Triwulan 2 Pelajaran 12, 2026.
Pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana Yesus terus termotivasi untuk bekerja, menyembuhkan, menghibur, berkhotbah, dan mengajar begitu banyak orang hari demi hari? Kita diberitahu bahwa "Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala" (Matius 9:36). Kasih dan belas kasihan Yesus kepada umat manusia mendorong pekerjaan-Nya. Demikian pula, kasih Allah di dalam kita seharusnya mendorong kita untuk merasa terbeban membawa jiwa kepada-Nya dan kepada kebenaran-Nya (2 Korintus 5:14).
Pernahkah Anda melihat wajah orang asing dalam keramaian dan memikirkan kekekalan bertanya-tanya apakah mereka mengenal Yesus? Pernahkah Anda merasakan sesuatu yang tak lain adalah kasih Allah dalam diri Anda terhadap orang asing yang membutuhkan? Kasih Allah dalam diri kita mendorong kita untuk merasa terbeban membawa jiwa kepada-Nya. Yeremia mengungkapkan ini ketika ia berkata, "Tetapi apabila aku berpikir: 'Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya,' maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup" (Yeremia 20:9).
Namun, ketika kita membagikan Allah kepada orang lain, kita tidak boleh memaksa seseorang untuk menerima Allah atau kebenaran Alkitab-Nya. Paksaan bertentangan dengan inti karakter Allah. Allah tidak memaksa Adam dan Hawa untuk menjauhi pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat (Kejadian 2:16-17). Ia tidak memaksa orang-orang masuk ke dalam bahtera untuk diselamatkan dari Air Bah (Kejadian 7:1). Ia tidak memaksa bangsa Israel untuk tetap dalam perjanjian dengan-Nya (Ulangan 4:29-31). Sebaliknya, Ia memenuhi kebutuhan mereka (Matius 4:23-25) dan kemudian mengundang mereka untuk mengikut Dia. Yesus tidak pernah memaksa siapa pun untuk mengikut Dia atau kebenaran-Nya, tetapi Ia tidak pernah menyerah atas kita (Matius 23: 37).
Saat kita bersaksi, pendekatan kita harus selalu mencerminkan pendekatan Yesus. Ellen G. White menulis, "Memaksa manusia supaya menerima Dia bukanlah merupakan sebagian dan tugas Kristus. Setan dan manusia yang digerakkan oleh rohnya itulah yang berusaha memaksa angan-angan hati ... Tidak ada bukti yang lebih pasti bahwa kita memiliki roh setan daripada adanya pembawaan untuk melukai atau membinasakan orang-orang yang tidak menghargai pekerjaan kita, atau yang bertindak melawan buah pikiran kita"-Kerinduan Segala Zaman (1999), jld. 2, hlm. 104-105.
Kita harus membiarkan diri kita menjadi saluran bagi pelayanan Allah. Kita hidup di dunia yang membenci kebenaran, namun kenyataan itu tidak seharusnya menghentikan kita dari membagikannya dengan cara yang penuh pertimbangan dan kasih. Ingat bahwa seringkali kesaksian pribadi kita adalah yang paling berpengaruh, terutama pada tahap awal bersaksi (Wahyu 12: 11).
Bacalah 2 Petrus 3: 18. Dalam hal apakah Anda bertumbuh dalam kasih karunia dan pengetahuan? Bagaimanakah ini terlihat dalam interaksi Anda dengan orang-orang di sekitar Anda?
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat