Triwulan 3 Pelajaran 9, 2026. 


Download Powerpoint



PENUNTUN GURU


Bagian I: Tinjauan Umum

Ayat Inti: 2 Korintus 2: 4.

Fokus Pelajaran: 2 Kor. I: 3-14, 2 Kor. 2: 1-17.

Pendahuluan
Di sebuah desa kecil, seorang wanita bernama Anna menjalankan usaha toko roti. Setiap pagi, ia memenuhi udara dengan aroma roti yang baru dipanggang dan rempah-rempah yang hangat. Wangi itu tercium di jalan-jalan, menarik orang-orang untuk datang. Beberapa orang datang dengan antusias untuk membeli, sementara yang lain hanya menikmati aroma yang menenangkan saat mereka lewat.

Namun, tidak semua orang menghargainya. Seorang tetangga, Tuan Grayson, merasa baunya menyengat dan terus-menerus mengeluh. "Aroma ini ada di mana-mana! Saya tidak bisa menghindarinya!" gerutunya.

Suatu hari, selama badai musim dingin yang hebat, listrik padam di desa itu. Banyak orang kedinginan dan lapar, tetapi toko roti Anna memiliki oven berbahan bakar kayu. Ia membuka pintunya, menawarkan kehangatan dan makanan kepada siapa pun yang membutuhkan. Orang-orang mengikuti aroma yang sudah dikenal itu, mengetahui bahwa itu menuntun ke tempat yang nyaman dan memberi makan.

Bahkan Tuan Grayson, yang dulunya mengeluh, mendapati dirinya tertarik. Saat ia menerima sepotong roti hangat, ia menyadari aroma yang sama yang dulu ia benci sekarang menopang hidupnya.

Kekristenan lebih dari sekadar keyakinan mendasar atau refleksi teologis. Ini melibatkan orang-orang, komunitas, dan Allah yang bersama kita di saat-saat tergelap kita atau di puncak kesuksesan kita yang paling tinggi. Dalam surat kedua kepada jemaat Korintus, kita dapat belajar banyak tentang kehidupan dan pelayanan Paulus melalui interaksinya dengan gereja. Kita menyadari, sekali lagi, bahwa lebih dari kata-kata kita, sikap dan hubungan kitalah yang mengomunikasikan keharuman Kristus dan menarik dunia yang merindukan pengharapan.

Tema Pelajaran
Pelajaran pekan ini menyoroti sejumlah tema penting, termasuk yang berikut:
1. Penghiburan Allah dalam Penderitaan: Allah menghibur kita di saat-saat penderitaan dan memampukan kita untuk menghibur orang lain (2 Kor. 1: 3-7).
2. Bergantung pada Allah, Bukan Diri Kita Sendiri: Penderitaan mengajarkan kita ketergantungan pada Allah (2 Kor: 1: 8-11).
3. Integritas dan Kesetiaan dalam Pelayanan: Pelayanan Kristen harus tulus dan mencerminkan kesetiaan Allah (2 Kor: 1: 12-14, 17-22).
4. Pengampunan dan Pemulihan: Pelayanan yang didorong oleh kasih mencari pendamaian, bukan penghukuman (2 Kor. 2; 5-11).
5. Keharuman Kristus: Hidup kita harus menyebarkan pesan Kristus, seperti wangi-wangian yang harum, bahkan jika beberapa orang menolaknya (2 Kor. 2: 14-17).

Bagian II: Komentar

1. Latar Belakang Sejarah 2 Korintus: Kepengarangan Paulus atas surat kedua kepada jemaat Korintus tidak pernah dipertanyakan secara serius dan telah diakui demikian oleh bapa-bapa gereja mula-mula, termasuk Polikarpus (sekitar 155 M), Irenaeus (sekitar 185 M), Klemens dari Aleksandria (sekitar 200 M), dan Tertullianus (sekitar 210 M). Namun, seperti dicatat oleh beberapa orang, 2 Korintus "pasti merupakan surat Paulus dengan rangkaian elemen sejarah, sosial, dan komunal yang paling rumit di belakangnya"-Philip Towner, "Corinthians, Second Letter To dalam The New Interpreter's Dictionary of the Bible, ed. K. Doob Sakenfeld, (Nashville, TN: Abingdon Press, 2006), vol. 1, hlm. 744.

Salah satu alasan komplikasi ini adalah transisi topik yang kurang mulus dan perubahan nada yang tiba-tiba. Surat itu kemungkinan ditulis selama periode waktu yang panjang, saat Paulus melakukan perjalanan melalui Makedonia (2 Kor. 2: 1-12), menghadapi kondisi yang berubah dan mungkin bahkan memperoleh berita tambahan dari gereja. Kondisi dan informasi ini mungkin telah menghasilkan topik tambahan yang tampak tidak terhubung dengan topik lain yang sudah disebutkan.

2. Pelayanan yang Didorong oleh Kasih: Dalam 2 Korintus 1-2, Paulus menyoroti beberapa karakteristik utama dari pelayanan yang didorong oleh kasih. Pengalaman pribadinya, termasuk penderitaan, pengampunan, dan ketu-lusan, menunjukkan bagaimana pelayanan Kristen yang sejati harus dimotivasi oleh kasih Allah, bukan oleh keuntungan atau status pribadi. Sub-kategori berikut dapat ditemukan dalam teks alkitabiah dan dapat didiskusikan dalam kelompok Sekolah Sabat Anda:

a. Belas Kasihan dan Penghiburan (2 Kor. 1: 3-7): Paulus menggambarkan Allah sebagai "Bapa yang penuh belas kasihan" dan "Allah sumber segala peng-hiburan" (2 Kor. 1: 3). Belas kasihan dan penghiburan adalah apa yang Paulus terima dari Allah dalam pencobaannya sendiri. Dengan demikian, sang rasul mampu menyalurkan belas kasihan yang sama ini kepada orang-orang di seki-tarnya, termasuk gereja-gerejanya. Pelayanan yang didorong oleh belas kasihan memberikan penghiburan kepada orang lain, sama seperti Allah menghibur kita dalam penderitaan kita (2 Kor. 1: 4). Pelayanan bukanlah tentang kekuasaan atau kendali, melainkan tentang berbagi dalam rasa sakit orang lain dan menuntun mereka kepada Kristus. Paulus mengingatkan jemaat Korintus bahwa penderitaannya sendiri memungkinkannya untuk lebih memahami dan melayani orang lain yang menderita (2 Kor: 1: 6).

b. Bergantung pada Allah, Bukan Diri Sendiri (2 Kor: 1: 8-11): Di bagian kedua dari prolog (atau bagian salam) ini, Paulus mengingat masa ketika ia berada di bawah tekanan ekstrem, melampaui kekuatannya, bahkan berputus asa akan hidupnya (2 Kor: 1: 8). Alih-alih mengandalkan dirinya sendiri, ia percaya kepada Allah, yang memiliki kemampuan untuk membangkitkan orang mati (2 Kor: 1: 9). Perumpamaan kebangkitan digunakan di sini untuk menunjukkan bahwa Allah mampu melakukan (dan memang melakukan) hal yang mustahil ketika kita mengandalkan Dia. Pelayanan yang didorong oleh kasih bergantung pada kuasa Allah, bukan kemampuan manusia. Paulus mengundang pendengarnya (dan kita juga) untuk tidak bertindak seolah-olah mereka memiliki semua jawaban, melainkan untuk menuntun orang-orang agar percaya kepada Allah, yang melepaskan anak-anak-Nya dari pencobaan (2 Kor: 1: 10).

c. Integritas dan Ketulusan (2 Kor. 1: 12-14): Paulus bersikeras bahwa pelayanannya dilakukan dengan kekudusan, ketulusan, dan transparansi, bukan dengan hikmat duniawi tetapi oleh kasih karunia Allah (2 Kor: 1: 12). Paulus membela diri terhadap tuduhan tidak dapat diandalkan dan tidak konsisten, meyakinkan jemaat Korintus bahwa ia tidak menipu ketika mengubah rencana perjalanannya (2 Kor. 1: 15-18). Integritas dan ketulusan ini didasarkan pada kesetiaan Allah dan menjadi jelas dalam khotbah Paulus yang berpusat pada Kristus, sebagaimana dirujuk dalam 1 Korintus 1: 20: "Sebab Kristus adalah 'ya' bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan 'Amin' untuk memuliakan Allah." Pelayanan yang didorong oleh kasih tidak memanipulasi atau menipu, tetapi bertindak dengan kejujuran dan integritas.

d. Kesetiaan pada Janji Allah (2 Kor. 1: 18-22): Paulus menekankan bahwa janji Allah selalu "Ya" di dalam Kristus (2 Kor. 1: 20). Pelayanan yang didorong oleh kasih berfokus pada kesetiaan Allah, bukan ketidakkonsistenan manusia. Pekerjaan Roh Kudus menggambarkan tiga kegiatan utama. Pertama, la "mene-guhkan" orang percaya (2 Kor. 1: 21). Kata kerja yang digunakan di sini dalam bentuk waktu sekarang (present tense), yang menunjukkan efek yang berke-lanjutan. Kedua, orang percaya telah "diurapi" untuk dapat membagikan kabar baik kepada dunia, seperti yang akan dilakukan imam atau orang Lewi dalam Perjanjian Lama. Akhirnya, Roh memeteraikan orang-orang percaya di dalam hati mereka sebagai milik Allah sendiri (2 Kor. 1: 22), meyakinkan mereka akan komitmen-Nya. Paulus menggambarkan meterai ini sebagai "jaminan" (atau uang muka, bahasa Yunani arrabõn) (2 Kor: 1: 22), sehingga orang percaya dapat yakin akan kepercayaan Allah dan janji-janji-Nya yang tidak berubah.

e. Pengampunan dan Pendamaian (2 Kor. 2: 5-11): Paulus mendesak jemaat Korintus untuk mengampuni dan memulihkan anggota gereja yang bertobat yang telah menyebabkan rasa sakit (2 Kor: 2: 6, 7). Gereja yang dimotivasi oleh kasih mencari pendamaian, bukan hukuman atau balas dendam. Paulus kemudian melanjutkan dengan menyatakan bahwa roh yang tidak mau mengampuni memberi Iblis pijakan di dalam gereja (2 Kor. 2: 11). Alih-alih menyimpan dendam, pelayanan yang didorong oleh kasih berusaha memulihkan hubungan yang rusak dengan kasih karunia dan belas kasihan.

3. Keharuman Kristus (2 Kor. 2: 14-17): Aroma berkomunikasi secara nonverbal. Misalnya, aroma tidak sedap mengusir kita. Sebaliknya, aroma harum itu menarik dan dapat menyentuh emosi kita secara mendalam. Aroma hidangan favorit dapat membangkitkan emosi yang telah lama terlupakan dalam diri kita, mengingatkan kita akan rumah, keluarga, atau perayaan. Aroma penting dalam konteks budaya dunia alkitabiah, karena sering kali berfungsi sebagai perpanjangan dari kepribadian pembawanya. Imam dan raja (serta tempat kudus) diurapi dalam Perjanjian Lama, dan komposisi minyak urapan menyarankan aroma yang kuat (bandingkan dengan Kel. 30: 22-33), yang mengandung kayu manis, mur, tebu, dan kayu teja. Juga lazim adalah ritual pengurapan orang atau lokasi tertentu sebagai milik Allah, yang keharumannya sekarang mereka bawa.

Paulus menggunakan metafora keharuman sehubungan dengan prosesi kemenangan (menghubungkannya dalam pikiran pendengarnya dengan prosesi kemenangan Romawi yang terkenal). Selama kemenangan ini, bukti kemenangan diperlihatkan. Bagi Paulus, gereja Korintus dengan segala kelemahan dan tantangan internalnya—adalah bukti keberhasilan pemberitaannya dalam menghadapi pencobaan (2 Kor. 2: 14). Selain itu bagi Paulus, orang-orang percaya adalah "persembahan dupa yang keharumannya, disebarkan di setiap tempat, adalah pengetahuan yang menyelamatkan tentang Kristus" "2 Corinthians" dalam Andrews Bible Commentary, ed. Ángel Manuel Rodríguez et al. (Berrien Springs, MI: Andrews University Press, 2022), hlm. 1.665. Pelayanan harus menarık orang kepada Kristus, sama seperti aroma manis memenuhi ruangan. Namun, bagi sebagian orang, Injil adalah pelanggaran, seperti bau kematian (2 Kor. 2: 16).

Bagian III: Penerapan Hidup

Pelayanan yang didorong oleh kasih dapat menjangkau mereka yang merindukan pengharapan. Jenis pelayanan ini membutuhkan belas kasihan, integritas, ketulusan, dan kesetiaan pada janji Allah. Pada akhirnya, mereka yang telah berjumpa dengan Yesus dan diubahkan oleh-Nya akan menjadi seperti keharuman yang menarik orang lain yang mencari keselamatan. Pasal-pasal awal dari surat kedua Paulus kepada jemaat Korintus memperkenalkan jenis pelayanan ini, saat Paulus menyampaikan argumen untuk pelayanannya sendırı. Berdasarkan 2 Korintus 1-2, diskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut dalam kelompok Sekolah Sabat Anda:

1. Mengapa belas kasihan dan kasih karunia penting untuk pelayanan yang didorong oleh kasih? Teladan apakah yang dapat kita temukan dalam Kitab Suci yang mengilustrasikan karakteristik ini?
2. Banyak dari kita tidak suka bergantung pada orang lain. Mengapa penting untuk belajar ketergantungan satu sama lain di gereja kita?
3. Paulus berulang kali menyoroti transparansi dan integritas dalam urusannya dengan gereja dan individu. Mengapa integritas begitu penting dalam hubungan kita?
4. Apakah pentingnya janji Allah dalam hidup Anda? Bagaimanakah Anda akan menjelaskan kepada teman yang tidak bergereja bahwa janji-janji-Nya dapat dipercaya?
5. Mahatma Gandhi konon menyatakan, "Orang lemah tidak akan pernah bisa memaafkan. Memaafkan adalah sifat orang kuat." Mengapa pengampunan penting dalam hubungan kita, di dalam dan di luar gereja?



Pergi Ke Pelajaran:

Sabtu · Minggu · Senin · Selasa · Rabu · Kamis · Jumat


Penuntun Guru

Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp