawah ini. Mintalah siswa untuk siap berbagi pada Sabat berikutnya bagaimana menerapkan asas-asas ini telah memperkaya kehidupan doa mereka.
Prinsip 1: Bapa kami di surga: Ketika Anda berdoa, sadarilah bahwa Allah adalah Bapa Anda yang dekat, namun Dia ada di surga.
Prinsip 2: Datanglah Kerajaan-Mu: Ketika Anda berdoa, bayangkanlah kerajaan Allah di masa depan sebagai tempat yang damai, adil, dan penuh kasih. Terapkan harapan ini dalam hubungan Anda dengan orang lain ketika Anda makan, minum, bekerja, dan bermain.
Prinsip 3: Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga: Terapkan prinsip doa ini dalam setiap keputusan hidup Anda. Serahkan semua yang Anda inginkan pada altar Tuhan. Bawalah sikap penyerahan diri yang sempurna, yang merupakan gambaran awal dari surga, ke dalam hubungan Anda dengan orang lain, dengan rendah hati tunduk pada kebutuhan mereka dan menjunjung tinggi orang lain lebih tinggi daripada diri Anda sendiri.
Prinsip 4: Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya: Libatkan diri dalam kegiatan bantuan untuk memberkati dan memberi manfaat bagi sesama. Saat makan, makanlah secukupnya, bersyukurlah kepada Tuhan atas apa yang telah Dia sediakan, dan janganlah berlebihan.
Prinsip 5: Ampunilah kami atas kesalahan kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami: Mohonlah kepada Tuhan untuk mengampuni seseorang yang telah menyakiti Anda, dan kemudian mohonlah kepada Tuhan untuk memberikan Anda rahmat untuk mengampuninya. Kunjungilah orang tersebut dan undanglah dia untuk makan siang. (Anda tidak perlu memberi tahu orang ini bahwa Anda telah memaafkannya, kecuali Roh Kudus memberikan kesempatan dan dengan jelas menggerakkan Anda untuk melakukannya. Intinya adalah bersikap penuh kasih dan baik hati, serta berinteraksi tanpa kepahitan di hati Anda.)
Prinsip 6: Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan: Mohonlah agar Tuhan menguatkan Anda untuk melawan pencobaan. Pada saat yang sama, mohonlah agar Tuhan memberikan kekuatan kepada Anda untuk menutup pintu pencobaan. Hindari mencicipi, menyentuh, atau menonton materi apa pun yang akan memisahkan Anda dari Tuhan.
Prinsip 7: Lepaskanlah kami dari pada yang jahat: Berdoalah kepada Tuhan agar Anda dibebaskan dari kelemahan atau kecenderungan tertentu terhadap kejahatan yang mungkin Anda miliki. Mohonlah kemenangan kepada-Nya.
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat