Triwulan 2 Pelajaran 12, 2026. 


Download Powerpoint



PENUNTUN GURU


Bagian I: Tinjauan Umum

Ayat Inti: Yesaya 50: 4.

Fokus Pelajaran: Mat. 28: 16-20; 1 Ptr. 3: 8-15, 21, 22.

Pekan lalu kita tutup dengan penglihatan Ayub tentang Sang Penebus, yang "akhirnya la akan bangkit di atas debu" (Ay. 19: 25). Pekan ini, kita akan belajar bagaimana membagikan penglihatan yang luar biasa ini kepada orang-orang di bumi. Untuk tujuan tersebut, kita akan berfokus pada dua bagian Kitab Suci yang penting.

Bagian pertama adalah Matius 28: 16-20, di mana Yesus menugaskan murid-murid-Nya—dan kita— dengan Amanat Agung. Bagian ini, yang menyampaikan kata-kata terakhir Yesus, menandai puncak dari seluruh Injil. Ini adalah ayat penting yang menghadapkan kita dengan tanggung jawab kita untuk membagikan harapan Yesus Kristus kepada semua bangsa. Misi ini, yang didasarkan pada otoritas Ilahi Yesus, memiliki cakupan universal dan memastikan kehadiran Allah di pihak kita sampai akhir zaman (Mat. 28: 20).

Bagian kedua adalah / Petrus 3: 8-18, 21, 22. Di sini, rasul mendorong kita untuk mengupayakan pembentukan karakter pribadi kita. la juga menasihati kita untuk bekerja dalam komunitas kita dan belajar untuk saling mengasihi, dengan demikian mempersiapkan diri kita secara rohani untuk membagikan kabar baik Injil kepada dunia. Pekerjaan ini bertujuan untuk memupuk persatuan di gereja, serta mendorong ketangguhan para jemaatnya di masa penganiayaan. Pekerjaan ini juga menghadapkan kita dengan tanggung jawab kita kepada Yesus Kristus, yang mati untuk kita dan menyelamatkan kita melalui kebangkitan-Nya dan perantaraan-Nya di tempat kudus surgawi (Ibr. 7: 25).

Bagian II: Komentar

Amanat Agung (Mat. 28: 16-18). Kebangkitan Yesus (Mat. 28: 1-7) merupakan latar belakang langsung Amanat Agung. Dalam konteks ini, tiga peristiwa disampaikan. Peristiwa pertama adalah penyembahan kepada Yesus oleh para perempuan (Mat. 28: 9) dan kemudian oleh ke-1l murid (Mat. 28: 16, 17). Peristiwa kedua adalah ketika para prajurit Romawi yang menjaga makam Kristus mengunjungi para imam kepala (Mat. 28: 11-15). Peristiwa ketiga adalah kehadiran Yesus di sepanjang dua peristiwa sebelumnya. Ketiga peristiwa ini mempersiapkan dan membenarkan Amanat Agung. Penyembahan Yesus mengantisipasi pernyataan-Nya tentang otoritas Ilahi-Nya "di surga dan di bumi" (Mat. 28: 18). Laporan yang menyesatkan kepada imam kepala oleh para penjaga makam mempersiapkan pergeseran dari perjanjian eksklusif, dengan Israel sebagai satu-satunya penerima, menjadi perjanjian universal dengan "semua bangsa" (Mat. 28: 19) di bumi. Kehadiran Yesus yang nyata, bersama para perempuan dan para murid, mempersiapkan gereja-Nya untuk penggenapan janji-Nya untuk menyertai mereka "sampai kepada akhir zaman" (Mat. 28: 20).

Otoritas Yesus. Begitu kesebelas murid melihat Kristus yang telah bangkit, mereka menyembah-Nya. Mereka memahami bahwa Dia telah menang atas maut (lihat Why: 1: 18) dan bahwa Dia adalah Allah. Bahkan, frasa "mendekati mereka dan berkata" (Mat. 28: 18), yang mengawali perkataan Yesus, merupakan replika dari frasa kunci yang lazim mengawali firman Allah dalam kitab Keluaran (Kel. 6: 10; bandingkan dengan Kel. 6: 29, Kel. 7: 8, dst.). Perkataan Yesus meneguhkan pemahaman para murid tentang identitas-Nya dan otoritas Ilahi-Nya "di surga dan di bumi" (Mat. 28: 18). Wilayah, atau jangkauan, otoritas-Nya meliputi seluruh ciptaan, yang menganugerahkan-Nya kedaulatan universal Sang Pencipta (Kej. I: 1). Kata "segala" diulang tiga kali (Mat. 28: 1%, 19, 20), sama seperti di akhir kisah Penciptaan (Kej. 2: 1-3). Kata "segala" yang mengacu pada otoritas-Nya, muncul dua kali dalam amanat-Nya (Mat. 28: 19, 20). Justru karena "segala" otoritas Ilahi-Nya itulah Yesus berhak menugaskan murid-murid-Nya untuk menjangkau "segala" bangsa dan mengajarkan "segala" yang telah la perintahkan.

Perjanjian Universal. Sehubungan dengan pembahasan ini, penting juga untuk diingat bahwa kita sedang membawa murid-murid kepada Yesus, bukan kepada diri kita sendiri. Artinya, kita, sebagai pendeta, pengajar, penginjil, atau bahkan sebagai jemaat tertentu, tidak boleh mengumpulkan pengikut atau pertemanan pribadi kita sendiri. Sebaliknya, kita harus membaptis murid-murid bagi Kristus, yang berada di atas segala bangsa dan akan datang untuk mengumpulkan milik-Nya di masa depan.

Baptisan menandakan peralihan ke kehidupan baru. Ritual baptisan mengingatkan kita akan tindakan Penciptaan Ilahi dari kekacauan air purba, dengan demikian menunjuk kepada karya generatif Tuhan dalam pasal-pasal awal Kitab Kejadian. Pada saat yang sama, baptisan adalah ritual yang menunjuk kepada penciptaan langit baru dan bumi baru di masa depan setelah kedatangan Anak Manusia. Baptisan bukan hanya tanda kehadiran Allah dan simbol kelahiran kembali rohani; baptisan juga merupakan tanda eskatologis bahwa kehadiran Yesus dijamin, "senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat. 28: 20). Sebelum datang sebagai Anak Manusia di awan-awan di langit, Yesus adalah Imanuel, "Allah beserta kita". Dengan demikian, Amanat Agung diakhiri dengan harapan akan kehadiran Yesus di sini dan saat ini (bandingkan dengan Mat. 1: 23).

Persiapan untuk Membagikan Kabar Baik (1 Ptr. 3: 8-15, 21, 22). Petrus mengawali / Petrus 3: 8-15, 21, 22 dengan kata "akhirnya" (telos), yang menunjukkan kesimpulan dari bagian sebelumnya yang membahas kesaksian gereja kepada dunia (1 Ptr. 2: 11-3: 7). Oleh karena itu, bagian dalam 1 Petrus 3: 8-15, 21, 22 khususnya relevan dengan misi gereja. Namun, sementara teks Amanat Agung membahas mengapa kita harus menjangkau bangsa-bangsa, surat Petrus berfokus pada bagaimana mempersiapkan diri kita untuk misi tersebut. Pertama, ia membahas masalah hubungan dalam komunitas orang percaya (1 Ptr. 3: 8, 9).

Selanjutnya, ia membahas tantangan hubungan dengan orang-orang yang tidak percaya, yang tidak memiliki tujuan dan nilai-nilai rohani yang sama dengan kita dalam hidup (1 Ptr. 3: 13-17). Untuk menyemangati saudara-saudarinya agar menanggung penderitaan dalam berbuat baik, Petrus merujuk pada teladan Yesus (1 Ptr. 3: 18).

Seruan untuk Persatuan dan Kasih. Petrus memulai dengan aspek yang paling penting, dan mungkin yang paling menantang, dari persiapan kita untuk membagikan Injil. la mengundang "kamu semua" (1 Ptr. 3: 8)—yaitu, semua anggota jemaat—untuk memperbaiki hubungan kita satu sama lain. Untuk itu, Petrus menekankan perlunya persatuan dan kasih. Petrus memikirkan perselisihan yang memecah belah kelompok-kelompok di dalam jemaat. Bagi Petrus, solusi untuk masalah ini adalah kasih persaudaraan, yang tidak ia definisikan sebagai sekadar emosi sentimental. Lima kata sifat digunakan dalam uraiannya tentang apa artinya bersatu dalam roh kasih:

Pertama, kita harus "seia sekata pikiran" (1 Ptr. 3: 8), sebuah istilah yang merujuk pada perlunya keharmonisan satu sama lain.

Kedua, orang percaya juga harus bersimpati satu sama lain. Artinya, kita harus peka terhadap kebutuhan dan perhatian satu sama lain.

Ketiga, frasa "mengasihi saudara-saudara" (1 Ptr. 3: 8) menyiratkan kebaikan yang ada di antara saudara kandung dalam keluarga yang sama. Berdasarkan hubungan kita yang sama dengan Kristus, kita adalah bagian dari keluarga Allah. Karena itu, kita diperintahkan untuk saling mengasihi.

Keempat, anggota gereja harus "penyayang"; artinya, mereka harus berbelas kasih dan bersedia saling mengampuni, sebagaimana Kristus telah mengampuni mereka.

Terakhir, mereka harus "rendah hati", kriteria kelima dan terakhir dalam daftar Petrus. Kerendahan hati terdiri dari rasa hormat. Rasa hormat melibatkan kesediaan untuk menghargai saudaranya lebih tinggi daripada dirinya sendiri.

Baris-baris berikutnya menguraikan penerapan praktis dari sifat-sifat ini. Secara konkret, kasih yang ideal ini berarti bahwa kita tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan kepada saudara atau saudari yang menyakiti kita (1 Ptr. 3: 9). Sebaliknya, kita harus memberkati mereka sebagai balasannya, sebagaimana Yesus mendorong kita untuk lakukan (Luk. 6: 29). Untuk mendukung argumennya, Petrus mengutip dari Mazmur 34, yang berfokus pada potensi bahaya lidah ketika kita bergosip atau menghina (Mzm. 34: 13). Petrus membandingkan potensi bahaya ini dengan berkat yang menyertai mereka yang mencari kedamaian (1 Ptr. 3: 11, 12). Shalom, atau kedamaian, yang mempersatukan anggota gereja akan mendatangkan berkat dari Allah, sehingga dunia dapat mengetahui bahwa Dia mengutus Yesus dan telah mengasihi kita sebagaimana Dia telah mengasihi Anak (Yoh. 17: 22, 23).

Menderita Penganiayaan. Melanjutkan alur pemikiran yang sama, Petrus mempertimbangkan kasus orang yang menderita penganiayaan karena imannya di tangan orang fasik yang tidak percaya (1 Ptr. 3: 13, 14). Bahkan dalam hal ini, Petrus berpendapat, jika Anda tidak bersalah dan menderita ketidakadilan, Anda tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan karena dua alasan. Pertama, karena penderitaan orang benar adalah berkat. Allah ada di pihak Anda. Kedua, karena penderitaan memberi Anda kesempatan besar untuk bersaksi dan membela iman Anda (1 Ptr. 3: 15). Petrus berargumen bahwa lebih baik menderita karena berbuat baik daripada menderita karena berbuat jahat (1 Ptr. 3: 17). Prinsip etika yang mendasari anjuran ini adalah bahwa lebih baik menderita sebagai korban daripada menyebabkan penderitaan sebagai penindas.

Untuk mendukung argumennya tentang kepositifan penderitaan, Petrus merujuk kepada Kristus, Yang Maha Adil, yang menderita bagi orang yang tidak benar dan, melalui penderitaan-Nya, membawa keselamatan bagi orang yang tidak benar (1 Ptr. 3: 18). Hasilnya, Kristus ditinggikan dan sekarang duduk di sebelah kanan Allah.

Bagian III: Penerapan dalam Kehidupan

Kiat Guru: Bagilah kelas menjadi kelompok-kelompok kecil dan tugaskan mereka untuk melakukan salah satu kegiatan berikut. Berikan mereka waktu, sebagai kelompok, untuk membahas kegiatan dan pertanyaan, lalu presentasikan wawasan mereka di depan kelas. Doronglah anggota kelas untuk menerapkan asas-asas kegiatan ini dalam perjalanan rohani mereka sepanjang pekan. (Harap dicatat bahwa beberapa kegiatan berikut lebih cocok untuk refleksi pribadi daripada untuk partisipasi kelompok dan ditandai demikian.)

Aktivitas 1: Perenungan tentang Ibadah (Baca Rat 3: 29).

1. (Untuk refleksi pribadi di luar kelas.) Ketika Anda berdoa, berlutut atau bersujud; sadarilah bahwa Anda adalah debu (Mzm. 103: 14). Dari debu ini, Allah akan membangkitkan Anda jika Anda meninggal sebelum Dia datang. Dengan pemikiran yang merendahkan hati dan menakjubkan ini, mohonlah kepada Allah untuk mengubah karakter Anda dan menjadikannya cerminan hidup dari diri-Nya sendiri.
2. (Untuk kelompok kecil atau kelas.) Ajukan pertanyaan berikut kepada diri Anda: Mengapa ibadah seharusnya memotivasi saya untuk menjangkau orang lain? Pikirkan kemungkinan jawaban, termasuk, misalnya: karena Allah yang Anda layani juga adalah Allah yang menciptakan mereka menurut gambar-Nya dan rindu untuk menyelamatkan mereka.

Aktivitas 2: "Pergilah!" (Mat. 28: 19).

1. Apa yang tersirat dari kata "Pergilah!" bagi Anda?
2. Bandingkan perintah Yesus "Pergilah" dengan perintah Allah kepada Abraham untuk "pergi". Buatlah daftar persamaan dan perbedaannya. Misalnya, Abraham pergi ke tempat yang tidak dikenalnya, sementara Anda pergi kepada orang-orang yang tidak Anda kenal, dan seterusnya.
3. Bagaimana daftar perbandingan Anda memperdalam apresiasi dan pemahaman Anda terhadap Amanat Agung?

Aktivitas 3: "Ajarlah Mereka Melakukan Segala Sesuatu yang Telah Kuperintahkan Kepadamu" (Mat. 28: 20).

1. Sebutkan "hal-hal" yang Yesus perintahkan untuk Anda lakukan.
Misalnya, mengasihi, menunjukkan kasih karunia, mengingat kebe-naran-Nya. "Hal-hal" apa lagi yang dapat Anda tambahkan ke dalam daftar ini?
2. Pikirkan cara-cara untuk mempraktikkan perintah-perintah ini pekan ini.

Aktivitas 4: "Aku Menyertai Kamu" (Mat. 28: 20). (Perlu Diketahui Bahwa Aktivitas Ini Dapat Dilakukan secara Berkelompok, atau Seseorang Dapat Dipilih untuk Menyanyikan Himne Ini secara Solo.)

1. Nyanyikan himne "No, Never Alone" (untuk lirik dan rekaman MIDI, kunjungi www.Hymnary.org).
2. Bagaimana perasaan Anda setelah mendengarkan himne ini?
3. Penghiburan dan harapan apa yang Anda dapatkan dari himne ini?

Aktivitas 5: Bacalah Mazmur 141: 3 dan Mazmur 19: 14. (Harap Dicatat Bahwa Aktivitas Ini Dapat Ditugaskan untuk Refleksi Pribadi di Luar Kelas.)

1. Di penghujung hari, tanyakan kepada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan ini: Bagaimana Tuhan membantu saya menjaga perkataan saya hari ini? Adakah kata-kata tertentu yang saya ucapkan yang perlu saya sesali?
2. Bertekadlah untuk memohon kepada Tuhan agar Anda dapat berbuat lebih baik dalam perkataan Anda dan dalam segala bentuk komunikasi dengan orang lain. Berdoalah: "Tuhan, jagalah lidahku. Berikanlah inspirasi dalam pikiranku. Dengan pertolongan Roh-Mu, kiranya kata-kata yang keluar dari hati dan pikiranku memuliakan-Mu. Amin"

Aktivitas 6: Bacalah 1 Petrus 3: 15 dan Jawablah Pertanyaan-Pertanyaan di Bawah Ini.

1. Mengapa Anda percaya kepada Tuhan?
2. Mengapa Anda seorang anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh?
3. Mengapa Anda tidak percaya pada keabadian jiwa?
4. Siapkan argumen untuk mempertahankan iman Anda di area-area yang pengetahuan Anda masih kurang. (Latihan terakhir ini juga dapat diberikan sebagai sebuah pekerjaan yang dapat diselesaikan di luar kelas.)



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp