Triwulan 4 Pelajaran 3, 2026.
Ayat Inti: 2 Tawarikh 20:20.
Fokus Pelajaran: Yak. 5:17, 18; 1 Raj. 19:1-16; 1 Raj. 22:1-13; Kel. 15:20; 2 Raj. 22:11-14; Yer. 14:1-15.
Pendahuluan
Pekan lalu kita membahas tentang panggilan kenabian itu sendiri; pelajaran
pekan ini menggambarkan karakteristik karunia nubuat dalam Perjanjian Lama
sebagai konteks untuk memahami pelayanan kenabian Ellen G. White. Kitab-
kitab nubuat dalam Perjanjian Lama menempati bagian Alkitab yang kurang
lebih setara dengan seluruh Perjanjian Baru. Berbagai pekabaran mereka tepat
waktu dan signifikan bagi berbagai pendengar mereka. Ada banyak hal yang
dapat kita pelajari dari pengalaman para nabi Perjanjian Lama dalam pelayanan
mereka dan bagaimana pengalaman-pengalaman ini dapat membantu kita
memahami pelayanan kenabian Ellen G. White.
1. Meskipun para nabi mengalami karunia yang luar biasa, mereka tetaplah manusia.
Tradisi kenabian dalam Perjanjian Lama dimulai dengan Musa, sumber utama nubuat Alkitab. Musa bertindak sebagai juru bicara langsung Allah, menengahi perjanjian antara Yahweh dan Israel dan perantara bagi umat itu (Kel. 33:11, Ul. 34:10). Hubungannya yang unik dengan Allah, berbicara "ber- hadapan muka," menetapkan standar untuk otoritas kenabian. Setelah Musa, Samuel memformalkan jabatan kenabian, menjembatani era hakim-hakim dan raja-raja. Sebagai hakim dan nabi, Samuel melayani sebagai juru bicara Allah kepada raja-raja, terutama mengurapi Saul dan Daud (1 Sam. 9:15-17, 1 Sam. 16:1-13), menetapkan peran nabi sebagai suara penuntun dan korektif bagi para penguasa Israel.
Elia memperkenalkan peran penuntut perjanjian. Tidak seperti Musa, yang sering menjadi perantara bagi Israel, Elia secara langsung menghadapi bangsa itu dan para pemimpinnya, menuduh mereka tidak setia pada perjanjian. Tantangannya di Gunung Karmel, "Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia'" (1 Raj. 18:21), menggambarkan perannya sebagai penuntut. Elia meng- gabungkan pekabaran penghakiman dengan harapan, memanggil Israel untuk bertobat dan kembali kepada Yahweh. Dengan demikian, ia memperkenalkan era baru yang menjadi landasan bagi semua nabi setelahnya yang menyampai- kan pekabaran kenabian kepada raja-raja dan kepada rakyat (lihat Willem A. VanCiemeren, Interpreting the Prophetic Word (Grand Rapids, Ml: Zondervan, 1990], hlm. 28-38).
Meskipun memiliki otontas ilahi, kemanusiaan para nabi tetap terlihat. Musa meragukan kemampuannya berbicara (Kel. 4:10) , Samuel meratapi kegagalan Saul (1 Som. 15:35), dan Elia putus asa, bahkan berharap mati setelah ancaman Izchel (1 Raj. 19:4) . Pergumulan-pergumulan ini menunjukkan bahwa para nabı, meskipun memilıki panggilan Ilahi, tetaplah manusia yang rentan terhadap rasa takut, keraguan, dan gejolak emosi. Pemikiran ini mengingatkan kıta akan kasih karunia Allah dalam menggunakan orang-orang biasa untuk menyampaikan berbagai pekabaran yang luar biasa.
2. Para nabi Perjanjian Lama berfungsi menurut pola tertentu.
Ulangan 18:15-19 menguraikan peran seorang nabi, menckankan fungsi- nya sebagai atusan pilihan Allah. Seorang nabi sejati dipanggil langsung oleh Tuhan, bukan melalui ambisi pribadi. Panggilan lahi ini sangat penting, karena peran nabi adalah untuk menyampaikan firman Allah, bukan fırmannya sendiri. Banyak nabi, seperti Musa, Yesaya, Yeremia, dan Amos, pada awalnya menolak panggilan mercka, merasa ndak mampu atau takut ditolak. Namun, mereka ter- dorong untuk berbicara, sering menggambarkan firman Allah sebagai kekuatan yang tak dapat ditahan (Yer 20.9).
Seorang nabi sejati berasal dari dalam komunitas perjanjian, "dari antara saudara-saudaramu" (U/l. 18;/5), memastikan hubungan dengan umat Allah. Meskipun Allah dapat berbicara melalui siapa pun, seperti melalui keledai Bileam (Bil. 22:28-30), la biasanya membangkitkan nabi-nabi dari dalam komunitas-Nya yang setia. Para nabi bertindak sebagai pembawa pekabaran, menyampaikan perintab-perintah Allah tanpa menambahkan pendapat pribadi. Istilah pembawa pekaharan paling tepat menggambarkan peran ini, karena para nabi menyampaikan firman Allah yang berotoritas, dengan harapan firman itu akan ditaati (lihat Eric 1. Tully, Reading the Prophets as Christian Scripture: A Literary, Canonical, and Theological Introduction, hlm. 58-62).
Untuk Studi Lebih Lanjut: Baca Edward J. Young, My Servonts the Prophets (Grand Rapids, Ml: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1952), him. 20-37.
3. Percayalah kepada nabi-nabi yang benar dan bedakanlah mereka dari nabi-nabi palsu.
Perjanjian Lama memberikan kriteria yang jelas untuk membedakan nabi sejati dari nabi palsu. Pekabaran seorang nabi sejati harus digenapi (UI, 18:21, 22) dan selaras dengan perintah Allah, yang mendorong penyembahan eksklu- sif kepada Yahweh (UI. 13:1-5). Sekalipun suatu tanda atau mukjizat digenapi, seorang nabi adalah palsu jika ia menuntun orang kepada penyembahan berhala atau menjauh dari perjanjian Allah. Nabi sejati tidak pernah bertentangan dengan Firman Allah yang telah ditetapkan; kehidupan pribadi mereka mencerminkan kekudusan dan integritas. Sebaliknya, nabi palsu dıkutuk karena perilaku tidak bermoral (Yer. 23:14).
Nabi sejati sering menghadapi perlawanan dan penolakan, karena pekabaran mereka menentang dosa dan memperingatkan tentang penghakiman, tidak seperti nabi palsu yang menawarkan kata-kata menyenangkan tetapi menipu (Yer. 6:14). Otoritas seorang nabi sejati ditegaskan melalui nubuat yang terpe- nuhi, kesetiaan kepada hukum Allah, integritas moral, konsisten dengan wahyu sebelumnya, dan kesediaan untuk menyampaikan kebenaran yang sulit, bahkan ketika itu tidak populer.
4. Wanita memainkan peran penting dalam perwujudan karunia nubuat di Perjanjian Lama.
Hulda merupakan contoh peran penting yang dimainkan perempuan dalam nubuat Perjanjian Lama. Selama pemerintahan Raja Yosia, ketika "kitab hukum" ditemukan di Bait Suci, Yosia mencari bimbingan lahi. la berkonsultasi dengan Hulda, meskipun Yeremia sedang aktif pada waktu itu (2 Taw. 34:22). Pilihan ini menyoroti otoritas dan rasa hormat yang dimiliki Hulda sebagai nabi sejati Yahweh. Pekabarannya, yang disampaikan dalam dua nubuat, menyampaikan penghakiman dan harapan. la menegaskan bahwa kutukan dari Ulangan 28 akan menimpa Yehuda karena penyembahan berhala yang terus-menerus (2 Taw. 34:24, 25). Namun demikian, Hulda meyakinkan Yosia bahwa kerendahan hati dan pertobatannya akan meluputkannya dari menyaksikan bencana yang akan datang (2 Taw. 34:26-28).
Peran Hulda menunjukkan bagaimana para nabi perempuan dipercayakan dengan berbagai pekabaran lahi yang berotoritas, yang menuntun para pemim- pin bangsa. Meskipun nubuatnya tidak memperkenalkan kebenaran doktrinal baru, itu menerapkan Kitab Suci yang ada pada situasi saat ini, memperkuat prinsip-prinsip perjanjian Allah tentang penghakiman dan belas kasihan. Teladan Hulda mencerminkan peran terhormat yang dapat dipegang wanita dalam penyampaian nubuat Perjanjian Lama, berfungsi sebagai pembawa pekabaran penting akan kebenaran Allah.
5. Pengalaman Ellen G. White mengenai karunia nubuat memiliki banyak kesamaan dengan para nabi Perjanjian Lama.
Pengalaman Ellen G. White dengan karunia nubuat memiliki kesamaan dengan para nabi Perjanjian Lama. Dalam penglihatan keduanya pada bulan Desember 1844, ia meramalkan cobaan dan perlawanan yang akan dihadapi- nya dan awalnya menolak panggilan tersebut. Namun, kata-kata "Beritakanlah kepada orang lain apa yang telah Aku nyatakan kepadamu" terus terngiang dalam pikirannya.——Ellen G. White, Spiritual Gifts, vol. 2, hlm. 36. Karena sifat- nya yang pemalu dan pendiam, Ellen sangat takut untuk membagikan penglihat- annya di depan umum. la berdoa dan mencari dukungan dari teman-temannya, merasa kewalahan dengan tanggung jawab tersebut.
Selama salah satu sesi doa, ia menceritakan pengalaman transformatif: "Saat berdoa, kegelapan pekat yang menyelimuti saya sirna, cahaya terang, seperti bola api, datang menghampiri saya, dan ketika cahaya itu jatuh ke atas saya, kekuatan saya hilang. Saya seolah berada di hadapan Yesus dan para malaikat.
Sekali lagi, diulangi, 'Beritakanlah kepada orang lain apa yang telah Aku nya- takan kepadamu'" *-Ellen G. White, Spirital Gifis, vol. 2, hlm. 37. Meskipun pengalaman ini sangat menguatkannya, ia memohon kerendahan hati, karena takut akan kesombongan, dan diyakinkan bahwa ia akan menderita sakit jika kesombongan muncul. Momen ini memperkuat komitmennya pada panggilan Tuhan.
Di seluruh pelayanannya yang panjang, Ellen G. White menggambarkan dırinya sebagai seorang "juru kabar," menckankan perannya dalam menyampai- kan berbagai pekabaran Tuhan daripada memegang jabatan tertentu. Pada tabun 1903, ia menulis: "Sejak tahun 1844 hingga saat ini saya telah menerima berba- gaı pekabaran dari Tuhan dan telah menyampaikannya kepada umat-Nya. Inilah pekerjaan saya-—untuk memberikan kepada umat terang yang Tuhan berikan kepada saya. Saya diutus untuk menerima dan menyampaikan berbagai peka- baran-Nya. Saya tidak boleh tampil di hadapan umat dengan memegang posisi lain selain sebagai juru kabar dengan sebuah pekabaran"— Testimonies for the Church, vol. 8, hlm. 237.
Terlepas dari karunia luar biasanya, Ellen G. White tetap sangat menyadari kemanusiaannya. Perjuangannya mencerminkan para nabi dalam Alkitab yang menghadapi ketakutan, keraguan, dan penderitaan dalam pelayanan mereka. la selalu menghindari pengagungan diri, berfokus pada penyampaian pekabaran Tuhan dengan setia, bahkan ketıka hal itu mendatangkan kritik atau kesukaran.
Baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam pengalaman Ellen G. White, karunia nubuat adalah panggilan yang mendalam, seringkali disertai dengan cobaan pribadi dan kerendahan hati yang mendalam. Meskipun dipilıh untuk tugas yang luar biasa, para utusan ini tetaplah manusia, mengandalkan kekuatan Tuhan untuk memenuhi misi lahi mereka.
1. Para nabi memanggil umat untuk kembali setia selama kemerosotan rohani. Bidang apa saja yang saat ini membutuhkan suara-suara kenabian?
2. Bagaimana kita dapat menumbuhkan hati yang mendengarkan dan menanggapi pekabaran Tuhan, gantinya menolaknya, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang Israel?
3. Apa pelajaran pribadi yang dapat kita ambil dari kehidupan para nabi, mengenai ketekunan, iman, dan ketaatan kepada panggilan Tuhan?
4. Tuhan menggunakan orang-orang yang tidak sempurna untuk melaksanakan misi lahi-Nya. Bagaimana kebenaran ini memengaruhi cara kita memandang kelemahan dan keterbatasan kita dalam melayani Tuhan?
5. Banyak nabi pada awalnya menolak panggilan mereka, namun Tuhan memaksa mereka untuk berbicara. Pernahkah Anda merasa dipanggil untuk melakukan sesuatu tetapi ragu-ragu? Apa yang membantu Anda untuk maju?
6. Nabi-nabi palsu dalam Perjanjian Lama sering kali mengatakan kepada orang-orang apa yang ingin mereka dengar, bukan apa yang perlu mereka dengar (Ver: 6:14) . Bagaimana kita dapat memastikan bahwa kita mencari kebenaran dan bukan hanya berbagai pekabaran yang menyenangkan?
7. Bagaimana kita, seperti Hulda, dapat menerapkan Firman Tuhan pada situasi kita saat ini dan membimbing orang lain menuju kebenaran?
8. Ellen G. White awalnya menolak panggilannya, sama seperti Musa dan Yeremia. Pernahkah Anda merasa Tuhan menuntun Anda kepada sesuatu di luar zona nyaman Anda? Bagaimana Anda menanggapinya?
9. Ellen G. White menyebut dirinya sebagai seorang juru kabar daripada sebagai nabi, berfokus pada penyampaian berbagai pekabaran Tuhan daripada mengklaim gelar untuk dirinya sendiri. Dalam hal apa ia menjadi seorang juru kabar? Apa yang dapat kita pelajari dari sikap rendah hatinya dalam pelayanan?
Pergi Ke Pelajaran:
Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat