Berita Misi Anak, 25 Juli 2026.

Mauricio dari Spanyol.
Tip Cerita:
- Tunjukkan Spanyol di peta, lalu tunjukkan Sagunto, sebuah kota kecil di dekat Valencia, di pesisir timur. Kampus Advent Sagunto yang pernah menerima bagian dari Persembahan Sabat ke-13 pada triwulan pertama tahun 2020 untuk memperluas jurusan teologi.
- Sebutkan pengucapan Mauricio dengan benar: MAU-ree-si-o.
- Tonton video YouTube tentang Mauricio saat potong rambut dalam kisah ini di: bit.ly/Mauricio-EUD.
- Tukang pangkas rambut bukan satu-satunya orang yang pernah diajak Mauricio ke gereja. Ia juga sering mengundang tetangganya yang berusia 52 tahun, seorang pemilik dealer mobil, dan berkata bahwa lebih baik pergi ke gereja daripada berjualan mobil pada hari Sabat. Meskipun tetangganya itu belum pernah datang, Mauricio tidak menyerah.
- Mauricio sangat gemar membaca Alkitab. Ia membaca bersama keluarganya saat ibadah pagi dan malam, lalu melanjutkan sendiri sebelum tidur. Ia memiliki beberapa Alkitab bergambar anak-anak dalam bahasa Spanyol dan Portugis.
CERITA:
Pada musim panas 1903, saudara Frank dan Walter Bond tiba dari California dan menetap di Catalonia. Meskipun tidak menguasai bahasa lokal (masyarakat setempat berbicara bahasa Catalan), mereka mulai bekerja dengan pengetahuan bahasa Spanyol yang terbatas. Mereka membuka sekolah, dan pada Juni 1904, tiga orang dibaptis.
Mauricio adalah anak laki-laki berusia tujuh tahun yang tinggal di Spanyol. Ia sangat suka berbicara tentang Yesus kepada siapa pun yang mau mendengarkan.
Suatu hari, ibunya mengajak Mauricio ke tempat pangkas rambut. Tukang pangkas itu mempersilakan Mauricio duduk di kursi tinggi di samping dinding bata putih. Setelah Mauricio naik dan duduk, tukang pangkas itu membungkuskan kain panjang bermotif hitam putih di lehernya agar potongan rambut tidak menempel di baju. Mauricio menatap cermin di depannya saat tukang pangkas mulai memotong rambutnya dengan gunting.
"Snip, snip, snip."
"Klip, klip, klip."
Tidak butuh waktu lama sampai Mauricio mulai berbicara. Saat potongan rambut cokelatnya berjatuhan ke lantai, ia memulai percakapan dengan tukang pangkas, seorang pemuda berambut hitam pendek. Siang itu adalah hari Jumat yang panas, dan tukang pangkas mengenakan kaus hitam serta celana pendek.
Mauricio bertanya tentang rencana tukang pangkas untuk hari berikutnya—hari Sabat.
"Aku akan buka toko besok," jawab tukang pangkas.
Mauricio langsung berpikir bahwa itu tidak benar.
"Anda tidak seharusnya melakukannya," katanya. "Anda harus pergi ke gereja, bukan membuka tempat pangkas rambut."
Tukang pangkas itu terkejut, tetapi tetap menjawab dengan sangat sopan.
"Kenapa?" katanya. "Mengapa saya harus pergi ke gereja?"
"Karena di sana Anda akan belajar tentang Yesus," jawab Mauricio. "Anda harus datang ke gereja setiap Sabat dan membawa Alkitab."
"Tetapi saya tidak punya Alkitab," kata tukang pangkas itu. "Apakah saya tetap boleh datang?"
"Tentu saja boleh," kata Mauricio. "Anda boleh datang meskipun belum memiliki Alkitab."
Namun dalam hati, Mauricio berpikir bahwa sebaiknya tukang pangkas itu memiliki Alkitab sendiri.
"Anda harus membaca Alkitab setiap hari, dan Anda juga harus berdoa," katanya.
Tukang pangkas tersenyum dan bertanya, "Apakah Anda membaca Alkitab setiap hari?"
"Tentu saja!" jawab Mauricio dengan yakin.
Snip, klip, snip, klip.
Drrrrrrrrr.
Tukang pangkas menyalakan alat pangkas listrik dan merapikan rambut di leher Mauricio.
Mauricio kemudian memperhatikan musik yang diputar di tempat itu. Ia pernah diajarkan bahwa tidak semua musik cocok untuk hari Sabat.
"Pada hari Sabat, Anda tidak seharusnya mendengarkan musik seperti ini," katanya polos. "Pada hari Sabat, Anda harus mendengarkan musik tentang Tuhan."
Drrrrrrrrr.
Tukang pangkas tetap bekerja, sambil tersenyum mendengarkan nasihat kecil dari pelanggannya yang berumur tujuh tahun itu.
Mauricio pun mengundangnya datang ke gereja. Ia berkata bahwa gereja adalah tempat yang menyenangkan.
"Anda harus datang, karena saya sangat senang di gereja," katanya dengan semangat.
Setelah selesai memotong rambut, tukang pangkas melepaskan kain panjang berwarna hitam putih dari leher Mauricio, memperlihatkan hasil potongannya di cermin, lalu berkata sambil tersenyum lebar, "Baiklah, kita akan bertemu di gereja."
Tukang pangkas itu memang tidak datang ke gereja keesokan harinya, tetapi Mauricio tidak kecewa. Ia sudah berencana untuk mengundangnya lagi saat potong rambut berikutnya.
"Ya, saya akan mengajaknya lagi," katanya bersemangat.
"Saya juga ingin memberinya Alkitab adik perempuan saya, atau mungkin Alkitab kecilku sendiri. Tetapi saya tidak bisa memberikan Alkitab besarku—saya sangat menyukainya. Lagi pula, apa yang akan saya baca kalau diberikan kepadanya?"
Mauricio bersekolah di kampus yang pernah menerima sebagian dari Persembahan Sabat Ketiga Belas yang juga dikenal sebagai Persembahan Proyek Misi Triwulanan. Kampus itu mencakup sekolah dasar, sekolah menengah, dan perguruan tinggi Advent di Sagunto, dekat Valencia, Spanyol.
Persembahan Sabat ke-13 triwulan ini akan membantu lebih banyak orang di Spanyol dan di negara lain dalam Divisi Inter-Eropa untuk mengenal Yesus. Terima kasih atas persembahan Anda yang murah hati!